Review Indonesia U-22 0-3 Malaysia U-22: Ada Apa dengan Timnas Asuhan Luis Milla?

Indonesia harus menelan kekalahan telak 3-0 dari Malaysia dalam laga perdana mereka di kualifikasi Piala Asia U-23. Apa masalah yang menggelayuti timnas?

Mengecewakan. Satu kata tersebut sudah pasti terselip untuk mereka yang menonton pertandingan pembuka kualifikasi grup Pra-Piala Asia U-23 kemarin sore (Rabu, 29/7). Bayangkan saja, baru masuk menit 30 di babak pertama, tim nasional kita sudah kebobolan tiga gol tanpa balas. Padahal, jika boleh menilai secara jujur, permainan Malaysia sebetulnya tak spesial-spesial amat.

Sebelum pertandingan, salah satu penyerang Malaysia (yang juga akhirnya mencetak gol ke gawang Indonesia), yaitu Muhammad Syafiq Ahmad, mengungkapkan bahwa, “Saya lebih merisaukan Myanmar, selain Thailand dan Vietnam. Mereka sudah membuktikannya lolos ke final (SEA Games 2015) di Singapura.”

Sialnya, pernyataan yang tak terlalu mewaspadai Indonesia tersebut terbukti apa adanya.

Indonesia sendiri awalnya bisa dibilang terus berupaya untuk menguasai bola dan mengalirkan umpan dari kaki ke kaki. Fase build-up dari lini belakang menuju lini tengah memang terlihat mulai terbangun, namun koordinasi build-up tersebut posisinya terlalu rendah alias lebih banyak bergerak sebelum garis tengah lapangan terlewati. Singkatnya, Indonesia lebih banyak bermain di areanya sendiri.

Ini tentu andil dari para pemain Malaysia yang mencoba bermain zonal marking serta menerapkan pressing yang lebih baik. Ketika pressing Malaysia berhasil, lini tengah Indonesia yang dihuni oleh Hargianto, Hanif Sjahbandi, serta Gian Zola kerap kesulitan untuk masuk ke area sepertiga akhir penyerangan Indonesia.

Kondisi ini tentu tak menyenangkan bagi pemain Indonesia di lapangan. Selain tertekan karena kesulitan keluar dari strategi ketat lawan, sialnya hal ini diperburuk dengan kondisi mental yang hancur lebur pasca kebobolan cepat di menit ketiga. Ialah Syafiq Ahmad sang penabur luka tersebut. Sontekannya memanfaatkan buruknya koordinasi para bek timnas kita.

"Gol pertama [Malaysia] yang buat kami kesulitan, tadi pertandingan sekitar 20 menit membuat kami kesulitan akhirnya secara mental kami tidak terlalu siap dan bagus. Masih ada dua pertandingan lagi yang harus kami menangkan," ungkap Luis Milla, pelatih Indonesia.

Problem mental yang menggelayuti seluruh pemain karena kebobolan cepat sejatinya takkan terjadi jika koordinasi lini belakang dan kiper sudah terjalin baik. Dalam aspek membangun serangan, lini belakang kita memang tak buruk, namun mengorganisasikan pertahanan saat diserang lah titik lemah dari timnas kita.