Kisah

Richarlison yang Menolak Menjadi Lelucon

Satu lagi pesepakbola Brasil yang siap membuktikan kemampuannya di Eropa bersama Everton meski transfernya sempat jadi bahan lelucon...

We are part of The Trust Project What is it?

Richarlison de Andrade tumbuh di lingkungan yang buruk. Nova Venecia, kota di sebuah negara bagian Brasil tempat ia dilahirkan adalah kota yang berisikan para pemadat dan pengguna senjata. Kawan-kawannya bahkan banyak yang terjerumus ke jalan itu. “Di tempat saya banyak orang yang menggunakan narkoba dan senjata,” kenangnya kepada FourFourTwo, April lalu.

Makin parah, keluarganya juga bukan orang yang berada dan, pada titik tertentu agak bermasalah. Kedua orang tuanya terpaksa berpisah saat ia belum berusia 10 tahun. Di masa-masa ini pula Richarlison mesti mengambil keputusan besar dan berat dalam hidupnya: memilih tinggal bersama ayah atau dengan ibu.

“Ayah dan ibu saya berpisah, dan dia (ibu) kemudian akan pindah dari Nova Venecia,” kata Richarlison. “Saya sudah berada di atas truk (bersama ibu) yang akan segera berangkat untuk pindah, tapi saya melompat turun dan berlari ke ayah saya.” 

Bukan tanpa alasan Richarlison memilih tinggal bersama sang ayah. Ayahnya itu, yang bernama Antonia Carlos, sering mengajaknya melihat pertandingan sepakbola. Lebih dari itu, sang ayah merupakan pesepakbola di liga amatir yang bermain untuk tim asal Vila Pavao. Ia ingin menekuni dunia yang sama. “Saya tahu ibu tidak akan bermain sepak bola atau membawa saya ke pertandingan, jadi saya pergi bersama ayah dan tinggal bersamanya sampai saya berumur 10 tahun.”

Walau demikian, Richarlison tak ingin sekadar menjadi lelucon dengan bermain di tingkat yang sama dengan sang ayah. Ia ingin lebih baik demi memperbaiki nasib. Dan seperti anak-anak Brasil lain yang tumbuh di kawasan miskin, menjadi pesepakbola profesional adalah salah satu jalannya.

“Sepak bola, permainan yang saya mainkan sejak saya kecil, hanya itu yang bisa saya pikirkan. Setiap Senin saya akan berlari sejauh 9 kilo meter ke tempat berlatih, entah itu di bawah terik matahari atau hujan. Saya tidak ingin melakukan hal lain,” katanya.

Pada akhirnya, keinginan Richarlison untuk menjadi pesepakbola profesional telah tercapai. Setelah tampil apik bersama Real Noroeste di turnamen usia muda, America Mineiro langsung mendatangkan dirinya. Di sana, ia bermain di tim akademi terlebih dahulu sebelum kemudian diikat dengan kontrak sebagai pemain profesional.  

Karier Richarlison kemudian terus melonjak dengan sangat cepat. Ia sempat bermain di Fluminense selama dua musim, lalu pindah ke Eropa pada usia 20 tahun untuk bermain di Premier League bersama Watford, dan kini telah menandatangani kontrak berdurasi panjang di Everton.

Namun, jika dulu Richarlison ingin menjadi pesepakbola profesional agar tak menjadi lelucon kehidupan, ia kini justru sempat dianggap sebagai bagian dari lelucon itu sendiri.