Rio Ferdinand Adalah Pemain Terbaik di Generasinya

Mantan bek Manchester United dan Leeds mengumumkan ia akan gantung sepatu untuk selamanya beberapa pekan lalu, tapi Alex Hess mengatakan bahwa minimnya perhatian pada sosok Rio Ferdinand merupakan hal yang aneh...

Rio Ferdinand telah memenangkan enam gelar liga, tiga Piala Liga, Piala FA dan satu Liga Champions. Dia telah bermain di dua Piala Dunia, mencatat 81 penampilan internasional dan bermain di level tertinggi sepak bola Inggris selama dua dekade. Dia adalah seorang jutawan. Pada akhirnya, tampaknya sulit untuk melukiskan dirinya sebagai korban dari keadaan.
 
Namun, dengan perjalanan waktu, itulah yang terjadi. Akhir pekan lalu Ferdinand mengumumkan pensiun, dan keputusannya itu tidak mengundang banyak gembar-gembor. Mengingat karir-nya yang berkilauan, minimnya penghormatan untuk merangkum perjalanan karirnya akan mengundang perhatian kita, tapi yang membuatnya jadi lebih menonjol adalah penghargaan untuk prestasinya yang membanggakan juga tidak mungkin dilupakan

Noda Generasi Emas Inggris

Publik Inggris mungkin merasa kecewa dengan Generasi Emas mereka saat tampil buruk di Piala Dunia, tapi dalam beberapa bulan terakhir situasi berubah menjadi sentimental. Tiba-tiba, sepak bola Inggris seperti merasa tidak akan memiliki sekumpulan pahlawan seperti itu lagi. Hanya Ferdinand yang tidak mendapatkan perhatian besar-besaran. Bandingkan situasi Rio dengan rekan-rekannya dan anda akan segera melihat bahwa ada sesuatu yang tidak adil terjadi di sini.

Ferdinand bermain lebih dari 450 pertandingan bagi United, memenangkan enam gelar liga dan satu Liga Champions

Hanya Ferdinand yang tidak mendapatkan perhatian besar-besaran

Seperti yang terlihat dalam enam bulan terakhir, Steven Gerrard, kepergian seorang dewa Premier League, dengan mudah mendapatkan keabadian dari nama besarnya. Cerita perpisahannya dengan Inggris terus menghiasi media selama enam bulan, cukup wajar, dengan dia berjalan melewati barisan penghormatan para pemain Liverpool dan bicara di depan pendukungnya, dan tingkat penghormatan untuk dirinya di seluruh media Inggris sejak ia mengumumkan akan pergi ke MLS belum pernah terjadi di sepakbola Inggris.
 
Hal serupa juga terjadi untuk Frank Lampard, legenda Premier League asli Inggris lainnya. Lampard sedikit berbeda karena penghormatan untuk dirinya lebih bicara soal rasa hormat daripada pemujaan berlebihan, namun semuanya bisa terlihat dengan jelas. Setelah penampilan terakhirnya di Premier League, Lampard diangkat dan dilempar ke udara oleh rekan-rekan setimnya di Manchester City, sementara pemberitaan mengenai fokus dan kerja kerasnya bisa dibuat seperti novel Rusia.
 
Penghormatan itu sepertinya tidak akan didapatkan John Terry. Tapi Terry mendapatkan rasa hormat yang mendalam, meski tidak berlebihan, dalam sepakbola Inggris. Dan itu ada benarnya, kapasitasnya untuk menggabungkan keberhasilan dengan karir jangka panjang tak tertandingi oleh teman-temannya. Setelah musim yang bagus dan kembali mengangkat trofi, Terry dipilih jurnalis sepakbola Inggris sebagai pemain terbaik ketiga. Posisinya dalam pangung kehormatan sepakbola Inggris aman, meski ia tidak terlalu dicintai di luar London barat.

PFA Merit Awards untuk Lamps dan Stevie G

Melihat Generasi Emas lainnya dan kita akan melihat semakin banyak warisan dari mereka. Performa hebat Ashley Cole sudah cukup untuk mengalihkan perhatian dari citranya yang buruk di luar lapangan, dan bek kiri ini dipuja karena kerap diremehkan. Ia juga memenangkan hati pendukung Inggris karena menjadi satu-satunya pemain yang tampil konsisten di laga besar. Wayne Rooney akan pensiun sebagai pencetak gol terbanyak untuk tim nasional Inggris sepanjang masa dan pemain dari klub yang paling berprestasi di Inggris. Bahkan Michael Owen, yang akhir karirnya melempem, menyumbangkan dua momen yang sangat luar biasa di masa lalu sepakbola Inggris.

Gaya Bermain Sederhana

Ferdinand mungkin tidak mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan penghormatan serupa, namun dalam beberapa hal ia adalah pemain yang paling unik. Ferdinand - bersama Ashley Cole - menjadi pemain hebat yang tidak terlalu mendapatkan banyak perhatian. Sementara keberhasilan Lampard, Terry, Rooney dan Gerrard semuanya terlihat dari keringat, gol dan kepalan tangan ke udara, permainan Rio lebih soal ketenangan, kesederhanaan dan harmonisasi dengan rekan setimnya. Menurut pengakuannya sendiri permainan Ferdinand diibaratkan seperti 'clean shorts', yang artinya bahwa menyingkirkan masalah di sekitar mulut gawang adalah tugas utama seorang bek, tapi lebih penting untuk tidak mendapatkan masalah karena kesalahan sendiri.

Kepercayaan Ferguson kepada Ferdinand tidak pernah diragukan

Ini adalah metode yang memastikan dirinya layak menjadi penerus Jaap Stam - dan itu menunjukkan mengapa Alex Ferguson tidak pernah membuang Ferdinand. "Pemain terbaik yang pernah bermain dengan saya," adalah pendapat Gary Neville, yang merupakan bagian dari lini pertahanan Manchester United 2008/09 yang mencatatkan rekor 11 clean sheet beruntun yang masih bertahan hingga kini.
 
Ferdinand juga merupakan seorang pemimpin. Sekali lagi, bukan pemimpin yang meledak-ledak, yang menjadi ciri khas pemain Inggris. Sebaliknya, ia merupakan kapten yang memimpin dengan contoh tanpa harus menjadi pemain pemain yang paling menonjol. Ironisnya untuk pemain yang sempat dilok-olok karena kurang cerdas di awal karirnya, Rio merupakan salah satu pemain dalam generasinya yang lebih mengandalkan otaknya daripada keberanian (hati).

Terlalu Mudah

Sebagai salah satu lulusan Generasi Emas Inggris, ia harus ditempatkan di sana bersama yang terbaik.

Mungkin gaya bermainnya yang sederhana itu jadi alasan kenapa ia kurang mendapatkan penghormatan saat pensiun. Mungkin gaya bermainnya yang tidak menguras keringat membuat dunia olahraga Inggris tidak terlalu terkesan dengan prestasinya.
 
Ada teori lainnya yang menyebutkan bahwa Ferdinand menjadi bek yang gemilang karena dia tidak memaksimalkan bakat awalnya - pemain dengan insting menyerang yang bisa memainkan bola yang membuatnya menjadi pemain muda yang dilirik Old Trafford dan bisa menjadi Beckenbauer dan Baresi-nya Inggris, tapi ia lebih memilih menjadi tembok bata.
 
Ini mungkin ada benarnya, tapi ini alasan yang terlalu spekulatif untuk dijadikan kritik. Berbagai faktor di luar kontrol Ferdinand - yaitu, sepakbola Inggris membuat para pemain bek tidak bisa tampil kreatif dan berani ambil resiko seperti yang terlihat di akhir-akhir masa kepemimpinan Ferguson di Old Trafford.

"Ini sangat mengganggu untuk dibawa"

Tapi alasan yang paling mungkin di balik alasan mengapa sepakbola Inggris mengesampingkan Ferdinand adalah fakta sederhana bahwa karirnya di level klub tidak melibatkan kontribusi besar seperti rekan-rekannya. Steven Gerrard adalah ikon dari kebangkitan Liverpool dalam dunia sepakbola - situasi sulit di klubnya menunjukkan seberapa besar loyalitasnya - sementara karir Lampard dan Terry  melambangkan tatanan sepakbola baru yang mengandalkan kekuatan uang yang dibawa Roman Abramovich.

Ferdinand tidak pernah menjadi tokoh utama dalam drama laga-laga besar, dia bergabung dengan Manchester United sebagai bek berkelas dunia ketika United menjadi raksasa juara. Ferdinand bukanlah agen perubahan, atau simbol apa pun yang lebih besar atau megah dari dirinya sendiri. Terlepas dari noda karirnya di QPR, kisah karir Ferdinand adalah salah satu yang sederhana dan akan terus abadi, yang akan dikatakan oleh penulis naskah manapun kepada anda, tanpa cerita spesial.
 
Tapi apa pun yang dikatakan televisi dan ditulis di halaman depan koran, sepakbola bukan Hollywood, dan karir Ferdinand tidak perlu dinilai atas dasar drama atau alur cerita. Sebagai salah satu lulusan Generasi Emas Inggris, ia harus ditempatkan di sana bersama yang terbaik.

Baca artikel pilihan seperti ini setiap harinya di FFT.com