Rivalitas Persebaya dan Arema: Kisah Tentang Derby Terpanas di Jawa Timur

Sejak kapan rivalitas kedua tim terbentuk? Mengapa rivalitas kedua kubu suporter sebetulnya sudah terjadi sebelum kedua tim bertemu secara resmi di lapangan? Renalto Setiawan memberikan kisahnya...

Arif Fajar Wibowo merupakan seorang Aremania, sebutan untuk penggemar Arema Malang, dari kota Salatiga, Jawa Tengah. Pada tahun 2010 lalu, seolah seperti mendengarkan bisikan angin yang membawa kabar rindu dari Stadion Kanjuruhan, Malang, markas Arema, dia memutuskan untuk berangkat ke kota Malang. Sebelumnya dia pernah sekali datang ke sana, menempuh jarak sekitar 300 km untuk menyaksikan Arema berlaga melawan Persib Bandung.

Dia berangkat dari Salatiga hari Jumat, jam enam sore, dan sampai di Stadion Kanjuruhan hari Sabtu, sekitar jam setengah delapan pagi. Saat sampai di sana, Kanjuruhan sudah sangat ramai. Para pedagang yang menjual pernak-pernik Arema sudah bersiap untuk menawarkan barang dagangannya, loket tempat dijualnya tiket pertandingan sudah dipenuh oleh antrean yang mengular, seolah seperti sebuah terowongan yang bersiap menyambut kedatangan kereta api dengan sepuluh gerbong, dan para calo tiket, sambil tersenyum, mondar-mandir untuk mencari mangsa. Jojon, sapaan akrab Arif Fajar Wibowo, bersama seorang temannya kemudian menjadi korban para calo tersebut.

“Sampai sana tiket sudah habis. Terpaksa beli dari calo. Tiket seharga tiga puluh lima ribu menjadi enam puluh ribu. Beli dua jadinya habis seratus dua puluh ribu,” katanya sambil tertawa.

Setelah mendapatkan tiket, Jojon kemudian masuk ke stadion pada pukul 12 siang. Dia terkejut saat mendapati lebih dari setengah kapasitas Stadion Kanjuruhan sudah terisi oleh Aremania. Padahal pertandingan baru akan dimulai pada pukul tujuh malam.

Bahkan, saat itu tak sedikit dari Aremania yang sudah menabuhkan genderang perang. “Bonek jancuk dibunuh saja,” salah satu chant andalan Aremania, sudah dikumandangkan di dalam stadion Kanjuruhan tujuh jam sebelum pertandingan dimulai.

Ya, hari itu Arema memang akan menjamu Persebaya Surabaya, musuh bebuyutan mereka, dalam lanjutan ISL musim 2009/10.

Sementara itu, Bagus, seorang Bonek, julukan penggemar Persebaya, dari Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, memang belum pernah sekali pun menyaksikan Persebaya berlaga secara langsung dari tribun stadion. Namun, Bagus dan Persebaya adalah sesuatu yang tak dapat dipisahkan.  Bermodal sedikit bakat dalam menggambar, Bagus pernah membuat mural Ndas Mangap, simbol Bonek, di tembok pemandian umum yang tak jauh dari tempat tinggalnya. Pun demikian ketika dia disuruh melukis anyaman bambu di rumah tetangganya. Dia melakukannya dengan sukarela.

Bagi keduanya, baik Jojon maupun Bagus, jarak memang tak memengaruhi kecintaan mereka terhadap Arema dan Persebaya

“Saya dilahirkan untuk jadi Bonek,” begitu kata Bagus yang juga mengaku selalu merasa menyesal setiap melewatkan pertandingan-pertandingan Persebaya yang disiarkan secara langsung oleh stasiun televisi swasta.

Bagi keduanya, baik Jojon maupun Bagus, jarak memang tak memengaruhi kecintaan mereka terhadap Arema dan Persebaya. Secara emosional, jarak berhasil mereka tiadakan. Namun jika berbicara tentang rivalitas antara dua tim kesayangan mereka, jarak bisa menjadi sebuah anomali. Seringkali jarak menjadi tolok ukur tentang tim mana yang paling hebat.

Secara geografis, jarak antara kota Malang dan Surabaya begitu dekat, bisa ditempuh dalam satu injakan pedal gas (sekitar dua jam perjalanan darat). Dua kota tersebut juga merupakan kebanggaan provinsi Jawa Timur. Dengan daya tarik masing-masing, tak sedikit wisatawan dari provinsi lain meluangkan waktu mereka untuk menikmati kehidupan di kedua kota tersebut.  Tapi rivalitas kedua kota tersebut dalam sepakbola, terutama rivalitas antara Arema dan Persebaya, membuat kedua kota tersebut sulit untuk bergandengan tangan. Bahkan, Bagus dan Jojon yang tidak tinggal di kedua kota tersebut pun ikut merasakannya.

Mural buatan Bagus

Setiap Bagus bermain sepakbola di kampungnya, dia tidak pernah mau bermain satu tim dengan temannya yang mengaku sebagai seorang Aremania. Meski Bagus tidak begitu mahir saat bermain bola, jika ada seorang Aremania di tim lawan, dia selalu berusaha sekuat tenaga agar dapat mengalahkannya.

Tak jauh berbeda, Jojon memutuskan datang ke Kanjuruhan karena Arema akan bertanding melawan Persebaya.  Saat itu, melalui tendangan penalti Pierre Njanka, Arema menang, 1-0. Jojon mengatakan bahwa menonton secara langung pertandingan Arema melawan Persabaya tersebut merupakan salah satu pengalaman yang paling berharga di dalam hidupnya. Bagaimana tidak, pertandingan tersebut adalah salah satu bagian dari perjalanan Arema untuk menjadi juara ISL musim 2009/10 dan terdegradasinya Persebaya ke Divisi Utama.

Yang kemudian menjadi pertanyaan: Sejak kapan rivalitas tersebut menjadi bagian dari kehidupan Arema (dengan Aremania-nya) dan Persebaya (dengan Bonek-nya)?

Pages