Rivalitas Terpanas di Asia: Saat Sepakbola Berujung Pertumpahan Darah

Rivalitas dan laga derby adalah bagian dari sepakbola di seluruh dunia dan itu tidak berbeda di Asia, yang memiliki beberapa rivalitas tersengit di dunia.

Apa yang membuat laga derby begitu istimewa adalah ketika kita melihat dari aksi para suporter di tribun. Stadion penuh warna dan keriuhan; itulah yang dialami mereka yang melihatnya secara langsung.

Yang dilakukan oleh para suporter adalah yang membuat laga derby menjadi spesial, aksi mereka juga berujung menjadi momen yang menakutkan ketika mereka menghargai kemenangan melawan klub rival melebihi sebuah dari nyawa.

Di sini kita akan mengulas tiga persaingan terbesar di Asia dan sejarah hitam mereka...

El Classico Indonesia

Ini terjadi pada Mei 2012 dan kala itu Persib Bandung telah mencetak gol peyeimbang skor melawan rival sengit mereka, Persija Jakarta di Stadion Gelora Bung Karno, kandang Persija Jakarta.

"Kami meninggalkan stadion dengan sebuah kendaraan lapis baja," ujar Robbie Gaspar, yang saat itu statusnya adalah pemain pengganti Persib yang tidak bermain di hari itu. "Anda hanya bisa mengangkut 10 atau 12 orang di sana dan kami bersama seseorang dari tentara ke sana dengan senjata api AK47 duduk bersama kami."

Selamat datang di El Classico Indonesia, salah satu persaingan paling panas di Asia.

"Jika Anda tidak bermain untuk Persib atau Persija, saya tidak berpikir Anda tahu apa itu seperti sampai Anda benar-benar menjalaninya," lanjut Gaspar.

Pertandingan antara Persija dan Persib begitu sengit, suporter tim tandang sampai tidak berani pergi untuk menonton laga tim kesayangan mereka. Ada yang benar-benar berani mengambil risiko dengan nyawa mereka dan pada 2012 dua suporter Persib tidak pernah pulang kembali ke rumah mereka setelah melakukan perjalanan ke Stadion Gelora Bung Karno di Jakarta. 

Menyaksikan laga Persija vs Persib harus benar-benar menyiapkan mental

Apa gunanya saat suporter bertarung dan meninggal? Itu membuat para pemain cukup terpukul

- Robbie Gaspar

Pertandingan berlalu tanpa insiden yang berarti, dan berakhir dengan skor imbang 2-2 berkat gol penyama skor dari bek Persib Maman Abdurrahman di menit ke-88, tapi insiden di luar lapangan tak terelakkan.

Penggemar Persija dipukuli sampai kehilangan nyawanya di babak pertama oleh kelompoknya sendiri, dengan pemimpin kelompok pendukung Persija, Jakmania, mengklaim suporter yang dimaksud telah tertangkap mencuri dompet.

Pasca pertandingan dua penggemar Persib digiring ke area parkir mobil oleh suporter Persija dan dipukuli hingga tak bernyawa, dan menjadi orang ke-34 dan ke-35 yang kehilangan nyawa mereka di laga sepakbola Indonesia sejak tahun 1995.

"(Kerusuhan) itu cukup dahsyat," ujar Gaspar saat ia mengetahui ada suporter yang meninggal. 

"(Ini membuat Anda bertanya-tanya) apakah itu benar-benar layak? Apa gunanya saat suporter bertarung dan meninggal? Itu membuat para pemain cukup terpukul."