Rivalitas Terpanas di Asia: Kenapa Tidak Ada Rivalitas di Antara Klub-Klub Singapura?

Di seluruh liga sepakbola Asia Tenggara, selalu memiliki dua tim yang selalu berselisih. Tetapi apakah ada rivalitas panas di S.League Singapura?  Neil Humphreys memaparkannya dalam artikel ini...

Stadion Jurong bergetar. Batu-batu yang tersusun seperti kursi modern itupun nyaris tidak terlihat di belakang para penonton yang memenuhi.

Ah peks duduk bersebelahan dengan ah bengs. Para pensiunan duduk bergabung dengan para penjudi yang gugup. Para suami membawa istri dan anak-anak mereka untuk menambah jumlah yang datang, menjaga semuanya tetap di dalam keluarga dan di luar lawan.

25 April 1988, mungkin adalah momen di mana sepakbola Singapura paling dekat dengan apa yang bisa dibilang rivalitas domestik yang murni.

Ini semua tentang angka, menunjukkan kekuatan, kami melawan mereka. ‘Kami’ di sini adalah komunitas klub independen, ‘Mereka’ adalah pasukan tentara bersenjata, kaum mapan, para elit.

Hanya untuk satu malam saja, ada kesempatan untuk menghancurkan Goliath dan masuk ke dalam buku sejarah.

Dan tanggal 25 April 1988, mungkin adalah momen di mana sepakbola Singapura paling dekat dengan apa yang bisa dibilang rivalitas domestik yang murni.

Ada malam-malam yang lain, tim tim lain, dan kompetisi lain, namun benturan antara Tanjong Pagar United dan Singapore Armed Forces FC (sekarang dikenal dengan Warriors FC) adalah sesuatu yang nyata.

The Warriors meraih gelar di tahun 1997 dan begitu diunggulkan untuk mempertahankan gelar mereka di tahun 1998.

Antara 1997 dan 2003, Home United dan The Warriors memenangi enam dari tujuh gelar yang tersedia.

Terakhir kali Tanjong Pagar bermain di S.League adalah di tahun 2014

Jujur saja, klub-klub ‘Gahmen’ sangat bagus untuk ukuran sebuah kompetisi kecil yang masih sangat kesulitan untuk keluar dari bayang-bayang besar Piala Malaysia.

Home dan SAFFC adalah yang paling dekat di S.League dengan apa yang disebut klub sebenarnya; organisasi yang baik, cukup memiliki sumber daya yang banyak, dan klub yang bagus untuk diikuti oleh para fans.

Merekapun memainkan peran sebagai penjahat pantomim dengan sangat indah, kaum yang dominan dan lebih kaya mengambil alih bagian dari rakyat jelata, sasaran empuk untuk cacian dan hinaan.

Ini adalah stereotipe yang terbentuk, dan sangat tidak adil, tapi justru hal semacam ini berperan besar dalam membentuk sebuah budaya sepakbola.

Home dan Warriors adalah versi lokal dari Manchester United dan Liverpool dalam beberapa sisi. Para pendukung mencintai mereka, tapi tidak terlalu suka satu sama lain. Dan lawan mereka sangat senang membenci mereka, yang menciptakan mentalitas perang di setiap sisi.

Di tahun 1998, kepala cepak yang seragam adalah sesuatu yang sangatlah dihargai.

Rencana A: Liga Singapura yang diisi Tim-Tim Singapura

Rivalitas ini semakin diabaikan dengan rencana asli dan jelas dari S.League untuk membangun tim berdasarkan komunitas; Liga Singapura yang hanya diisi oleh tim-tim Singapura saja.

Jadi Gombak United bermain di Bukit Gombak dan bermarkas di Gombak.

Jurong, Sembawang Rangers, Tampines Rovers, Woodland Wellington, dan Tanjong Pagar menyusul dengan model komunitas yang sama.

Balestier Central bisa dikenal lebih dekat denga Toa Payoh dan Marine Castle memulai dengan salah satu bentuk tanpa akar yang jelas dan membingungkan (sebelum akhirnya benar dengan menjadi Hougang United), tapi kesederhanaan awal S.League adalah kunci untuk kesuksesan mereka di permulaan.

Stadion yang ramai adalah sesuatu yang normal. Dan seberapapun besar klub, komunitas, atau stadion-nya, penonton penuh nyaris bisa dipastikan setiap kali Protectors atau Warriors tampil.

Di tanggal 25 April 1998, kapasitas sekitar 5000 penonton di Choa Chu Kang dengan mudah dilewati. Wajah wajah yang dicat berteriak dan saling menyerang satu sama lain. Itu adalah sebuah malam yang hebat, sebuah malam sepakbola yang memang layak.

The Warriors dan Tanjong Pagar kemudian saling bersaing ketat memperebutkan gelar juara, namun pertemuan mereka di awal menunjukkan ada persaingan sehat antara keduanya.

[SELANJUTNYA: The Jaguars merasakan pembalasan yang setimpal]