Rivalitas Terpanas di Asia: Malaysia vs Indonesia Tensi Tinggi di Semua Bidang

Lebih dari setengah abad, Indonesia dan Malaysia selalu bersaing di segala bidang, tidak terkecuali Sepakbola. Editor in Chief FourFourTwo dari kedua negara memberikan ceritanya masing-masing dari panasnya Melayu Derby ini..

Pertemuan Pertama:

7 September 1957: Malaysia 2 Indonesia 4. Piala Merdeka.

Indonesia vs Malaysia, bukan hanya soal sepakbola, tetapi juga soal harga diri, gengsi dan juga politik.

Piala Merdeka mengambil waktu tepat beberapa hari setelah Malaysia memproklamasikan kemerdekaannya. Pemenang dari partai ini akan lolos ke babak semi-final dan Indonesia sukses mencapai babak tersebut setelah memastikan tim nasional negara tetangga mereka harus mengemas barang-barangnya dan pulang ke Kuala Lumpur.

Indonesia

Pencapaian Terbaik: Kontestan Piala Dunia 1938, Lima kali runner-up Piala AFF Suzuki, Medali perungu Asian Games 1958, Medali emas SEA Games 1991 dan Medali perungu SEA Games 1997.

Pertandingan Kunci

9 Oktober 1997: Indonesia 4 Malaysia 0 (SEA Games): Sebagai tuan rumah, Indonesia memiliki keunggulan dari pendukung mereka dan dengan dukungan penuh itu, Garuda sukses menghancurkan Malaysia 4-0 melalui dua gol dari Fachri Husainy dan satu gol masing-masing lewat Widodo C. Putro dan Kurniawan. Hasil ini membuat Indonesia sukses menjuarai grup dan harus puas dengan medali perungu di akhir turnamen ini setelah kalah dari Thailand, sedangkan Malaysia harus gugur di babak penyisihan grup.

27 Desember 2002: Indonesia 1 Malaysia 0 (Piala Tiger): Dua tim nasional ini tidak bisa menghindari pertemuan mereka di babak penyisihan grup Piala Tiger 2002 sebelum bertemu kembali di semi-final. Penyerang terbaik Indonesia kala itu, Bambang Pamungkas mencetak satu-satunya gol di pertandingan ini, tetapi sekali lagi, Indonesia harus berakhir di posisi runner-up setelah (lagi-lagi) kalah dari Thailand di babak final.

Bambang memainkan peran penting dalam persaingan kedua tim

29 Desember 2010: Indonesia 2 Malaysia 1 (Piala AFF Suzuki leg kedua): Indonesia memiliki masalah yang sangat pelik sebelum pertandingan ini, dimana mereka kalah 3-0 di leg pertama final Piala AFF Suzuki yang dilangsungkan di Stadion Bukit Jalil, Kuala Lumpur. Timnas Merah Putih malah semakin dalam permasalahannya setelah Safee Sali mencetak gol pertama pada pertandingan ini di babak kedua. Tetapi semangat para pemain Indonesia untuk tidak mengecewakan pendukung yang datang di Stadion Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta sukses membuahkan hasil, M. Nasuha dan M. Ridwan sukses mencetak dua gol kemenangan bagi Indonesia, walaupun tidak cukup untuk membawa mereka juara Piala AFF untuk pertama kalinya.

Pemain Kunci

Bambang Pamungkas: Penyerang paling sukses sepanjang kariernya bersama tim nasional Indonesia. Rekor 37 gol dari 85 penampilannya bersama timnas sampai saat ini belum ada yang bisa menggesernya, bahkan mendekatinya (Kurniawan D. Y adalah pemain yang terdekat dengan rekor BP, tetapi pemain ini juga sudah pensiun). Dia juga pernah menjalani karier di Malaysia bersama Selangor FA, 42 gol dari 62 penampilannya dia catatkan di klub yang kini dibela oleh Andik Vermansyah. Empat kali Bambang Pamungkas menjebol gawang Harimau Malaya, sedangkan delapan golnya di Piala Tiger 2002 sukses membuat dirinya mendapatkan sepatu emas alias gelar top skorer.

Kurniawan Dwi Yulianto: Dia memiliki segalanya untuk menjadi pemain terbaik Indonesia sepanjang masa, sayang, masalah obat-obatan terlarang yang menyerangnya membuat dirinya tidak bisa menggapai karier terbaiknya. Walaupun begitu, dia masih menunjukkan kualitasnya yang luar biasa bersama tim nasional Indonesia dan mendapatkan julukan "Kurus", yang menggambarkan fisiknya saat itu. Momen terbaiknya melawan Malaysia terjadi di semi-final Piala Tiger 2004, setelah Indonesia kalah 1-2 di kandang, dan kala bermain di Kuala Lumpur, tim tuan rumah malah memperbesar keunggulan secara agregat menjadi 3-1, akan tetapi, setelah pemain ini masuk ke lapangan, semuanya berubah. Golnya memulai parade empat gol dalam waktu 25 menit pada pertandingan ini. Comeback yang luar biasa!. Walaupun pada akhirnya, Indonesia kalah atas Singapura di babak final.

Kenapa Kurniawan mendapatkan julukan "Kurus"? Foto ini adalah jawabannya

Kenangan Penulis FFT – Oleh Tio Utomo (Indonesia)

Indonesia dan Malaysia seolah tidak dapat dijauhkan dari kata perselisihan di semua aspek. Dari politik hingga ke olahraga. Masih ingat Bung Karno yang menggunakan slogan “Ganyang Malaysia” di tahun 60an? Sebuah slogan yang masih dipakai hingga saat ini kala Indonesia berselisih dengan Malaysia. Persaingan tiada akhir.

Sentimen anti-Malaysia yang selalu terjadi di Indonesia karena berbagai hal juga merembet ke dunia sepakbola. “Derby Melayu” sudah terjadi dari tahun 1957, kala itu Indonesia menang 4-2 atas Malaysia di ajang Piala Merdeka. Itulah awal dari rivalitas tiada akhir dari kedua negara yang budayanya memiliki banyak persamaan.

Perseturuan dua suporter juga tidak bisa kita lupakan. Pada Piala AFF Suzuki 2012 di Bukit Jalil, suporter Indonesia berselisih dan saling lempar terjadi, yang lebih gilanya lagi, saat itu Indonesia tidak bermain melawan Malaysia, tetapi melawan Laos. Aneh.

Masih teringat jelas, ketika final SEA Games 2011, timnas Malaysia harus di kawal menggunakan kendaraan lapis baja menuju stadion demi alasan keamanan. Juga ketika drama pemain Indonesia yang menghentikan pertandingan di final AFF 2010 di stadion Bukit Jalil karena para pemain Indonesia merasa terganggu dengan laser yang ditembakan ke mereka. Dan final 2010 tersebu dilengkapi insiden foto suporter Malaysia menginjak syal bertuliskan Indonesia dan mengacungkan jari tengahnya setelah pertandingan tersebut.

Indonesia vs Malaysia, bukan hanya soal sepakbola, tetapi juga soal harga diri, gengsi dan juga politik.

[SELANJUTNYA: Tiga kemenangan kunci Malaysia dan juga cerita mengejutkan skuat mereka kala bermain di Indonesia]