Rivalitas yang Kelewat Batas: Hooliganisme Mengancam Sepakbola Indonesia

Masa depan negeri gila sepakbola ini bisa suram jika jalan kekerasan terus digunakan di kalangan suporter seperti sekarang 

Tajuk utama di pemberitaan sepakbola dua pekan terakhir di Indonesia seharusnya adalah menyoal bagaimana Madura United, yang dibela oleh Peter Odemwingie yang bermain luar biasa, bisa berada di puncak klasemen sementara. Atau menyoal PSM Makassar yang mulai mengalami penurunan. Atau mengapa Persib Bandung yang dihuni para bintang kini tak punya pelatih tetap dan terus meluncur ke arah zona degradasi. Sayangnya, bukan itu yang terjadi.

Sepakbola di Indonesia malah sibuk membicarakan hal lain. Namun kali ini bukan soal politik dan korupsi, sesuatu yang telah menahan perkembangan sepakbola negeri ini selama bertahun-tahun.

Indonesia memiliki masalah dengan hooliganisme, dan masalah ini lebih besar daripada yang dimiliki negara Asia lainnya

Dengan jumlah penduduk mencapai seperempat milyar jiwa, yang sebagian besarnya merupakan pecinta sepakbola, Indonesia sebetulnya memiliki potensi yang tak terbatas, seandainya memiliki pondasi yang tepat.

Ketika sanksi FIFA dicabut pada Mei 2016 setelah satu tahun yang suram, ada kesan bahwa segalanya telah mengalami peningkatan: Indonesia memiliki ketua PSSI yang baru, liga baru, bintang-bintang baru, dan perburuan gelar juara yang seru. Memang terlalu jauh untuk menyebutkan bahwa segalanya benar-benar dimulai lagi dengan semangat baru, tetapi setidaknya, untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ada rasa optimis yang muncul atas masa depan sepakbola di negeri ini.

Namun sebagian optimisme itu kini menghilang. Jika sebelumnya politik dan korupsi selalu menjadi penghalang utama negeri ini untuk sukses, kini ada masalah kekerasan. Indonesia memiliki masalah dengan hooliganisme, dan masalah ini lebih besar daripada yang dimiliki negara Asia lainnya.

Madura United dan Peter Odemwingie seharusnya menjadi pembicaraan kita, bukan kekerasan suporter

Perkelahian bisa terjadi di mana saja, bahkan di negara sepakbola yang paling tenang sekalipun, tetapi di Indonesia, masalah ini sering kelewat batas. Gairah sepakbola yang selama ini menarik minat para politisi dan pihak-pihak lain yang ingin menggunakannya untuk kepentingan mereka (dan juga mengundang decak kagum dari orang-orang di luar negeri) ternyata menghasilkan efek samping yang jauh lebih buruk dari waktu ke waktu.

Hal ini terjadi lagi baru-baru ini. Ricko Andrian adalah seorang penggemar Persib Bandung yang datang ke stadion untuk menonton timnya bertanding melawan rival besar mereka, Persija Jakarta. Ia diserang oleh sesama fans yang mengira dirinya mendukung tim lawan. Setelah empat hari terkapar koma, ia meninggal dunia.