Kisah

Ryan Mason: "Ada 14 Pelat Logam di Tengkorak Saya - Saya Beruntung"

Ryan Mason

Ryan Mason adalah bagian dari generasi akademi Tottenham yang sama dengan Harry Kane, tetapi, setelah mendapatkan kesempatan untuk mewakili tim idolanya saat masa kecil dan juga negaranya, hidupnya berubah drastis – perubahan yang membuatnya merasa beruntung untuk dapat hidup sampai sekarang

We are part of The Trust Project What is it?

Ilustrasi: Tim McDonagh

Ketika Anda menjadi seorang pemain bola profesional, sangat mudah untuk melupakan apa sebenarnya inti dari permainan itu sendiri – Anda lupa mengapa Anda menyukainya. Anda akan sering melihat gambaran itu pada pemain-pemain di klub: para pemain berlatih tetapi tak menikmati proses itu, mereka tak bermain dengan senyuman, atau tak melakukannya dengan sungguh-sungguh.

Ketika Anda masih kecil, Anda tidak memikirkan hal lain – Anda hanya ingin bermain sepak bola. Ketika saya masih muda, saya bergegas pulang dari sekolah, langsung keluar untuk bermain sepakbola di taman sampai tiba waktunya untuk makan malam. Setelah itu, saya akan segera kembali untuk bermain lagi. Itu lebih dari sekadar hobi. Saya bagai kecanduan.

Salah satu ingatan awal saya adalah menendang bola ke dinding kecil di kebun milik nenek dan kakek saya – ibu dan ayah saya sering berkata bahwa saya selalu membawa bola ke mana pun saya pergi. Saya dibesarkan di Cheshunt, tepat di luar kota London, dan bergabung dengan klub pertama saya, East Herts FC di Turnford, ketika saya berusia enam tahun. Saya hanya bergabung di sana selama enam bulan.

Ketika itu, Tottenham pertama kali mengenali saya. Micky Hazard dating dan mengawasi saya di sekolah sepakbola di suatu musim panas dan mengundang saya untuk datang ke Tottenham. Saya masih ingat saat ayah saya menerima telepon dan mengatakan kepada saya –saya berlari mengelilingi ruang tamu, bersorak-sorai. Itu semua yang saya inginkan.

Berada di Spurs adalah mimpi yang menjadi kenyataan. Pada saat saya berusia tujuh atau delapan tahun, Anda tidak benar-benar berpikir untuk bisa menjadi seorang pesepakbola profesional, tetapi meski begitu, mengenakan kit itu pada hari Sabtu pagi memberi Anda suatu perasaan kebahagiaan yang nyata. Laga melawan Arsenal masih merupakan pertandingan besar, bahkan saat saya masih di usia segitu. Masa di mana pikiran saya masih tentang bersenang-senang dengan teman-teman – hanya itu dan bisa bermain untuk Tottenham.

Beberapa anak yang bermain bareng dengan saya kala itu sekarang sudah menjadi pemain di Premier League sekarang ini. Saya bermain dengan Adam Smith sejak usia tujuh tahun, dan Andros Townsend dari usia delapan tahun. Kemudian, pemain-pemain seperti Harry Kane dan Steven Caulker, yang sedikit lebih muda, bermain bersama kami juga. Saya pikir mungkin 80% dari para pemain di grup kami sekarang bermain sepak bola liga, dan ada foto yang menunjukkan empat orang dari kami dipanggil untuk membela Inggris.

Kelompok itu mungkin terlalu mendapatkan perhatian seperti yang seharusnya, tetapi itu adalah periode yang luar biasa untuk akademi klub. Hal itu lucu, karena ketika kita muda, itu adalah kelompok usia di atas kita yang dilihat sebagai generasi spesial, bukan generasi kita. Saya pikir itu sebenarnya sesuatu yang memotivasi kami, dengan cara untuk membuat kami selalu lapar. Suasananya luar biasa, kami semua berusaha menjadi sangat profesional dan saya pikir kami semua memiliki kepribadian yang baik.

Di salah satu musim saya pernah mencetak 42 gol untuk tim u-18 tahun dan ketika itu saya mulai berpikir bahwa saya siap untuk menerima kesempatan di tim utama. Saya ingat pernah bercakap-cakap dengan manajer akademi John McDermott dan dia memberi tahu saya bahwa dia pikir saya tidak akan bermain di Premier League hingga saya berumur 22 tahun, karena perkembangan tubuh saya. Beberapa anak laki-laki mengalami perkembangan tubuh ketika berusia 16 tahun, tetapi itu tak terjadi kepada saya.

TALENTA YANG BAIK PASTI AKAN TERLIHAT

Saya selalu merasa itu takdir saya untuk bermain untuk Tottenham. Bahkan ketika mereka mencoba menjual saya, saya akan tetap tinggal - saya sangat yakin saya akan dapat bertahan di Spurs, dan saya merasa saya pantas mendapatkannya. John akan terus berkata kepada saya, 'talenta yang baik pasti akan terlihat juga', mengingatkan saya untuk terus bersabar dan berpegang teguh pada hal itu.

Saya akan berbohong jika saya mengatakan tidak ada momen, misalnya ketika saya duduk di bangku cadangan saat dipinjamkan ke Doncaster, bahwa saya tidak mengalami keraguan, tetapi pikiran saya akhirnya selalu tertuju pada harapan bahwa nantinya saya juga akan dapat kesempatan untuk bermain untuk Spurs.

Saya sedikit tak beruntung ketika Tim Sherwood mengambil alih kepemimpinan tim pada Desember 2013. Dia mengatakan kepada saya bahwa dapat dipastikan saya akan masuk dalam rencananya untuk pembangunan tim, tetapi saya telah menandatangani kontrak pinjaman jangka panjang di Swindon dan tidak bisa kembali.

Pages