Satu Langkah Kecil Son Adalah Sebuah Langkah Besar Untuk Sepak Bola Asia

Son Heung-Min sudah menjadi bintang besar di Asia, tapi John Duerden menjelaskan mengapa dia bisa menjadi bintang dunia dengan menjadi pemain utama di klub barunya, Tottenham Hotspur...

Sejak Son Heung-Min memutuskan untuk meninggalkan Bayer Leverkusen untuk pindah ke Tottenham Hotspur, ada perdebatan di negeri asalnya Korea Selatan apakah ini merupakan keputusan yang tepat dari pemain berusia 23 tahun itu.
 
Meninggalkan klub langganan Liga Champions untuk klub yang hanya berlaga di Liga Europa merupakan salah satu faktor perdebatan, meskipun Liga Primer Inggris lebih populer daripada liga Jerman.
 
Tapi ada perasaan yang membaik setelah beberapa hari kepindahannya, setelah penyerang ini menjalani debut di markas Sunderland diikuti dengan dua gol melawan wakil Azerbaijan, Qarabag dan satu gol yang baru saja dicetaknya saat laga kontra Crystal Palace di White Hart Lane Minggu lalu.
 
Son bersinar saat bermain melawan The Eagles dan terlihat selalu memberikan ancaman dan peluang saat ia menerima bola.

Ini tentu masih terlalu awal, tapi dengan lebih banyak medali dan trofi yang mungkin ia raih, ada sesuatu yang lebih penting yang bisa diraih mantan pemain Hamburg ini - mungkin bukan untuk suporter Spurs, tapi untuk Asia.

Son bisa menjadi sosok yang mengubah citra pemain Asia di seluruh dunia.
 
Bukan berarti citra pemain Asia saat ini negatif, tapi dalam artian luas dan sederhana, persepsi dunia terkait pemain Asia hanya mengerucut dalam dua kategori.
 
Kategori pertama adalah pekerja keras, enerjik, pemain yang pantang menyerah dan yang satu lagi adalah pengumpan akurat dengan pergerakan teratur yang enak ditonton.
 
Itu bukan hal yang negatif, tapi itu juga tak menggambarkan secara keseluruhan. Pemain sebelumnya yang pas dengan citra itu adalah Park Ji-sung, pemain yang bersedia bekerja keras, rekan setim yang baik dan menyenangkan untuk dilatih.
 
Ada lebih banyak hal terkait permainannya daripada sekedar itu, tapi ketika anda bermain dengan bakat luar biasa seperti pada tahun 2008, ada Ronaldo, Tevez, Giggs dan Scholes, maka bukan hal yang mengejutkan jika si Three Lungs Park (julukan Park karena ketahanan stamina dan kecepatannya) tidak terlalu menarik perhatian seperti yang seharusnya.
 
Lalu ada juga tipe pemain teratur. Kata-kata ini agak sedikit berlebih digunakan untuk merujuk pada pemain Asia Timur yang memiliki kemampuan teknis, dan sang penulis juga bersalah dengan ikut menyebarkan pengkategorian ini.

Son merayakan kemenangan timnya atas Crystal Palace dimana dirinya mencetak gol pertamanya di Inggris pada pertandingan ini.

Ki Sung-yeung, salah satu gelandang terbaik di Inggris musim lalu (pemain yang sempat ditawar Juventus tapi tawaran itu ditolak oleh Swansea) juga mendapatkan cap tersebut saat seharusnya ia disebut sama elegannya dengan para pemain yang memperagakan sepakbola indah.
 
Shinji Kagawa adalah gelandang dengan visi, pemahaman dan kontrol yang hebat, tapi kata-kata 'teratur' selalu digunakan untuk meremehkan kemampuannya, di Inggris pemain seperti dirinya setidaknya akan disebut bakat'. Pemain Borussia Dortmund ini layak mendapatkan yang lebih baik.
 
Meskipun begitu, sebagus apapun para pemain ini dulunya atau saat ini dan selayak apapun mereka mendapatkan apresiasi yang lebih tinggi, mereka bukan para pemain yang bisa membuat para penonton langsung berdiri saat mereka menerima bola.
 
Bukan bermaksud untuk mengatakan bahwa Asia tidak menghasilkan pemain berbakat, tapi mereka tidak pergi ke barat atau tak selalu luar biasa saat bermain. Jika Ali Karimi menunjukkan kepada suporter Bayern Munich mengapa ia mendapatkan julukan Wizard of Tehran/ Maradona of Asia (suporter Asia sangat mudah memberikan sebutan kepada pemain mereka) di Iran, mungkin ini akan berbeda.
 
Jika Lee Chung-yong tidak mengalami patah kaki di masa pra musim 2011 saat bersama Bolton Wanderers di saat ia berada di puncak permainannya dan secara tidak resmi sepakat untuk pindah ke Liverpool sembilan bulan kemudian, mungkin segalanya akan berbeda.
 
Lalu ada Keisuke Honda. 'The Emperor', yang selalu mampu memberikan perbedaan kecil di atas lapangan, mengambil langkah terlalu jauh saat bergabung dengan CSKA Moscow pada 2009, berakhir di pinggrian Eropa.
 
Ia menandatangani kontrak dengan AC Milan pada 2013 dan sepertinya merupakan kepindahan yang tepat, tapi sekarang ia berusia 29 tahun, dia tidak memiliki dampak seperti yang ia atau suporter di Asia harapkan.

Keisuke Honda hingga saat ini belum bisa menunjukkan penampilan gemilangnya sejak pindah ke AC Milan.

Son bisa berbeda. Meski ia hanya gemar mengambil bola di area permainan timnya sendiri dan memberikan bola kembali, ada sesuatu yang lebih berbumbu dan lezat dalam permainannya daripada hidangan dakgalbi yang terkenal di kampung halamannya, Chuncheon.
 
Son masih bisa menjadi tidak menentu, tapi itu hanya menambah ketertarikan kita. Saat semuanya beralan lancar, akselerasinya, tembakan yang kuat dengan kedua kaki dan semangat saat bermain, ia bisa menjadi spektakuler.
 
Bermain di Liga Primer bisa membantunya. Ia mungkin lebih sering tampil di Liga Champions bersama klub lamanya, Leverkusen, ketimbang kehadiran Spurs di kompetisi itu sepanjang sejarah, tetapi faktanya akan ada lebih banyak orang di seluruh dunia yang melihatnya bermain.
 
Lebih banyak orang akan menonton pergerakannya di televisi, lebih banyak orang akan membaca tentang dirinya.
 
Memenangkan trofi bersama Spurs mungkin akan lebih sulit, tapi Son memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang benar-benar unik karena ia bermain spektakuler - membantu memberikan citra baru untuk pemain Asia.