"Saya tak menyesal meninggalkan Arsenal – Saya senang dengan keadaan sekarang."

Pria ini ada di urutan ke 31 dalam Top 50 Football League versi FFT untuk alasan yang bagus. Hampir tiga tahun setelah dia hengkang dari Arsenal, Jay Emmanuel-Thomas masih berjuang di Bristol City dan kariernya tengah melambung. Joe Brewin menelusurinya lebih dalam...

Melompat dua kali, lantas melakukan gerak tipu, dan akhirnya dia bisa menjauh dari dua pemain yang menguntitnya. Selanjutnya ia berlari menerobos tim lawan dan akhirnya dengan kaki kirinya ia  melesakkan bola jauh ke dalam gawang.

Ini adalah bulan November 2010, dan Jay Emmanuel-Thomas baru saja mencetak sebuah gol sebagai pemain cadangan Arsenal yang barangkali tak akan cocok untuknya lagi. Keterampilan, kelihaian serta kekuatan--itu semua menyatukan semua kelebihan yang menyiapkannya untuk masa depan cerah di stadion Emirates.

Sepak bola lapis dua merupakan sepak bola anak-anak bagi para North Londoner, namun masuk ke tim pertama Arsene Wenger bukanlah hal yang mudah. Janji manisnya tak semua ditepati, karena sang gelandang muda hanya bermain lima kali untuk Arsenal (cuma sekali diturunkan di Premier League) setelah itu dipinjamkan ke Blackpool, Doncaster, dan Cardiff.

Namun, saat ini keadaan berbeda. Butuh waktu cukup lama--empat klub berbeda, sebenarnya--namun Emmanuel-Thomas akhirnya berhasil menemukan lingkungan sempurna di mana ia bisa menuangkan bakatnya yang  luar biasa. Pemain berusia 23 tahun ini bersinar dalam kaus merah lain bersama Bristol City, di mana ke 17 golnya  di semua laga menandingi semua gol yang dicetaknya di enam klub sebelumnya.  Jadi apa yang berubah?

“Dulu, saya cuma bermain melebar, tapi terlepas dari beberapa laga musim ini saya hanya bermain sebagai penyerang tengah,” ungkap dirinya pada FourFourTwo. “Bermain sebagai penyerang utama sedikit berbeda karena saya lebih dekat dengan gawang lawan sehingga saya dapat mencoba dan melakukan sebanyak mungkin serangan pada lawan. Kerja keras saya musim ini membuahkan hasil.”

Dia cukup benar. Meskipun skuat yang dijuluki The Robins mungkin menganggap musim mereka agak mengecewakan (saat ini mereka berada di posisi 15- “naik turun, tapi tampaknya posisi mereka mulai stabil, seperti yang diungkapkan pada kami"), 15 gol Emmanuel-Thomas di League One merupakan jumlah gol yang mengesankan yang hanya ditandingi oleh empat tim saja. Bahkan striker muda ini menjelma setengah dari duet maut dalam divisi ini; pasangannya Sam Baldock masih kekurangan lima gol lagi agar mencapai 20. Anda tidak akan, bagaimanapun, menangkap mantan pemain The Gunners ini dengan serakah melepaskan tembakan jarak dekat demi menandingi perolehan gol pemain lain.

“Itu bukan pertempuran – tapi lebih pada kerjasama,” kata dia. “Itu semua didasarkan pada tim. Jika dia pada akhirnya berhasil mencetak gol lebih banyak dibanding saya tapi umpan sayalah yang membuahkan gol-gol tersebut, saya akan sama senangnya. Saya lebih senang bisa membantu orang lain  mencetak gol daripada mencetak gol sendiri, jadi saya rasa tidak egois dalam hal itu.

Itu adalah pernyataan yang didukung oleh statistik; hanya ada dua pemain, Dean Cox (Leyton Orient) dan Bakary Sako (Wolves), yang bisa menyombongkan diri akan assist yang dibuahkannya di League One musim ini.

Potensi yang terlewatkan

Sejauh ini duo Robin ini telah menjadi tontonan menyenangkan bagi bos Steve Cotteril – tapi duet mereka tidak selalu sukses. Untuk beberapa saat tampaknya mereka tak akan menetap di klub; bahkan saat Emmanuel-Thomas akhirnya meninggalkan Arsenal untuk bisa bermain secara rutin tim utama, bahkan pindah ke klub papan bawah Championship pun sepertinya bukan rencana yang bagus.

Pada saat ia meninggalkan Portman Road setelah dua tahun dalam kesepakatan pertukaran langsung dengan Paul Anderson, ia sepenuhnya dinilai belum menunjukkan kemampuan yang maksimal. “Tapi itu adalah salah hal satu yang menakutkan,” aku bos Mick McCarthy. “Jay tidak menunjukkan potensi terbaiknya di sini, tapi mungkin di tempat lain ia bisa.” Rupanya firasatnya benar.

“Di Ipswich saya bermain sebagai pemain sayap,” ucap Emmanuel-Thomas. “Saya tidak keberatan, meskipun itu bukan posisi terbaik saya, karena saya suka berhadapan satu lawan satu. Itu salah satu hal yang menyenangkan di dalam lapangan. Tapi saya selalu merasa bahwa saya adalah seorang penyerang.” 

Jay Emmanuel-Thomas, Bristol City

Tembakan Emmanuel-Thomas digagalkan oleh Bartosz Bialkowski pada kesempatan ini

Bukan berarti bahwa potensinya muncul dengan tiba-tiba. Ketika menjamu anak-anak Arsenal di sebuah acara,Wenger terang-terangan mengungkapkan keyakinannya akan Emmanuel-Thomas. “Satu hal yang pasti adalah--dia mampu mencetak gol,” ungkap pria asal Perancis itu pada Oktober 2010. “Itu adalah bakat luar biasa yang tak bisa Anda persembahkan pada publik.

“Anak itu adalah seorang penyelesai yang andal, di dalam atau di luar kotak penalti. Dia punya kualitas bagus, dan fisik bugar. Terserah padanya sejauh apa ia ingin melangkah karena ia punya potensi besar.

Panggilan Sulit

Coba tanya sang striker bertubuh besar ini untuk menggambarkan seberapa sulit ia  mencoba untuk memenangkan hati Wenger, meski begitu ia sama sekali tak menyesalinya. Dia bermain lebih banyak dibanding pemain belia lainnya di North London, namun ketika ia memasuki usia 21 tahun,  ia tak punya pilihan lain. Prioritas utama harus didahulukan, dan itu berarti pindah dari klub masa remajanya.

“Saya punya sedikit pengalaman di dalam atau di luar tim pertama, tapi pada usia itu, saya keluar masuk tim karena cedera atau hal lain, yang saya inginkan cuma bisa lebih banyak bermain,” aku dirinya. “Saya harus membuat keputusan apakah saya akan tetap berada di klub atau pindah ke klub lain. Saya harus mengambil keputusan berdasarkan karier sepak bola saya, dan bukan berdasarkan klub mana yang saya inginkan.

“Kami dididik untuk bermain sepak bola berdasarkan jenis sepak bolanya, dan saya pikir itu akan selalu menjadi bekal yang bagus kemana pun saya merumput selanjutnya,” ia menambahkan. “Anda selalu bisa memberikan sentuhan lebih pada permainan Anda, tapi mampu mengocek bola dengan baik akan selalu menguntungkan Anda. Saya cukup senang dengan keadaan sekarang, dan saya tidak menyesali apapun.”

Dari angkatan Arsenal ’09, yang merebut Piala FA untuk tim belia dengan skor 6-2 atas Liverpool dalam laga yang berlangsung hingga dua putaran, hanya Jack Wishere yang sampai saat ini tetap rutin bermain di tim pertama. Emmanuel-Thomas mencetak gol di setiap putaran sebelum The Gunners menaklukkan The Reds yang terdiri dari pemain seperti Andre Wisdom, Tom Ince, dan Alex Kacaniklic.

“Sanchez Watt masih menjadi salah satu sahabat saya dan sekarang ia bermain di League Obe bersama saya di Colchester,” ucap Jay. “Saya juga sering ngobrol bareng Craig Eastmond dan Emmanuel Frimpong. Tapi dengan Jack agak jarang--tapi saya tetap ngobrol dengannya jika bertemu, tapi ya tidak sering. Banyak teman-teman yang dulu tergabung di tim muda Arsenal sekarang bermain di Football League dan mereka cukup sukses, dan itu bagus.”

Jack Wilshere, Jay Emmanuel-Thomas, Sanchez Watt
Emmanuel-Thomas merayakan gelar tahun 2009 dengan dua rekan berwajah bayi, Wilshere dan Watt.

Berada dalam daftar permintaan

Lima tahun kemudian, karier pemain berusia 23 tahun ini kembali melambung--dan setelah satu musim sukses, ia mulai diburu untuk bermain di Championship (apakah Mick akan melepasnya?). Di bulan Januari, mantan bos Ipswich Sean O’Driscoll memberitahu Emmanuel-Thomas bahwa dia mungkin akan dijual untuk menstabilkan keuangan klub, meskipun fans The Robins tak akan senang, namun tekanan finansial membawa tawaran musim panas yang cukup menjanjikan yang bisa membawanya keluar dari Ashton Gate setelah satu musim saja.

Emmanuel-Thomas juga tampaknya punya peluang di kancah internasional. Lahir dari ibu yang berasal dari St. Lucian dan ayah yang berkebangsaan Dominica, tampaknya sudah tiba saatnya baginya untuk memutuskan masa depannya apakah ia akan berkiprah di sepak bola St. Lucian atau pindah ke Dominika.

“Kalau soal itu, akan saya putuskan kira-kira tahun depan, meskipun saya belum tahu yang mana yang akan saya pilih,” ungkap punggawa The Robins ini. “Dulu saya sudah pernah membahas masalah ini, tapi dalam waktu dekat saya ingin memikirkannya dengan lebih matang lagi dan akan menghubungi otoritas kedua negara sehingga saya bisa memilah-milah di negeri mana saya bisa berkarier. Mungkin akan ada sedikit perdebatan soal itu di antara ayah dan ibu saya, tapi biarlah itu urusan mereka!”

Pada tingkat ini mereka tidak akan menjadi satu-satunya pihak yang berdebat soal karienya.