Analisa

Seandainya Yugoslavia Masih Berdiri, Inikah Line-Up Terbaik Mereka Saat Ini?

Yugoslavia sudah terpecah menjadi berbagai negara sejak bertahun-tahun yang lalu. Padahal seandainya mereka masih berdiri, mereka mungkin bisa menjadi salah satu kekuatan besar sepakbola saat ini....

We are part of The Trust Project What is it?

Setelah Joseph Broz Tito mangkat pada tahun 1980 lalu, secara perlahan Yugoslavia menghilang dari peta dunia. Dipimpin secara kolektif oleh suatu badan presidensi, badan tersebut ternyata tak mampu menyaingi kehebatan Tito. Terjadi silang pendapat di dalam setiap pengambilan keputusan penting di mana hal tersebut terjadi karena kepentingan masing-masing negara-negara bagian Yugoslavia, seperti Kroasia, Slovenia, hingga Bosnia dan Herzegovina.

Perpecahan kemudian tak dapat dihindarkan. Perang etnis meledak. Apa yang pernah dikatakan Joseph Broz Tito, "Saya adalah orang terakhir Yugoslavia," benar-benar menjadi kenyataan.

Pada tahun 1991, Kroasia dan Slovenia resmi berdiri sebagai sebuah negara sendiri. Satu tahun kemudian, Bosnia dan Herzegovina mengikuti jejak keduanya. Sempat bertahan hingga tahun 2003 lalu, Yugoslavia akhirnya benar-benar bubar ketika Serbia dan Montenegro memutuskan membentuk ulang Republik Federal Yugoslavia menjadi Uni Serbia dan Montenegro. Serbia dan Montenegro kemudian memilih memisahkan diri pada tahun 2006 lalu.

Dari sisi sepakbola, apa yang terjadi dengan Yugoslavia sebenarnya patut untuk disayangkan. Jika mereka masih bersatu, bukan tidak mungkin Yugoslavia akan menjadi salah satu kekuatan utama sepakbola Eropa atau bahkan dunia pada saat ini. Lalu seandainya eksistensi Yugoslavia benar-benar masih ada, siapa saja pemain-pemain yang masih aktif dari negara-negara pecahan Yugoslavia yang layak masuk dalam starting eleven timnas Yugoslavia?

Kiper: Jan Oblak (Slovenia)

Sebenarnya, membutuhkan banyak alasan untuk mampu menyingkirkan Danijel Subasic, penjaga gawang AS Monaco, dari posisi ini. Dia adalah salah kunci sukses Monaco menjadi juara Ligue 1 pada musim ini, di mana Monaco berhasil meruntuhkan dominasi Paris Saint-Germain yang terus menggegam juara dalam empat tahun terakhir. Dia baru saja mendapatkan gelar terhormat sebagai penjaga gawang terbaik di Ligue 1 musim ini. Dan dengan 16 clean sheet yang dicatatkannya di Ligue 1 musim ini, dia merupakan salah satu penjaga gawang dengan catatan clean sheet terbanyak di jajaran top liga Eropa.

Namun, prestasi mengagumkan Danijel Subasic tersebut sepertinya tak akan berarti ketika Jan Oblak, penjaga gawang Atletico Madrid, menjadi saingan utamanya. Selain jauh lebih muda daripada Subasic, penjaga gawang berusia 24 tahun tersebut akhir-akhir ini sering menjadi bahan pembicaraan karena performa menawannya bersama Atletico Madrid.

Di La Liga musim ini Oblak merupakan penjaga gawang yang paling sedikit kebobolan, yaitu hanya 26 kali. Selain itu, dia juga berhasil mencatatkan 15 kali clean sheet dalam 37 pertandingan. Dengan pendekatan seperti itu, Oblak kemudian menjadi incaran tim-tim besar Eropa. Konon, sudah ada dua tim yang siap membayar Oblak sesuai dengan kalusul pelepasannya, sebesar €100 juta. Dan jika hal tersebut benar-benar terealisasi, itu berarti harga Oblak hampir dua kali lebih mahal daripada Gianluigi Buffon, kiper termahal di dunia saat ini. Sungguh, saingan yang cukup berat bagi Subasic.         

Bek Tengah: Dejan Lovren (Kroasia) 

   

"Dejan adalah pemain sempurna," kata Brendan Rodgers, mantan pelatih Liverpool. "Dia adalah satu-satunya yang saya inginkan setelah Jamie Carragher pergi."

Kepercayaan Rodgers terhadap Lovren tersebut harus dibayar mahal. Pada musim pertamanya di Anfield, Premier League musim 2014/15, sang bek idaman ternyata tak mampu tampil sesuai dengan standarnya. Liverpool yang pada musim sebelumnya nyaris menjadi juara harus puas finis di peringkat ketujuh. Dan beberapa bulan setelah musim baru dimulai, Rodgers dipecat.

Di bawah asuhan Jurgen Klopp, pelatih anyar Liverpool, performa Lovren mulai membaik. Kemampuannya dalam membaca permainan kembali menonjol dan ketangguhannya dalam duel udara juga tak bisa diragukan lagi. Singkat kata, dia kemudian benar-benar bisa diandalkan.

Musim ini, Lovren merupakan salah satu pemain belakang Liverpool yang mampu tampil konsisten. Jika Liverpool berhasil nangkring di posisi empat besar pada akhir musim nanti, tim asal Merseyside tersebut harus berterima kasih kepada pemain kelahiran Bosnia dan Herzegovina itu.

Bek Tengah: Stevan Savic (Montenegro)

Seperti biasanya, Atletico Madrid di bawah asuhan Diego Simeone merupakan tim yang paling sulit untuk dibobol oleh lawan. Di La Liga musim ini mereka hanya kebobolan 26 gol, terbaik di antara kontestan-kontestan La Liga lainnya. Mengingat terjadi sedikit penurunan performa yang dialami oleh Diego Godin, bek tengah terbaik Atletico, tentu saja ada faktor lain yang menjadi penyebab tetap kokohnya pertahanan Atletico Madrid.

Didatangkan dari Fiorentina, meski belum tampil sesuai yang diharapkan, Stevan Savic mampu melengkapi Godin di pusat pertahan Atletico pada musim ini. Dia tangguh dan tahu betul bagaimana caranya menghindari bahaya di daerah pertahanannya. Saat Godin luput mengamati pergerakan penyerang lawan, Savic selalu siap untuk membantunya. Saat ada bola liar di daerah pertahanan Atletico, Savic adalah orang pertama yang menghalaunya. Dan saat Jan Oblak, kiper Atletico, membutuhkan tembok kokoh di depannya, dengan segala bagian tubuhnya, Savic siap untuk menjadi tembok kokoh itu.

Dengan pendekatan seperti itu, di antara pemain Atletico Madrid pada musim ini, tak ada yang lebih baik daripada Savic dalam melakukan sapuan dan memblokir tendangan lawan. Sementara rataan sapuan Savic mencapai 5,1 kali dalam setiap pertandingan, dia juga rata-rata satu kali memblokir tendangan lawan dalam setiap pertandingan.

Bek Tengah: Aleksandar Kolarov (Serbia) 

 

Musim ini, daripada bermain di posisi terbaiknya sebagai full-back kiri, Kolarov justru sering ditempatkan Pep Guardiola sebagai salah satu bek tengah Manchester City. Pendekatan tersebut memang mengurangi kemampuan ofensif kolarov, tetapi penampilannya sama sekali tak mengecewakan di posisi barunya itu.

Selain penempatan posisinya yang lebih bagus daripada Jone Stones dan Nicolas Otamendi, Kolarov juga lihai mengalirkan bola dari lini belakang, sebuah kemampuan yang amat disukai oleh Pep Guardiola. Dalam setiap pertandingan di Premier League, Kolarov rata-rata melakukan 64 kali percobaan umpan dan 4,2 kali di antaranya merupakan umpan-umpan lambung.

Menariknya, sebagai seorang full-back yang terbiasa mengirimkan umpan lambung, saat bermain di pusat pertahanan umpan lambung yang dilakukan Kolarov sering kali menjadi awal serangan cepat Manchester City. Karena visi permainannya, Kolarov mampu dengan mudah menemukan posisi Raheem Sterling atau Leroy Sane, dua sprinter City, yang sudah bersiap untuk menusuk ke pusat pertahanan lawan.