Kisah

Sebastian Deisler: Bakat Besar Jerman yang Pensiun Dini Karena Depresi dan Cedera

Punya bakat luar biasa, tetapi cedera kambuhan menghancurkan kariernya. Inilah kisah tentang Sebastian Deisler.

We are part of The Trust Project What is it?

Bayangkan kau sebagai seorang Sebastian Toni Deisler.

Saat berusia 17 tahun, kira-kira pada 1997, kau termasuk ke dalam satu di antara 23 pesepakbola muda Jerman yang berjuang di Piala Dunia U-17 Mesir. Tak ada yang mengenal nama Deisler, nama kau sendiri, saat itu. Tapi penampilan apik yang kau tunjukkan sepanjang gelaran tersebut membuat orang-orang mulai menujukan pandangan. Kau punya kemampuan dribel mumpuni, kecepatan tingkat tinggi, visi bermain terdepan, dan kualitas operan nomor wahid. Selain itu, yang paling penting, kau juga berperan membawa Jerman melaju jauh dengan mencapai babak semifinal –kendati akhirnya kalah dari Brasil— serta juga berhasil masuk sebagai salah satu kandidat pemain terbaik Piala Dunia U-17 di tahun itu –bersama Ronaldinho, Santiago Santamaria, dan beberapa pemain lain.

Kau kemudian mendapat julukan ‘Basti Fantasti’. Tentu saja karena kemampuan dan capaian yang baru saja kau raih di tahun tersebut. Seiring dengan itu, pada sepasang kaki yang kau miliki, orang-orang Jerman mulai menaruh harapan besar yang teramat besar.

Ya, harapan yang teramat besar, sebab masa-masa itu adalah masa di mana sepakbola Jerman sedang terpuruk. Tak seperti sekarang, saat itu jarang sekali muncul pemain muda dengan kemampuan yang tak biasa. Pada Piala Dunia 1998 yang hasilnya tak begitu bagus itu saja, misalnya, Jerman didominasi oleh para pemain berusia lanjut macam Jurgen Klinsmann, Kohler, Oliver Bierhoff, dan bahkan Lothar Matthaus.

Maka wajar bila saat kau mencuat di kejuaraan dunia U-17 1997 lalu, dan ditambah kau juga langsung mendapat kesempatan debut di Bundesliga pada tahun yang sama saat Piala Dunia 1998 bergulir –saat itu kau masih berusia 18 tahun kurang, orang-orang langsung menganggap kau sebagai juru selamat, sebagai Messiah. Dan kau sebetulnya memang punya potensi untuk menjadi demikian.

Tekanan sebagai bakat besar dan cedera yang menghantui

Itu adalah pengujung musim panas 1998 saat kau melakoni debut profesional dalam balutan seragam Borussia Monchengladbach di Bundesliga I. Namun, kau tak langsung mencuri perhatian kala itu. Kau baru benar-benar mencuri perhatian pada beberapa bulan setelahnya, yaitu saat melawan 1860 Munchen.

Pada laga itu, kau yang ditempatkan sebagai pemain sayap kanan tampil begitu apik. Berulang kali akselerasi yang kau lancarkan membuat sisi kiri pertahanan tim lawan kelabakan. Berulang kali pula umpan-umpan crossing yang kau lepaskan berujung peluang bagi pemain lain di lini depan. Puncak dari permainan apik tersebut adalah saat kau mencetak gol perdana. Dalam situasi serangan balik, kau berlari secepat kilat dari sisi kanan daerah lapangan sendiri, mengecoh beberapa pemain, dan kemudian melepaskan sepakan keras kaki kiri dari luar kotak penalti yang tak bisa dijangkau kiper lawan.

Pages