Kisah

Sejarah Kompetisi Sepakbola di Indonesia: Dari Masa Pra-Kemerdekaan Hingga (Menuju) Liga Profesional

We are part of The Trust Project What is it?

Liga Indonesia (1994-2007)

“Yok kita tingkatkan sepak bola kita. Anti kekerasan, jalin sportivitas..” sepenggal bait dari lagu Liga Indonesia pada masa awal-awal kompetisi menjadi optimisme baru bagi sepak bola Indonesia. Kompetisi ini sendiri lahir berkat ide gila Wakil Presiden RI saat itu, Tri Sutrisno, yang ingin menjadikan Liga Indonesia sebagai wajah baru kompetisi semi-pro Indonesia.

Langkah yang cukup ekstrem ketika itu adalah menggabungkan dua kompetisi sekaligus, yakni Perserikatan dan Galatama. Penggabungan tersebut menjadikan timbulnya peta-peta baru dalam persaingan sepak bola Indonesia. Jika dulu adalah hal yang tak mungkin Persija berhadapan dengan Pelita Jaya, maka di Liga Indonesia, hal tersebut menjadi mungkin.

Roger Milla bahkan pernah bermain di Liga Indonesia bersama Putra Samarinda (Foto: www.sportanews.com)

Persaingan bertambah panas dengan bertemunya daerah-daerah baru seperti persaingan Surabaya dan Malang yang semakin meruncing. Di Liga Indonesia, Persebaya yang eks Perserikatan bisa bertemu dengan Arema Malang yang eks Galatama.

Eksesnya memang ke timnas Indonesia yang mempunyai banyak pilihan pemain. Tapi Liga Indonesia di era awalnya, masih seperti kompetisi-kompetisi sebelumnya. Format kompetisi per grup ala Perserikatan digabung dengan sistem kompetisi penuh yang diikuti babak semifinal dan final ala Galatama, menjadi perpaduan format kompetisi Liga Indonesia.

Liga Indonesia menjadi ajang tim-tim eks Perserikatan unjuk gigi. Sedangkan alumni Galatama lebih banyak undur diri karena masalah finansial. Hanya segelintir klub Galatama yang bertahan hingga saat ini. Arema Malang dan Semen Padang menjadi dua peninggalan Galatama di kompetisi tertinggi Indonesia saat ini.

Persib Bandung saat menjadi juara Liga Indonesia jilid pertama (Foto: tribunnews.com)

Liga Indonesia juga kerap berganti nama tergantung sponsor yang membiayai kompetisi. Mulai dari Liga Dunhill, Liga Bank Mandiri hingga Liga Djarum pernah menjadi nama resmi Liga Indonesia. Era Liga Indonesia berakhir pada tahun 2007 saat PSSI mengeluarkan ide Indonesia Super League. Apa bedanya? Bedanya, ISL akan menjalankan format kompetisi penuh seperti yang disarankan AFC dan FIFA. Sedangkan Liga Indonesia masih menggunakan format turnamen peninggalan Perserikatan dan Galatama yang tentu bukan sebagai kompetisi modern. Liga Indonesia berakhir tahun 2007.

Indonesia Super League (2008-....)

Era kompetisi modern dimulai. PSSI melahirkan kompetisi Indonesia Super League (ISL) sebagai wadah kompetisi prfofesional baru. Format ISL yang mengedepankan kompetisi penuh menjadi hal yang baru bagi sepak bola Indonesia. Jika sebelumnya sepak bola Indonesia identik dengan format kompetisi rasa turmanen, kini, sang juara kompetisi dihasilkan dari poin yang didapat di kompetisi.

Kompetisi penuh benar-benar dimanfaatkan oleh klub-klub kuat untuk bisa mendulang perolehan juara. Persipura Jayapura merupakan tim yang paling sering menjuarai kompetisi saat sudah bernama ISL. Tim Mutiara Hitam menaklukkan ISL dengan total 4 kali juara. Arema, Sriwijaya FC, dan Persib Bandung menjadi tim lainnya yang pernah menjuarai ISL.

Persipura menjadi tim tersukses di era Indonesia Super League

Namun ISL tak sepenuhnya menggunakan sistem kompetisi penuh. Pada musim 2013 dan 2014, ISL menggunakan kompetisi penuh dibagi dalam dua grup. Dari kedua Grup itu, lagi-lagi format 8 besar yang sebetulnya sudah dipensiunkan kembali digunakan. Indonesia tampaknya belum bisa lepas dari sistem tersebut.

ISL juga pernah mengalami masa sulit, bahkan hingga hari ini. Yang terbaru, ISL musim 2015 harus terhenti karena kisruh PSSI dan pemerintah yang berujung pada pembekuan PSSI. Hasilnya, kompetisi yang sudah berjalan harus terhenti. Beberapa klub yang sudah siap untuk mengikuti ISL harus gigit jari menghitung kerugian.

Vakumnya ISL, memaksa klub harus mengikuti turnamen-turnamen sepak bola yang bergulir dalam jangka pendek. Tak ada jenjang yang jelas bagi klub dan pemain. Turnamen ‘mahal’ hanya sebagai pengumpul pundi-pundi uang bagi klub besar, tanpa ada tujuan ke mana sepak bola Indonesia bergulir.

Saat ini, ISL masih vakum. Namun, ISL akan kembali hidup pada tahun 2017 nanti seiring dengan terbebasnya Indonesia dari sanksi pembekuan pemerintah.

Indonesia Soccer Championship (2016)

Indonesia Soccer Championship (ISC) merupakan turnamen yang meggunakan sistem kompetisi penuh. Didirikan oleh klub-klub anggota ISL, ISC dijadikan sebagai kompetisi darurat selama masa sanksi pembekuan berlangsung. Tak hanya klub ISL saja yang turut serta, namun klub-klub Divisi Utama dan amatir juga turut serta.

Kepengelolaan ISC yang dipegang PT Gelora Trisula Semesta dirancang secara profesional dan diniatkan untuk menjadi patokan ISL musim 2017 mendatang. Tak mengherankan jika beberapa tokoh penting dari GTS adalah orang-orang yang sudah lama berkecimpung di PT Liga Indonesia sebagai penggerak ISL.

Indonesia Soccer Championship digelar untuk mengisi kekosongan kompetisi selama sanksi pembekuan PSSI dari pemerintah (Foto: GTS)

Sebagai turnamen, ISC tidak mengenal promosi degradasi. Klub-klub di ISC pun berkompetisi untuk membentuk kekuatan di ISL nanti. Selain itu, gelontoran dana besar juga menjadi incaran klub berkompetisi di ajang ini. ISC, bisa dibilang, menjadi penyelamat klub-klub Indonesia di tengah hantaman sanksi yang sempat melanda sepak bola Indonesia.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com/ID