Sejarah Singkat Extra Time: Apakah Ini Adalah Format Terbaik Untuk Sepak Bola Modern?

Dengan masalah kebosanan yang melanda penonton di babak tambahan pada babak gugur Piala Eropa tahun ini, Andrew Murray mengevaluasi keberadaan perpanjangan waktu di sepak bola modern...

Jika Anda menonton laga Inggris menghadapi Italia di perempat final Euro 2012 dan tetap terjaga sepanjang laga, Anda mungkin harus menyemangati diri Anda sendiri. Tapi, Anda juga harus mempertimbangkan untuk memanfaatkan insomnia Anda untuk melawan kejahatan, misalnya dengan berkeliling komplek dan ronda, bukannya duduk di sofa menonton laga membosankan selama 120 menit tanpa gol antara dua tim yang berniat memenangkan pertandingan dengan adu penalti.

Malam itu, pasukan Roy Hodgson tidak melepaskan satu pun tembakan dan membukukan 176 umpan lebih sedikit dari lawan mereka dalam 30 menit waktu tambahan. Setidaknya Mario Balotelli menghasilkan sebuah peluang yang aneh, dan Andrea Pirlo mencetak penalti Panenka yang indah dalam drama adu penalti.

Empat tahun kemudian, tim Inggris yang tiba di Prancis untuk Euro 2016 untungnya sudah banyak berubah, tapi babak perpanjangan waktu yang berujung dengan adu penalti tetap ada. Sepuluh dari 15 laga terakhir Piala Dunia atau Piala Eropa yang berlanjut ke perpanjangan waktu berakhir dengan adu penalti.

Tapi situasi ini juga tidak hanya berlaku di turnamen internasional. Dari 12 final Liga Champions terakhir, 10 di antaranya berakhir dengan tanpa gol. Sebuah proses di mana seorang pemain menembak dari jarak 12 yard telah menjadi cara andalan untuk memenangkan pertandingan sepak bola.

Apa yang terjadi dengan babak tambahan? Apakah pemain betul-betul mampu untuk menjalaninya, setelah diperas tenaganya selama 90 menit di era sepak bola menekan?

Apa yang terjadi dengan babak tambahan? Apakah pemain betul-betul mampu untuk menjalaninya, setelah diperas tenaganya selama 90 menit di era sepak bola menekan? Apakah mereka takut kalah, sebuah perasaan yang diciptakan sejak aturan gol emas dulu?

Untuk mengetahuinya, kita mencari tahu pendapat dari para pemain, manajer, suporter, wartawan, dan ilmuwan olahraga. FourFourTwo dalam usaha menyelamatkan sistem babak gugur turnamen sepak bola...

Awal mulanya...

Menambahkan babak tambahan dalam pertandingan sepak bola yang berakhir imbang, untuk menentukan pemenang, bukanlah hal yang baru. FA telah menerapkan sistem babak tambahan, dan lama waktunya, dalam buku aturan mereka sejak awal 1897. Tapi butuh waktu bagi inovasi ini untuk menyebar ke seluruh dunia.

Di final Piala Jerman tahun 1922, misalnya, Hamburg dan Nuremburg bermain selama 99 menit dengan aturan 'pencetak gol berikutnya adalah pemenangnya' setelah bermain imbang 2-2 dalam 90 menit. Tidak ada tim yang mencetak gol. Pertandingan itu baru berakhir ketika langit sudah gelap. Laga ulangan yang dimainkan tujuh minggu kemudian juga dihentikan, kali ini di babak pertama di waktu tambahan ketika cedera dan kartu merah membuat Nuremburg akhirnya hanya bermain dengan tujuh pemain. Hamburg menolak untuk menerima piala.

Extra time bahkan telah menyebabkan insiden diplomatik

Extra time bahkan telah menyebabkan insiden diplomatik. Pada Olimpiade Berlin 1936, Peru mengalahkan Austria 4-2 dalam laga yang mendebarkan, tetapi ketika suporter menyerbu lapangan - satu di antaranya diduga membawa pistol - Austria mengajukan keluhan. Terjebak dalam parade militer Jerman, Peru melewatkan sidang dengar pendapat dan disingkirkan dari turnamen. Komite Olimpiade Peru menarik semua atletnya dari Olimpiade sebagai protes, Kolombia mengikutinya sebagai bentuk solidaritas sesama negara Amerika Selatan, sementara kantor konsulat Jerman di Lima dilempari batu oleh warga Peru dan dermaga mereka menolak untuk memuat dua kapal Jerman.

Giacinto Fachetti

Fachetti menebak koin dengan benar di semifinal Euro 1968

Secara bertahap, waktu tambahan 30 menit menjadi aturan yang diterima, diikuti oleh laga ulangan dan undian lempar koin jika kedua tim masih bermain imbang. Giacinto Facchetti menebak sisi koin yang benar saat Italia mengalahkan Uni Soviet di semifinal Euro 68, satu-satunya laga di Piala Eropa atau Piala Dunia yang pernah diselesaikan dengan lempar koin.

Pada tahun 1970, International Football Association Board (IFAB), yang meratifikasi perubahan aturan sepak bola FIFA, menggantikan undian lempar koin dengan adu penalti setelah perpanjangan waktu. Namun, hal ini masih menyisakan masalah.

Di babak kedua Piala Winners Eropa1971/72, gol perpanjangan waktu Willie Henderson memberikan Rangers apa yang seharusnya menjadi kemenangan berkat produktivitas gol tandang melawan Sporting Lisbon, dengan skor 6-6 secara agregat. Namun wasit Laurens van Ravens secara mengejutkan memerintahkan adu penalti yang dimenangkan Sporting dengan skor 3-0.

"Kami duduk di ruang ganti, kepala kami menunduk," kenang pemain sayap Willie Johnston. "Kemudian wartawan John Fairgrieve datang dan memberitahu kami lolos." Dengan buku catatan di tangan, manajer Willie Waddell mendatangi ofisial UEFA terdekat. Hasilnya berbalik, dan Rangers lolos untuk memenangkan trofi Eropa mereka yang pertama dan satu-satunya.

Babak tambahan dan adu penalti di turnamen internasional pelan-pelan menjadi lebih baik. Pada Euro '76, Antonin Panenka melepaskan tembakan penalti tak biasa, sementara laga antara Jerman Barat dan Prancis di semifinal Piala Dunia 1982 yang berakhir imbang 3-3 umumnya dianggap sebagai laga terbaik dalam sejarah turnamen - bukan karena kiper gila Harald Schumacher nyaris menghantam kepala pemain Les Bleus, Patrick Battiston, namun karena empat gol yang sepertinya mustahil terjadi jutru tercipta di babak perpanjangan waktu, di mana Die Mannschaft bangkit dari ketertinggalan 3-1 untuk menang lewat adu penalti.

Pages