Kisah

Sejarah yang Aneh (Namun Indah) dari Gawang Sepakbola

Mulai dari lubang pada kain hingga sisi gereja, dan juga yang berstruktur aluminium elips khas orang-orang Skotlandia: FFT menceritakan kisah tentang bagian terpenting dari setiap lapangan sepakbola...

We are part of The Trust Project What is it?

"Ini mungkin hanya tiang dan mistar gawang," ungkap Paolo Di Canio ke FourFourTwo saat berkeliling di sekitar tempat pelatihan Swindon Town. "Tapi untuk pemain sepakbola, ini adalah surga."

Mantan pemain Italia itu tidak salah. Seluruh permainan sepakbola memang difokuskan pada kotak persegi panjang tipis ini, yang dibingkai dengan balok kayu atau aluminium dan jaring jaring. Namun, evolusi dari mulut gawang adalah proses yang panjang, argumentatif, dan kadang-kadang mematikan.

Evolusi yang berangsur-angsur

Sebaliknya, sepakbola telah ada lebih lama daripada gawang itu sendiri. Para leluhur yang memainkan olahraga yang satu ini memang melibatkan kaki untuk memukul bola, tetapi, zona-zona di mana tembakan mereka digerakkan beraneka ragam.

Dalam banyak contoh, ‘target’ itu adalah gereja dari kota pesaing - sasaran empuk untuk segala bentuk di bagian depan - tetapi seringkali tidak ada tujuan taktis nyata selain untuk kesenangan komunal yang bersifat merusak sebenarnya

Dokumen-dokumen Cina yang berasal dari tahun ke-2500 sebelum Masehi menyebutkan anak-anak muda menendang suatu objek melalui lubang-lubang di kain yang direntangkan di antara tongkat. Pada abad pertama SM, permainan ini telah berevolusi menjadi zu qiu, kata yang digunakan oleh orang-orang Tiongkok untuk mengartikan sepakbola, dan tsu chu, di mana lawan mainnya berusaha untuk menjebol target yang dibuat dari kain yang ditempelkan sembilan meter dari tanah (Stoke City mungkin cukup berguna).

Variasi lain melibatkan enam papan berbentuk bulan sabit atau kutub, dan bai da, di mana poin diberikan untuk pihak yang melakukan kesalahan paling sedikit, daripada benar-benar menendang apa pun.

Orang Korea dan Maoris merancang suatu versi yang meletakkan satu tiang di tengah lapangan, tepat untuk melakukan keepy-uppy challenge. Sekitar tahun ke-200 setelah Masehi, pasukan Romawi memanjakan diri dengan permainan harpastum, sebuah hobi yang melibatkan kegiatan menendang bola tetapi lebih tentang menjatuhkan tujuh lonceng gladiator dari satu sama lain daripada membawanya ke mana saja.

Suku Aztec memiliki bola-bola dari kulit yang telah dibubut dan dilatih untuk menempatkan mereka di lubang-lubang di dinding - sedikit seperti acara 'Road To Wembley' dari Soccer AM untuk para aktor sinetron dan anggota Kasabian.

Sementara itu, sepak bola yang dilakukan Shrovetide sepanjang Abad Pertengahan Eropa, lebih condong jadi hooliganisme dibanding aturan Asosiasi: geng besar dari yokels yang sangar mendorong kandung kemih menggunakan tinju, kaki dan tongkatDalam banyak contoh, ‘target’ itu adalah gereja dari kota pesaing - sasaran empuk untuk segala bentuk di bagian depan - tetapi seringkali tidak ada tujuan taktis nyata selain untuk kesenangan komunal yang bersifat merusak sebenarnya.

Sebutan pertama untuk gol dalam bentuk fisik bisa dikreditkan untuk penulis John Norden dan Richard Carew pada akhir abad ke-16 dan awal 17 ketika menjelaskan pelemparan Cornish, sebuah kegiatan yang gayanya mirip rugby,yang bebas aturan dan menggunakan bola perak kecil (bisa dibilang seperti quidditch tanpa terbang, pada dasarnya). Carew menggambarkan konstruksi sesuatu yang benar-benar baru. "Dua semak-semak di tanah, sekitar delapan atau 10 kaki terbelah," tulisnya, "mereka mengincar gawang mereka.”

Pages