Selamat Datang QNB League

Selamat datang ISL atau QNB League, penulis kami, Erie Wicaksono menemukan persamaan antara liga kasta tertinggi di Indonesia ini dengan salah satu instant messaging yang paling terkenal di tanah air kita.

Kompetisi domestik tanah air hari ini akan segera bergulir, namun sebelum sampai kesitu ada persamaan dengan salah satu instant messaging paling diminati oleh jutaan rakyat Indonesia yakni BBM (Black Berry Messenger)

Mengapa demikian? Handheld Blackberry atau BB merajai pasar ponsel lokal semenjak perlahan-lahan brand asal Finlandia, Nokia mulai ditinggalkan karena tidak memberikan inovasi terbaru. Menjadi andalan komunikasi warga tanah air bukan tanpa masalah. BBM sering sekali membuat para penggunanya berselisih satu sama lain karena beda pendapat dan yang sering menjadi permasalahan utama adalah, pesan yang tak kunjung sampai ke penerimananya, alias pending.

Kata tersebut sama dengan penyelenggaraan QNB League, pending, atau tertunda. Menurut rencana, Februari, kompetisi sudah bisa berjalan setelah tim verifikasi mengeluarkan keputusan siapa-siapa saja yang berhak tampil.

Penundaan pertama adalah dari awal bulan kedua yang pada akhirnya menjadi berganti kalender. Hal tersebut tak cukup walau ada pengurangan kuota tim, dan disepakati minggu pertama April jadi kick off pertama kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Tahun ini direncanakan kompetisi kembali menggunakan format liga setelah musim kemarin ada dua wilayah. Juara di akhir musim berhak tampil pada babak kualifikasi ronde dua AFC Champions League 2016, sementara nomor dua berlaga di AFC Cup.

Bulan November menjadi akhir dari perjalanan 18 klub peserta, dimana setiap akhir pekan akan ada tiga waktu kick off berbeda yakni 15.00 kemudian, 19.00, dan terakhir 21.00. Setidaknya dua laga bisa berlangsung pada tengah minggu.

Munculnya operating system (OS) Android serta semakin mantapnya iOS di pasar tanah air membuat BB mengalami nasib seperti Nokia. Ratusan instant messaging melengkapi dua OS buat BBM berada di ujung tanduk. Sebagian sudah mulai meninggalkannya, walau masih ada beberapa yang menggunakannya karena enggan melepas daftar kontak yang dimiliki.

Mencoba untuk memperpanjang nafas kehidupan, mereka berganti menyediakan layanan ke dua OS disebut di atas, alhasil pro dan kontra tidak bisa dihindari. Sama juga dengan liga Indonesia sebelumnya, yang tak lepas dari polemik sebelum bergulir. Dua nama besar seperti Persebaya serta Arema nasibnya masih abu-abu dalam mengikuti ajang ini lantaran tak lolos verifikasi dari BOPI. Selain itu ada juga lima klub seperti Mitra Kukar, Pelita Bandung Raya mendapat izin namun dengan catatan tersendiri. Hingga artikel ini diturunkan, Arema dan Persebaya sejauh ini masih mengikuti liga, terlihat dari Persija Jakarta yang sudah terbang ke Malang untuk melakukan pertandingan pertama mereka. 

Rangkaian naik dan turun penyelenggaraan semakin membuat para pendukung loyal tak sabar melihat timnya kembali bertarung menjadi yang terbaik, bahkan para rakyat biasa yang tidak terlalu menyukai sepakbola lokal juga menjadi penasaran, seperti apa sebenarnya kemampuan dari para tim-tim lokal kita? Kenapa selalu bermasalah? Apakah ini semua sesuai dengan apa yang pernah di tulis oleh Hedi tentang profesionalisme tim-tim lokal?

Mampukah Persib Bandung sebagai juara bertahan kembali mengangkat trofi? Atau konsistensi Persipura bisa bawa mereka jadi kampiun lagi? Tim-tim besar juga tengah mengincar hal yang sama untuk melepas dahaga haus akan gelar. Akhir kata, selamat datang QNB League!

Sumber foto utama: www.sepakbola.com