Semua Hal yang Bisa Kita Pelajari dari Kemenangan Indonesia di Kandang Kamboja

Pola serangan masih belum seperti yang diharapkan, tapi tim nasional Indonesia malah menemukan organisasi pertahanan yang mumpuni...

Meski harus bertanding di markas Kamboja, timnas Indonesia berhasil mengalahkan tuan rumah dengan skor 2-0 dalam laga persahabatan guna mempersiapkan tim untuk berlaga di SEA Games 2017 nanti. Gol kemenangan Indonesia berhasil dicetak oleh Irfan Bachdim pada menit ke-26 dan Gian Zola pada menit ke-94.

Kemenangan tersebut semakin mengokohkan superioritas timnas Indonesia atas Kamboja. Sejauh ini, kedua tim sudah bertemu 14 kali di mana Indonesia berhasil menang 13 kali dan hanya sekali bermain imbang. Itu artinya, Indonesia tak pernah kalah saat menghadapi Kamboja.

Menariknya, selain menjadi kemenangan ke-13 Indonesia atas Kamboja, kemenangan pada pertandingan tersebut juga menjadi kemengan pertama Luis Milla, pelatih Indonesia, di laga internasional bersama Indonesia. Ia mengaku senang dengan kemenangan tersebut, dan tak lupa memuji penampilan anak asuhnya secara kesuluruhan.

"Tim main bagus, serta sesuai harapan," kata Milla susudah pertandingan."Kemenangan ini juga bagus untuk menambah kepercayaan diri para pemain."

Lalu, apa saja yang dapat dipelajari dari pertandingan ini?

Indonesia bermain direct

Sebagai jebolan La Masia, akademi sepakbola milik Barcelona, dan mantan pelatih timnas Spanyol U-21, Luis Milla tentu saja diharapkan mampu membuat timnas Indonesia mampu dengan fasih memainkan umpan-umpan pendek satu-dua sentuhan. Selain itu, Ia juga diharapkan mampu membuat timnas Indonesia lebih nyaman saat menguasai bola. Sayangnya hal tersebut sama sekali belum terlihat di beberapa pertandingan terakhir timnas di bawah asuhannya, termasuk saat melawan Kamboja malam tadi.

Dalam pertandingan melawan Kamboja, meski unggul tipis dalam penguasaan bola, 52% berbanding 48%, Indonesia sebetulnya bermain begitu direct. Memang, ada sedikit perubahan di lini belakang timnas Indonesia di mana para pemain belakang Indonesia tidak cepat-cepat mengirimkan umpan lambung ke depan saat menguasai bola. Tetapi saat bola memasuki lini tengah, pemain-pemain tengah Indonesia akan berusaha secepat mungkin mengirimkan umpan ke lini depan, entah kepada Marinus Manewar yang bermain sebagai target-man, maupun kepada Irfan Bachdim dan Febri Haryadi yang bermain sebagai penyerang sayap. Di sepanjang pertandingan tersebut, pemain-pemain tengah Indonesia jarang meretensi bola terlebih dahulu.

Selain itu, setiap serangan yang dibangun timnas Indonesia juga jarang melalui sebuah perencanaan yang matang. Indonesia masih begitu tergantung dengan kemampuan individu yang dimiliki oleh Irfan Bachdim maupun Febri Haryadi. Daripada melakukan umpan-umpan kombinasi, kemampuan dribel kedua penyerang sayap Indonesia tersebut lebih diandalkan untuk membongkar pertahanan kamboja. Pendekatan ini kemudian membuat Indonesia juga tidak mampu menyerang secara kohesif.