Kisah

Seorang Anak Desa di Mesir yang Kini Menjadi Bintang Dunia: Sebuah Kisah Tentang Mo Salah

Mo Salah

Lelaki asal Mesir ini telah membuktikan kelasnya sejak kembali ke sepakbola kasta tertinggi Inggris, dan memastikan fans The Reds tak perlu merindukan Philippe Coutinho. Tak heran jika ia kemudian dijuluki King of the Kop...

We are part of The Trust Project What is it?

Alih Bahasa: M. Rezky Agustyananto

Mohamed Salah menengok ke samping dan menyadari bahwa sebuah bola sepak meluncur secara tak terduga ke arahnya. Ia dengan cepat mengatur tubuhnya dengan ujung kakinya dan menghentikan bola dengan kaki kirinya. Ia mengangkat kepalanya, yang penuh dengan rambut keriting khas itu, dan langsung memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya. Hening menyambut sentuhan pertama yang luar biasa dari pemain sayap Liverpool itu.

Sebuah bola kembali mengarah kencang ke arah Salah. Sekali lagi, ia bergerak untuk menghentikan laju bola dan sekali lagi, bintang Mesir ini memikirkan pilihan selanjutnya. Namun kali ini, alih-alih hening kekaguman, reaksi yang muncul adalah seruan penuh semangat dari mereka yang menyaksikan.

Mengapa ada dua reaksi yang berbeda? Momen kedua di atas terjadi sebelum Salah membawa Liverpool unggul 4-1 atas Manchester City, ketika ia mencungkil bola melewati Ederson di menit ke-68 yang memberikan The Reds kemenangan atas pemimpin klasemen sementara Premier League yang belum terkalahkan hingga sebelum pertandingan itu, dan membuat 50.000 fans di Anfield melonjak kegirangan. Sementara yang diceritakan pertama terjadi 48 jam sebelumnya – di sebuah pagi yang sangat dingin pada pertengahan Januari, di hadapan tak lebih dari selusin orang – ketika Salah hendak masuk ke Sapphire Suite yang bergaya 1980an di Stockport County, yang terletak di samping Edgeley Park untuk melakoni pemotretan untuk debutnya sebagai model sampul majalah FourFourTwo.

Momen yang secara eksklusif dilihat FFT itu seakan menjadi makanan pembuka bagi hidangan utama yang akan disajikan oleh Salah dua hari kemudian; sebuah momen yang menunjukkan kemampuan instingnya. Ia terlihat tak pernah perlu berpikir – tubuhnya seolah langsung bergerak. Segalanya terjadi secara alamiah bagi Mohamed Salah di tahun 2018 ini.

Masa-Masa Sulit

Namun tiga setengah tahun yang lalu, situasi yang dialami Salah di sepakbola Inggris jauh berbeda. Sebuah tendangan di menit ke-40 dalam kemenangan 2-1 Chelsea di babak keempat Piala Liga melawan Shrewsbury Town merangkum kariernya di klub tersebut. Minim kesempatan di bawah asuhan Jose Mourinho, Salah berusaha melepaskan tendangan ke gawang setelah menusuk ke area tengah sembari menggiring bola dari sisi kanan lapangan, menggunakan kaki kirinya yang memang lebih kuat. Hasilnya adalah lemparan ke dalam untuk lawan.

Golnya ke gawang Man City itu adalah gol ke-24 ‘Salah 2.0’ di semua kompetisi pada 2017/18, hanya enam bulan setelah ia kembali ke Premier League, setelah menjadi bintang bersama Fiorentina dan Roma di Serie A. Transfernya yang senilai £37 juta kini terlihat sebagai pembelian yang begitu murah. Performa pemain ini - yang baru-baru ini terpilih sebagai Pemain Terbaik Musim Ini versi PFA (asosiasi pemain pro) dan FWA (asosiasi wartawan sepakbola) dan berpeluang membawa The Reds lolos ke final Liga Champions - begitu bagus sampai-sampai kepergian Coutinho ke Barcelona rasanya tidak berefek apa-apa pada Liverpool.

Mohamed Salah

Photo: Shamil Tanna

Setelah pemotretan selesai dan beberapa bola telah ia mainkan dengan cantik di Stockport, lelaki yang selalu tersenyum ini dengan semangat duduk untuk wawancara besar pertamanya untuk surat kabar maupun majalah sejak kembali ke Inggris.

Ada banyak hal yang bisa dibicarakan dengan Salah, yang kehidupan pribadi atau pemikirannya jarang diketahui publik ini. Tentang urusannya yang belum selesai di Premier League, bagaimana Jurgen Klopp sehari-hari, kelolosan Mesir ke Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam 28 tahun, dan tekanan sebagai suksesor Coutinho untuk posisi Raja The Kop yang baru adalah beberapa agenda kami.

Jadi, seberapa bagus seorang Mo Salah? Dan seberapa bagus Mo Salah menurut dirinya sendiri?

Awal Kariernya

Kita mundur ke tahun 2008, ketika El Mokawloon U-17 baru saja menghancurkan ENPPI 4-0 di Cairo Youth League. Meski Mountain Wolves menang meyakinkan, bek kiri mereka duduk di pojok ruang ganti sambil menahan tangis.

Lima kali lelaki muda ini mendribel bola dari lini belakang melewati banyak pemain lawan dan satu lawan satu dengan kiper ENPPI. Lima kali ia gagal mencetak gol. Pelatih Said El-Shishini kemudian melakukan dua hal. Pertama, ia memberikan pemuda 15 tahun itu 25 pounds Mesir untuk membuatnya merasa lebih baik. Kedua, ia bertekad untuk tidak memainkan Mo Salah sebagai bek kiri lagi. Jika saja posisi bek menjanjikan ini lebih jauh di depan, pikirnya, ia tidak akan terlalu lelah untuk bisa melakukan penyelesaian akhir yang lebih baik saat ia berhasil masuk ke dalam kotak penalti. Salah kini akan bermain sebagai sayap kanan.

“Saya katakan padanya bahwa ia akan menjadi top skorer tim di kedua liga, Liga Kairo U-16 dan juga Liga Nasional U-17,” kenang El-Shishini, yang menjadi pelatih di kedua tim itu. “Pada akhir musim tersebut, Salah total mencetak 35 gol, dan sejak itu ia tidak pernah berhenti mencetak gol.”

Lahir di Nagrig – sebuah desa pertanian di sebuah daerah terbuka yang hijau 100 mil di utara Kairo – Salah jarang terlihat tidak sedang memegang bola. Sepupunya, Abadah Saeed Ghali, yang masih tinggal di desa tersebut, mengingat anak yang ‘kecanduan sepakbola’ itu terus menerus menggiring bola di sekeliling Nagrig.

“Saya bermain di jalanan dengan kakak saya dan teman-teman hingga saya berusia 14 tahun,” kata Salah kepada FFT, setelah sesi memainkan bola dan pemotretannya selesai. “Kenangan sepakbola pertama saya adalah menyaksikan pertandingan Liga Champions. Saya selalu senang menonton [Zinedine] Zidane, [Francesco] Totti, dan Ronaldo dari Brasil. Rasanya luar biasa ketika sekarang bisa mendengar musik [anthem Liga Champions] sebelum kick-off.”

Terinspirasi oleh para pemain hebat yang ia saksikan – yang salah satunya, Totti, kemudian menjadi rekan setimnya di Roma – sepakbola menjadi bagian dari kehidupan Salah. Pada 2006, El Mokawloon, salah satu klub terbesar Kairo yang punya sejarah panjang memproduksi banyak pemain berbakat (dan juga dikenal sebagai Arab Contractors), mendengar tentang seorang pemuda berkaki cepat yang tinggal di Baysoun.

“Itulah ketika karier saya sebagai seorang pesepakbola profesional benar-benar dimulai,” terang Salah, yang sebelumnya bermain untuk tim-tim amatir di wilayah Nagrig dan Tanta, sebuah kota yang lebih besar yang berjarak 90 menit dari kotanya. “Arab Contractors berjarak empat setengah jam dengan tiga atau empat kali naik bus ke Kairo – saya harus pulang-pergi ke sana lima kali dalam seminggu.”

“Saya cukup sering bolos dari sekolah karena itulah satu-satunya cara agar saya bisa datang latihan tepat waktu. Terkadang saya hanya belajar dua jam di sekolah dari jam 7 pagi hingga jam 9 pagi, dan kemudian harus pergi. Menjadi pesepakbola adalah impian saya – ketika kita muda, kita pasti banyak bermimpi.”

Pages