Sepak Bola Indonesia Seperti Tukang Bubur Naik Haji

Ketika sanksi FIFA diberikan kepada Indonesia, di situlah terjadi petaka berkepanjangan di negara yang menjadikan sepak bola adalah segalanya....

Ketika sanksi FIFA akhirnya dijatuhkan pada Mei 2015 lalu, tidak sedikit pecinta sepakbola nasional yang bergembira. Ini, menurut mereka, adalah momentum terbaik untuk membersihkan PSSI dari pejabat-pejabat lama yang bermasalah dan praktek-praktek tak profesional (dan diduga kotor) yang selama ini menghambar sepakbola Indonesia untuk maju.

Ada harapan yang besar pada Imam Nahrawi dan para stafnya di Kemenpora, yang dianggap berani menabrak keangkuhan PSSI yang selama ini terjaga di balik statuta dan ancaman sanksi. Menpora yang satu ini memang bukan ‘orang dalam’ sepakbola Indonesia, tapi keberaniannya untuk melakukan sesuatu demi membersihkan sepakbola nasional memang diacungi jempol oleh para pendukungnya. Walaupun harga yang dibayar cukup mahal: berhentinya aktivitas sepakbola Indonesia di level internasional maupun nasional.

Liga dihentikan, lalu wewenang PSSI diambil alih secara sepihak. PSSI memang berinduk pada FIFA, tetapi mereka tetaplah bagian dari Indonesia, yang artinya harus tunduk pula pada pemerintah. Atas alasan itulah Kemenpora berani bergerak. Karena sepakbola Indonesia sudah dalam kondisi yang buruk dan sudah saatnya pembenahan besar-besaran dilakukan. Dan sepakbola negeri ini tidak akan berjalan tanpa adanya dukungan dari negara.

Awalnya, segalanya terlihat menjanjikan. Tidak sedikit yang berandai-andai Indonesia akan memiliki induk sepakbola yang baru yang dibentuk oleh pemerintah, dan menghapus PSSI – seperti yang terjadi di Brunei beberapa tahun yang lalu. Ada juga yang lebih realistis dan melihat Kemenpora akan tetap mempertahankan PSSI, tapi dengan lebih dahulu membersihkan isinya dari pejabat-pejabat kotor dan tak profesional. Harapannya jelas: bahwa Kemenpora akan tetap tegas, dan bahkan keras, agar PSSI benar-benar bersih dan bisa berfungsi sebagaimana mestinya.

Kapan PSSI dan MENPORA akur kembali? Hanya waktu yang bisa menjawabnya

Sayang, Apa Yang Terjadi Tak Seindah Yang Kita Bayangkan.

Hampir lima bulan berlalu sejak sanksi dijatuhkan, dan sepakbola Indonesia tidak bergerak ke mana-mana. Publik malah dipaksa untuk menyaksikan perang tanpa ujung Kemenpora dan PSSI yang memang berlangsung sengit, dengan berbagai atraksi komentar di media. Ketidakjelasan soal kompetisi masih menghantui, dan kita pun tidak bisa melihat dengan jelas apa sebetulnya yang ingin dilakukan oleh Kemenpora. Tidak ada titik terang yang terlihat. Tidak ada resolusi yang terlihat diupayakan.

Sepakbola Indonesia benar-benar terlihat seperti sedang berjalan di tempat. Korban terbesarnya tentu saja klub dan terutama para pemain yang menggantungkan hidupnya pada sepakbola. Tak ada kompetisi, pemain tidak bisa digaji. Turnamen memang ada – sebagian besar bersifat tarkam, sebagian lagi bersifat nasional seperti Piala Kemerdekaan dan Piala Presiden. Tetapi sehebat-hebatnya sebuah turnamen sepakbola, efek yang dihasilkan tidak akan pernah menyamai kompetisi liga resmi, yang mengutamakan konsistensi performa dalam jangka waktu berbulan-bulan. Artinya, hanya kompetisi liga lah yang bisa menjamin sepakbola negeri ini tetap melangkah maju, walau hanya setapak demi setapak dalam gerakan yang sangat lambat.

Tetapi harus diakui juga bahwa idealnya, kompetisi yang kita rindukan itu baru kembali lagi setelah dilakukan pembersihan besar-besaran, dan dalam waktu sesingkat-singkatnya, terhadap pihak yang selama ini mengelola sepakbola Indonesia. Karena itulah, tidak sedikit yang menginginkan Kemenpora bisa tampil tegas dan tidak setengah-setengah dalam memperbaiki sepakbola, terutama setelah sanksi FIFA jatuh. Sayangnya, hal itu tidak terjadi. Kini, sepakbola Indonesia malah dalam kondisi yang semakin tidak jelas, dan hanya mengandalkan turnamen-turnamen kecil dan jangka pendek untuk tetap eksis.

Harapan kita untuk menyaksikan laga panas seperti AREMA vs Persija di liga resmi, sepertinya saat ini hanya khayalan belaka

Bukan salah Kemenpora sepenuhnya juga, memang. Perlawanan yang diberikan para pejabat PSSI memang tak pernah kendur dan membuat kerja Kemenpora serta Tim Transisi yang dibentuk tidak selancar yang diharapkan. Tapi bukankah hal itu sudah bisa diperkirakan sebelumnya?

Sebetulnya, kalau Kemenpora mau tegas, mereka bisa mengikuti saran dari Zulham Zamrun ketika ia bertemu dengan Presiden Jokowi pasca Piala Presiden lalu: Bukan organisasinya yang dibekukan, tapi orang-orangnya yang tidak bekerja baik dihilangkan. Ada resistensi yang besar dari PSSI? Kalau perlu, lakukan tindakan ekstrem: Buat sebuah federasi baru seperti yang dilakukan Brunei, isi dengan orang-orang yang tepat,lalu  bentuk Komite Normalisasi yang bekerja sama dengan FIFA untuk meyakinkan federasi sepakbola dunia yang sebetulnya sama kotornya itu setuju untuk mengembalikan keanggotaan Indonesia.

Hal itu memang hanya mudah diucapkan (atau dalam hal ini, ditulis), tetapi bukan tidak mungkin dilakukan, kan? Yang terpenting sekarang adalah publik sepakbola perlu melihat bahwa Kemenpora benar-benar bekerja untuk memperbaiki sepakbola Indonesia, dan bukan hanya membaca perang kata-kata yang tak ada habisnya di media. Tidak juga manuver-manuver politik seperti perselisihan mengenai klaim keberhasilan turnamen seperti yang terjadi pada Piala Presiden lalu.

Piala Presiden sukses menjadi pelepas dahaga penikmat sepak bola nasional walaupun hanya sesaat

Kemenpora memang sudah menyebutkan kalau sepakbola Indonesia mungkin akan normal pada Maret 2016 mendatang – tetapi apa langkah yang akan dilakukan? Apa yang BENAR-BENAR akan dilakukan? Publik perlu tahu, dan perlu melihat gebrakan yang lebih nyata dan bukan hanya janji semata.

Maret 2016 masih 5 bulan lagi – dan tidak ada jaminan kalau segalanya benar-benar bisa kembali normal sesuai target yang dicanangkan. Sementara itu, negara-negara tetangga kita semakin jauh meninggalkan Indonesia. Klub Malaysia, Johor Darul Tazim, melaju ke final Piala AFC 2015, sementara Thailand sudah dipastikan lolos hingga babak ketiga kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Asia – sebuah prestasi yang sangat bagus bagi tim Asia Tenggara. Sedangkan negara kecil Singapura punya peluang besar untuk membuat Jepang gagal lolos ke Piala Dunia untuk pertama kalinya sejak hampir dua dekade lalu. Mereka semua terus berjalan maju, sementara Indonesia malah berjalan ke mundur, ditarik oleh kemelut demi kemelut yang seakan tak pernah punya akhir cerita layaknya sinetron Tukang Bubur Naik Haji...

Sumber foto utama: Msports.net