Sepakbola dan Politik adalah Dua Dunia yang Tak Bisa Dipisahkan

Gerard Pique dihujat karena menyuarakan opini politiknya, sementara Bobotoh dihukum karena menunjukkan dukungannya pada Rohingya. Sepakbola memang sungguh naif...

Ketika Komisi Disiplin PSSI menghukum Persib Bandung dan Bobotoh dengan denda karena membuat sebuah koreo dengan tulisan ‘Save Rohingya’, kemarahan langsung muncul di media sosial. PSSI dianggap mengada-ada, memberikan hukuman untuk sebuah aksi yang kemanusiaan di atas tribun. Bobotoh kemudian ‘membalasnya’ dengan sebuah aksi menarik: uang denda yang harus dibayarkan Persib tidak diambil dari uang kas klub melainkan menggunakan hasil saweran dengan uang koin.

Walau kemarahan Bobotoh bisa dimengerti, sikap Komdis PSSI juga sebetulnya bisa dimengerti. Layaknya solidaritas untuk Palestina yang sudah ditunjukkan oleh baik pemain maupun suporter, jika dilakukan di dalam stadion, pihak otoritas bisa saja menganggapnya sebagai sebuah aksi politik/aksi yang menyangkut SARA.

Bukan hanya PSSI saja yang memberikan hukuman atas aksi-aksi seperti ini. Setelah fans Celtic mengeluarkan banyak bendera Palestina di tribun di tengah pertandingan Liga Champions tahun lalu, UEFA memberikan mereka sanksi denda. Penyebabnya sama: UEFA melihatnya sebagai sebuah aksi politik. Dan sepakbola, sesuai peraturan dari FIFA, badan tertinggi sepakbola, ingin selalu menjauhkan diri dari politik.

Tahun lalu, suporter Celtic memberikan dukungannya bagi Palestina

Tapi keyakinan FIFA bahwa sepakbola harus dijauhkan dari politik ini harus kembali kita pertanyakan setelah apa yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir; benarkah ini adalah pilihan yang ideal? Atau ini hanyalah sebuah sikap naif para pemangku kepentingan di dunia sepakbola?

Manusia Selalu Berpolitik

Anda tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari politik. Karena pada dasarnya, manusia selalu berpolitik

Sejujurnya, hanya sedikit yang bisa saya ingat dari pelajaran yang saya dapatkan di bangku kuliah. Tapi di antara yang sedikit itu, salah satunya adalah kata-kata salah satu dosen mata kuliah Ilmu Politik: Anda tidak akan pernah bisa melepaskan diri dari politik. Karena pada dasarnya, manusia selalu berpolitik.

Pesepakbola juga manusia. Pesepakbola juga warga negara yang memiliki pemikiran dan opininya masing-masing. Wajar juga jika beberapa di antara mereka memiliki kesadaran politik yang lebih tinggi daripada yang lainnya. Karenanya, apa yang dikatakan oleh Gerard Pique baru-baru ini, jika bukan sesuatu hal yang baru, adalah sesuatu yang yang niscaya, namun ditutupi dengan kenaifan anggapan bahwa “sepakbola tidak boleh dicampuri oleh politik”.