Seperti Apa Jose Mourinho di Mata Mantan Rekan-Rekannya?

Sosok asal Portugal ini bersiap untuk menandatangani kontrak di Old Trafford, dan dunia sepakbola pun menantikan kembalinya sang sosok kontroversial. FFT merangkum opini mantan pemain, rekan kerja, dan bahkan rivalnya soal dirinya...

Anda mungkin mencintainya atau membencinya, tetapi semua orang memiliki opini tersendiri soal Jose Mourinho.

Dan suka ataupun tidak, ia kini dalam perjalanan kembali ke Premier League bersama Manchester United. Cahayanya tak meredup meski setelah menjalani musim yang begitu buruk di Chelsea – dan itu karena kita tidak mungkin melupakan prestasi-prestasinya selama ini.

Pada akhirnya, ini adalah manajer yang memimpin dua klub menjuarai Liga Champions, membawa Real Madrid menjuarai La Liga terakhir kalinya pada 2012, dan memberikan Chelsea tiga gelar Premier League dalam dua era berbeda. Jadi, seperti apa sosoknya di mata para rekan kerjanya?  

Frank Lampard (Chelsea, 2001-2014)

Lampard di bawah Jose

  • Di Chelsea sebelum kedatangan Mourinho
  • Premier League: 2004, 2005; Piala FA 2007; Piala Liga 2005, 2007

“Saya memiliki banyak manajer yang sangat bagus, tetapi teknik motivasi Jose adalah yang paling luar biasa, baik dengan menendang papan tulis atau membangun kepercayaan diri tim. Ia selalu sangat percaya diri.”

“Pada saat turun minum kami mungkin imbang 0-0, tetapi Anda masuk ke ruang ganti dan ia akan mengatakan, ‘Kita akan menang 4-0, kita akan bermain sangat bagus, saya bisa merasakannya.’ Dan umumnya itu akan terjadi. Itu adalah pertama kalinya saya mendengar hal itu karena para manajer tidak pernah mengatakan hal seperti itu karena mereka berpikir hal tersebut akan membuat para pemain merasa santai dan menganggap pertandingan akan mudah.”

“Saya menyukai perasaan menjadi klub yang konsisten di era Jose. Ketika ia berada di sini untuk pertama kali, kami menang hampir setiap minggunya."

Petr Cech, Frank Lampard, Didier Drogba, dan William Gallas merayakan gelar juara Premier League Chelsea

Mourinho memenangkan Premier League di tahun 2005 dan 2006 di era pertamanya bersama Chelsea

Deco (Porto, 1999-2004)

Deco di bawah Jose

  • Di Porto sebelum kedatangan Mourinho
  • Primeira Liga 2003, 2004; Taça de Portugal 2003; Piala UEFA 2003; Liga Champions 2004

“Saya membunyai banyak pelatih penting dalam karier saya tetapi saat itu Mourinho membawa sesuatu yang berbeda; ia membawa ambisi, karena saat itu di Portugal, sangat sulit bagi sebuah klub untuk berpikir bisa memenangkan Liga Champions. Tentu saja, Porto pernah memenangkannya di masa lalu, tetapi itu adalah era yang berbeda. Setelah (aturan) Bosman, lebih mudah bagi para pemain untuk pindah, dan klub-klub seperti Barcelona, Chelsea, Madrid, Manchester United bisa membeli para pemain terbaik.”

“Ia membawa sesuatu yang berbeda; ide-ide baru dan kepercayaan diri untuk memenangkan sesuatu bersama sebuah klub Portugal. Mourinho telah mempelajari permainan ini dalam waktu yang lama sebelumnya, menonton tim-tim lain, dan hal bagusnya adalah semua yang kami lakukan di sesi latihan terjadi di pertandingan, yang memberikan para pemain kepercayaan pada pelatih. Ketika Anda telah bersiap untuk setiap situasi yang bisa terjadi, itu artinya Anda akan lebih siap daripada tim lainnya.”

“Ia adalah seorang pemenang. Sulit baginya menerima hasil yang tidak sesuai keinginannya. Saya tidak ingat ia pernah begitu hancur tetapi terkadang ketika kami kalah – yang jika Anda ingat, tidak terjadi terlalu sering di masa-masa kami – ia akan sulit menerimanya."

Deco merayakan golnya di final Liga Champions 2004

Nama Mourinho melesat setelah membawa Porto memenangi Liga Champions

Samuel Eto'o (Inter & Chelsea, 2009-11 & 2013-14)

Eto'o di bawah Jose

  • Direkrut oleh Mourinho pada 2009 (Inter) dan 2013 (Chelsea)
  • Serie A 2010; Coppa Italia 2010; Liga Champions 2010

“Jose adalah teman saya dan ia akan selalu menjadi teman saya, tak peduli apapun komentar yang ia buat soal saya. Saya pikir bukan hal yang bagus jika hubungan rusak karena hal-hal kecil. Kami memiliki begitu banyak kenangan bersama, dan semuanya sangat berharga bagi saya. Apa yang ia katakana tidak menyakiti saya karena saya tahu ia adalah sosok yang baik – yah, saya memang tua tetapi saya mencetak lebih banyak gol dari semua pemain muda!”

“Apa yang terjadi pada Jose di Chelsea musim ini adalah sebuah kejutan. Ini adalah kerugian yang besar bagi klub. Mourinho adalah sosok yang sangat berbeda dari apa yang Anda lihat di media. Ia menyenangkan, baik, dan ramah."

Marco Materazzi (Inter, 2001-2011)

Materazzi di bawah Jose

  • Di Inter sebelum kedatangan Mourinho
  • Serie A 2009, 2010; Coppa Italia 2010; Liga Champions 2010

“Saya senang punya tato-tato yang didedikasikan untuk teman-teman saya; saya punya sebuah frase dari Mourinho.”

“Emosi saya ketika mengucapkan selamat tinggal pada Mourinho setelah final Liga Champions 2010 sebetulnya lebih terasa seperti kemarahan. Saya tahu bahwa tanpanya kami tidak akan mengulangi musim seperti itu lagi. Melihatnya di Real Madrid, saya pikir ia juga memiliki beberapa penyesalan (Madrid kalah dari Barcelona di liga dan Liga Champions). Saya 110% yakin bahwa dengannya, kami akan memenangkan setidaknya Piala Super UEFA dan scudetto.”

“Menit pertama ia memasukkan saya di final Liga Champions adalah garis akhir dari proses dua tahun bersama Mourinho, dan 10 tahun dengan Inter. Saya menghargai kebesaran seorang manajer yang memenangi sebuah final dan tidak menggunakan pergantian pemain terakhirnya hanya untuk membiarkan pemain itu masuk – manajer tahu pentingnya detail."

Marco Materazzi dipeluk para fans Inter setelah Inter juara Liga Champions 2010

Materazzi dipeluk para fans Inter

Eidur Gudjohnsen (Chelsea, 2000-2006)

Gudjohnsen di bawah Jose

  • Di Chelsea sebelum kedatangan Mourinho
  • Premier League 2005, 2006; Piala Liga 2005

“Sehari setelah Mourinho ditunjuk di Chelsea, Peter Kenyon menelepon saya dan mengatakan, ‘Eidur, manajer barumu ingin berbicara denganmu.’ Jose menelepon dan mengatakan, ‘Eidur, saya manajer baru Anda. Jangan pernah berpikir Anda akan meninggalkan Chelsea. Saya ingin Anda di sini dan membutuhkan Anda dalam kondisi terbaik. Siap-siap untuk mulai bekerja pada 5 Juli.’ Itu saja. Ia tidak perlu mengatakan apapun lagi.”

“Kemiripan antara dia dan Guardiola adalah perhatian pada detail dengan cara mereka bekerja. Dalam hal sepakbola, Jose sedikit lebih defensif – bukan hanya berpikir defensif, tetapi dalam cara ia menganalisis lawan, Mourinho lebih bertipe ‘datang dan dapatkan sendiri apa yang Anda mau’. Jose menyukai konfrontasi dan diskusi – diskusi yang panas, tentu."

Eidur Gudjohnsen mencetak gol ke gawang Tim Howard saat Manchester United menghadapi Chelsea tahun 2004

Gudjohnsen mencetak gol kompetitif pertama di era pertama Jose Mourinho di Chelsea

Hernan Crespo (Chelsea, 2003-2008)

Crespo di bawah Jose

  • Di Chelsea sebelum kedatangan Mourinho, direkrut saat di Inter (2008)
  • Premier League 2006; Serie A 2009

“Hubungan saya dengan Mourinho spektakuler. Ketika ia tiba di Chelsea, ia ingin saya bertahan. Saya mengatakan saya ingin bertahan, tetapi saya juga mengatakan, ‘Tetapi Jose, Milan memanggil saya.’ Jadi saya katakana, ‘Begini, Jose, ini sangat sulit, tetapi jika saya harus memilih antara Chelsea dan Milan, maka saya akan memilih Milan.’

“Jose menjawab, ‘OK, saya akan menunggu Anda selama satu minggu. Jika dalam satu minggu kesepakatan dengan Milan tidak terjadi, maka Anda akan bertahan di Chelsea. Karena jika Anda tidak bertahan, maka kami harus mencari pengganti.'"

Benni McCarthy (Porto, 2002-06)

McCarthy di bawah Jose

  • Direkrut oleh Mourinho di Porto (2002 sebagai pinjaman, 2003 transfer permanen)
  • Primeira Liga 2004; Liga Champions 2004

“Siapa yang akan menang dalam pertarungan antara saya dan Mourinho? Jika pertarungan fisik, maka saya akan membuatnya KO dengan satu pukulan. Namun dalam hal sepakbola, ia Mike Tyson. Saya tidak punya kesempatan. Ia adalah pelatih terbaik yang pernah saya dapatkan: paling berskill, cerdas, dan serba tahu.”

“Kami mengalahkan Manchester United di Liga Champions karena sebelum pertandingan ia mengatakan untuk mempertahankan posisi kami, terus rapat, dan cegah mereka untuk mencetak gol – karena jika mereka mencetak gol, kami habis. Tetapi jika mereka menghancurkan kami dan mencetak gol, itulah ketika kami menyerang dan bermain melawan mereka seperti kami bermain di Porto. Jika mereka mencetak gol, imbang 0-0 bagus untuk kami.”

“United mencetak gol dan kami mengutuk diri kami sendiri, tetapi sebelum mereka bisa menyerang lagi, kami langsung habis-habisan. Saya pikir mereka tidak pernah dipermainkan seperti itu."

Para pemain Porto berbaris sebelum leg tandang melawan Manchester United di 2004

Para pemain Porto berbaris sebelum leg tandang melawan Manchester United di 2004