Analisa

Serie A Pada Dekade '90an: Ketika Baggio, Batistuta, dan Sepakbola Italia Menguasai Dunia

Serie A '90s

Selama era 1990an, Italia adalah rumah sepakbola yang tak terbantahkan lagi. Pada dekade tersebut, klub-klub Serie A merebut 13 trofi Eropa, enam rekor transfer dunia, dan enam pemenang Ballon d'Or, ditambah bintang-bintang ikonik dari Asprilla hingga Zidane. Selamat datang di masa ketika Calcio adalah rajanya sepakbola...

We are part of The Trust Project What is it?

Pietro Fanna sedang berjalan di sepanjang koridor di dalam Stadio Marcantonio Bentegodi, dan dia bisa mendengar suara tangisan. Saat kapten Verona ini mendekati sumber suara itu, terungkaplah kalau semua suara itu berasal dari ruang ganti tim tamu: ruang ganti yang berisi skuat AC Milan yang dilatih Arrigo Sacchi.

Sebulan kemudian, Milan mengalahkan Benfica di Wina untuk memenangkan Piala Eropa dua kali berturut-turut sekaligus memperkuat status mereka sebagai salah satu tim terhebat sepanjang masa. Sampai kemenangan Real Madrid pada 2017 lalu atas Juventus di Cardiff, 27 tahun kemudian, tidak ada klub lain yang mampu mempertahankan trofi yang terkenal itu.

Kemenangan Milan pada tahun 1990 itu memastikan bahwa hanya sekali dalam sejarah ketiga piala bergengsi Eropa direbut oleh klub-klub dari negara yang sama. Sebelum Luciano Pavarotti mulai melonggarkan pita suaranya dengan Italia sedang bersiap untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia 1990, Gianluca Vialli mencetak dua gol saat Sampdoria mengalahkan Anderlecht untuk mengangkat Piala Winners Cup Eropa. Di Piala UEFA, Juventus mengalahkan Fiorentina dalam pertempuran sesama klub Italia di partai puncak. Itu adalah awal dari satu dekade dominasi Serie A di atas lapangan – dan di dalam hati kita.

Akhir – dan awal – dari sesuatu   

Jika ada fakta lain yang dibutuhkan untuk menunjukkan kekuatan Serie A saat itu, pertimbangkan ini: tidak satupun dari empat tim Italia yang menjadi finalis di turnamen-turnamen Eropa itu yang memenangkan gelar liga pada 1989/90. Suara tangis yang didengar Fanna yang berasal dari ruang ganti Milan itu bukanlah air mata kegembiraan: itu adalah air mata keputusasaan; air mata karena impian mereka untuk memenangkan Scudetto sudah berakhir.

Milan tak pernah suka bermain di Verona. Kekalahan 5-3 mereka di sana membuat mereka kehilangan posisi teratas pada Serie A tahun 1973, sebuah kekalahan yang kemudian dikenal sebagai 'La Fatal Verona'. Kini mereka kembali untuk menulis sekuel kisah itu, ketika mereka memiliki jumlah poin yang sama dengan Napoli yang diperkuat Diego Maradona di puncak klasemen sementara Serie A dengan dua pertandingan tersisa. Rossoneri telah memimpin klasemen hingga awal April, ketika Napoli mendapat tiga poin dari pertandingan melawan Atalanta yang ditiadakan setelah pemain tengah Brazil, Alemao, terkena koin yang dilemparkan dari penonton.

Dapatkan edisi terbaru majalah FourFourTwo - tersedia dalam bentuk cetak, atau juga di iPad dan iPhone – sekarang!

Milan memimpin 1-0 di Verona, tapi kemudian semuanya mulai berantakan. Tuan rumah yang sudah dipastikan terdegradasi berhasil menyamakan kedudukan, dan Milan akhirnya kehilangan arah. Marah dengan serangkaian keputusan yang dibuat oleh wasit Rosario Lo Bello, Frank Rijkaard diusir dari lapangan – sang wasit kemudian mengklaim bahwa pemain Belanda itu dua kali meludahinya ("Sekali di tangan, yang satunya lagi di kaki"), hanya dua bulan sebelum Rijkaard membuat insiden meludah yang terkenal ke arah pemain Jerman, Rudi Voller, dalam sebuah pertandingan Piala Dunia.

Marco van Basten segera menyusul Rijkaard setelah merobek bajunya dengan emosional. Bahkan Sacchi juga keluar, sementara Alessandro Costacurta menjadi pemain ketiga yang dikeluarkan karena mengamuk kepada hakim garis setelah Verona mencetak gol kemenangan.

Napoli memenangkan dua pertandingan terakhir mereka di liga dan Maradona merebut Scudetto untuk kedua kalinya, empat tahun setelah ia membawa Partenopei mengangkat mahkota juara Serie A mereka yang pertama. Tapi itu kemudian menjadi akhir dari kejayaan Diego di Italia. Ia kemudian harus turun dari panggung utama dan diskors selama 15 bulan setelah positif menggunakan kokain pada bulan Maret 1991. Maradonna tidak pernah lagi bermain untuk klub dari San Paolo tersebut. Masa keemasan Gli Azzurri telah usai.

Tapi meski kepergian Maradona memberikan dampak buruk untuk Napoli, kepergiannya nyaris tidak berpengaruh apa-apa pada kesuksesan sepak bola Italia yang terus berlanjut. Serie A tidak bergantung hanya pada satu orang: pemain bintang berlimpah di sini, dan mereka ada di mana-mana. Pemenang Ballon d'Or, Lothar Matthaus ada di Inter; pemain termahal di dunia, Roberto Baggio, bergabung dengan Juventus.

Italia secara tradisional merupakan liga yang memiliki banyak uang untuk menarik para pemain top – sebelum kepindahan Baggio dari Fiorentina pada tahun 1990, 11 dari 13 rekor transfer dunia sebelumnya juga dibuat oleh klub-klub Serie A. Ditambah dengan keputusan UEFA untuk melarang klub-klub Inggris bermain di kompetisi Eropa pada tahun 1985, dan klub-klub Serie A pun dengan mudah mendominasi di atas lapangan. Selama era 90an, klub-klub Italia memenangkan 13 dari 30 trofi Eropa yang tersedia, dan 25 finalis.

"Serie A adalah liga terbaik dan paling menarik di Eropa pada era 1990an," kenang Aron Winter, yang meninggalkan Ajax pada tahun 1992 untuk bermain bagi Lazio dan kemudian Inter di sebagian karirnya yang menghasilkan 84 penampilan untuk Belanda. "Spanyol yang sekarang adalah seperti Italia pada saat itu. Begitu saya mulai bermain di Serie A, saya menyadari ini liga dengan level yang tinggi – sangat sulit untuk meraih kemenangan. Italia adalah negara tempat para pemain terbaik di dunia bermain.”

Gazzamania

Penggemar sepak bola Inggris baru mulai memperhatikan Serie A dengan baik pada tahun 1992, karena satu orang. Napoli, Juventus dan Roma sama-sama tertarik untuk mendatangkan Paul Gascoigne setelah melihat penampilannya di Piala Dunia Italia 1990, tapi akhirnya Lazio lah yang menyetujui kesepakatan dengan Spurs pada 1991. Ketika ditanya apa yang diperlukan untuk meyakinkannya bergabung, Gazza dengan bercanda meminta pertenakan ikan trout dan ia terkejut karena Lazio sepakat untuk mengabulkannya.

Cedera lutut yang dideritanya ketika final Piala FA 1991 menunda kepindahannya, dan mendorong dilakukannya negosiasi ulang biaya transfer, dari £8,5 juta menjadi £5,5 juta. Terjadi kemunduran dalam pemulihan cederanya setelah dia diserang saat berada di sebuah klub malam di Newcastle, yang juga merusak rencana aneh Gascoigne untuk oleh Glenn Roeder didampingi di Italia. Dia telah setuju untuk pindah ke kota Roma untuk mengawasi mantan rekan satu timnya di Newcastle tersebut, sebelum kemudian membatalkan rencananya karena marah melihat Gazza berada di klub malam pada malam itu.

Gascoigne akhirnya tiba di Roma pada bulan Mei 1992 dan digaji £22.000 per minggu – jumlah uang yang besar pada saat itu. Lazio memberinya dua pengawal untuk menjaga rumahnya, meskipun hal itu hampir menjadi kesalahan setelah salah satu dari penjaga menyangka Gazza sebagai pencuri, dan mengarahkan pistol ke kepalanya dan berteriak, "Jangan bergerak!"

Debutnya untuk Lazio, di kandang Genoa, merupakan salah satu pertandingan Serie A pertama yang ditayangkan langsung di TV Inggris: ingin memanfaatkan fenomena Gazzamania, Channel 4 memutuskan untuk membeli hak siar Serie A di musim panas 1992. Bagi penggemar di Inggris , hal tersebut menjadi jendela untuk memasuki dunia yang berbeda, setelah sebelumnya hanya bisa menonton penampilan klub-klub Italia dalam pertemuan dengan klub Inggris di kompetisi Eropa.

Channel 4 menyiarkan pertandingan live setiap hari Minggu sore – semua pertandingan Serie A dilaksanakan pada waktu yang sama saat itu – dan diiringi dengan acara highlight Sabtu pagi yaitu Gazzetta Football Italia. Stasiun TV tersebut awalnya ingin Gascoigne sendiri yang menjadi presenter, sampai semua orang menyadari bahwa itu adalah gagasan sangat aneh dan James Richardson – yang merupakan produser junior TV yang kurang dikenal saat itu – diminta untuk melakukannya. Jutaan orang menyetel saluran tersebut setiap minggu.

Lazio bermain imbang 1-1 melawan Genoa pada hari itu, kemudian mengalahkan Parma 5-2 sebelum akhirnya mata Gazza terbuka saat melawan Milan di San Siro. "Saya ingat ketika itu berpikir, 'Ini bagus, kita seharusnya baik-baik saja di sini'," katanya kepada FFT suatu kali, mengingat kembali 10 menit pertama pertandingan yang menggembirakan. "Tapi kemudian kami dihancurkan. Tim itu sangat menakutkan." Milan menang 5-3, setelah mencatatkan kemenangan 7-3 atas Fiorentina seminggu sebelumnya.

Gascoigne dengan cepat mendapatkan status pahlawan yang dikultuskan di kalangan fans Lazio, berkat golnya di akhir pertandingan yang menyamakan kedudukan dalam derby Roma pertamanya. Dia juga membuat rambut dengan kuncir kuda, karena keinginannya yang tak dapat dijelaskan agar terlihat seperti Mick Hucknall, dan juga sangat populer di antara rekan setimnya di Biancocelesti.

Kelakuan caper tidak pernah jauh darinya, seperti saat dia membujuk pengawalnya untuk menyelundupkan dia beserta temannya, Jimmy 'Five Bellies' Gardner, ke dalam brankas bank di Roma, di mana mereka duduk di sebuah gunung uang senilai £50 juta hanya untuk iseng belaka. Pernah juga suatu kali Gascoigne yang ketakutan berhasil membunuh seekor ular dengan sapu di rumahnya, lalu membawanya ke tempat latihan dan memasukkannya ke dalam saku Roberto Di Matteo.

“Dia mampu melakukan apapun," kata mantan striker Lazio, Beppe Signori, kepada FFT sambil tersenyum. "Pernah sekali dia muncul sambil telanjang di aula hotel saat kami pergi retret, dan kemudian dia melakukan hal yang sama di bis tim dalam perjalanan yang lain. Ketika kami melewati terowongan gelap, dia benar-benar membuka pakaiannya sampai telanjang dan duduk di sebelah pelatih, Dino Zoff!”

"Setiap hari di akhir latihan, Anda harus selalu berhati-hati dengan pegangan pintu mobil Anda saat Anda hendak masuk. Jika basah dan bukan air, itu berarti dia telah ke sana.”

Pages