Shinji Okazaki: Memang Pemain Bintang Atau Cuma Sensasi Satu Musim?

Tahun lalu, salah satu cerita yang paling menarik dan dibicarakan dari fitur Asia50 kami adalah apakah Shinji Kagawa dinilai terlalu berlebihan atau sebenarnya justru terlalu diremehkan, dan dua wartawan senior kami diminta untuk menuliskan pendapat pro dan kontra mengenai hal itu. Tahun ini, rekan senegaranya dan juara Premier League, Shinji Okazaki, berada di kondisi yang sama: apakah ia seorang pemain bintang atau performanya di musim 2015/16 lalu cuma sensasi sesaat saja?

Okazaki adalah salah satu yang terbaik di benua ini, tulis Michael Church

Shinji Okazaki: Juara Premier League

Itu adalah kalimat yang mungkin tidak pernah terpikirkan untuk ditulis kecuali untuk kisah fantasi atau bahan candaan, namun pada pertengahan tahun lalu, faktanya, Leicester City menciptakan salah satu kejutan terbesar di dunia olahraga.

Apapun pendapat Anda, tetap saja kisah kesuksesan Leicester itu luar biasa dan kontribusi yang diberikan oleh Okazaki tidak bisa diremehkan

Besarnya kesuksesan juara Leicester bergantung pada perspektif Anda. Beberapa orang menganggapnya sebagai kesalahan terbesar sepanjang masa di sepakbola Inggris dan salah satu yang terbesar dalam sejarah sepakbola.

Yang lainnya – termasuk saya sendiri – menganggapnya tidak seberapa dibandingkan dengan Nottingham Forest yang memenangi trofi Piala Champions dua kali beruntun lebih dari tiga dekade yang lalu. Meski begitu, hal tersebut tidak mengurangi kebesaran sejarah yang dibuat Leicester.

Apapun pendapat Anda, tetap saja kisah kesuksesan Leicester itu luar biasa dan kontribusi yang diberikan oleh Okazaki tidak bisa diremehkan.

Sementara Riyad Mahrez dan Jamie Vardy menjadi sorotan utama dan N'Golo Kante menuai banyak pujian, Okazaki adalah bagian penting dari pasukan juara Claudio Ranieri.

Ketika ia tampil bagus, ia benar-benar bagus

Dari awal 2016 sampai akhir musim, Okazaki merupakan pemain penting di susunan pemain inti The Foxes saat mereka terus berjuang dari pekan ke pekan sampai gelar juara yang tampaknya mustahil diraih berhasil mereka dapatkan, yang membuat Leicester City menjadi semacam ikon kesuksesan para non-unggulan.

Ironisnya, setelah tampil mengesankan di Bundesliga, pertama dengan Stuttgart dan kemudian bersama Mainz, sebelumnya ada banyak yang beranggapan – sekali lagi, termasuk saya – bahwa pindah ke Leicester adalah sebuah langkah mundur bagi Okazaki.

Namun Okazaki masih bisa menunjukkan kontribusi pentingnya di tim tersebut, dengan menjadi pemain Jepang terkini yang mencetak gol di Liga Champions

Penampilannya untuk klub dan negaranya dalam tahun-tahun sebelumnya telah membuktikan bahwa mantan pemain Shimizu S-Pulse ini pantas mendapatkan kesempatan yang lebih baik daripada bergabung dengan klub yang berpeluang akan harus terus berjuang di zona degradasi.

Namun, dalam waktu satu tahun setelah pindah ke Inggris, Leicester dan Okazaki menjadi juara. Apakah ini sebuah kebetulan?

Tentu saja, tidak sesederhana itu, baik untuk Okazaki maupun The Foxes.

Sudah diperkirakan sebelumnya jika performa mereka akan menurun pada paruh kedua tahun lalu saat Ranieri berupaya lebih jauh dan klub berusaha menambah pilihan di lini serang dengan mendatangkan Ahmed Musa dan Islam Slimani.

Namun Okazaki masih bisa menunjukkan kontribusi pentingnya di tim tersebut, dengan menjadi pemain Jepang terkini yang mencetak gol di Liga Champions dalam kemenangan klubnya atas Brugge pada November lalu.

Ranieri sendiri terpaksa mengakuinya.

Okazaki berperan besar dalam salah satu kejutan terbesar di dunia olahraga

"Pada saat ini kami bermain lebih baik dengan Shinji Okazaki," kata pelatih Italia itu setelah kalah 2-1 di tangan West Bromich Albion pada bulan November. "Hari ini, kami tidak (bermain lebih baik), tapi kami sering membutuhkannya."

Jadi, apakah Okazaki pantas dianggap sebagai pemain terbaik di Asia saat ini karena performa bagusnya sepanjang 2016?

Nah, pertimbangkan ini: hanya dua pemain Asia – Park Ji-sung dan Shinji Kagawa – yang pernah menjuarai gelar Premier League sebelumnya. Dan meski saya bukanlah penggemar fanatik Premier League, hal itu harus diakui sebagai prestasi besar.

Ada pemain-pemain lain akan mendapatkan dukungan untuk meraih gelar ini: Omar Abdulrahman, Omar Al Somah, Zheng Zhi, dan sejumlah pemain yang bermain di negeri mereka sendiri memiliki banyak penggemar yang akan menyebut mereka sebagai pemain terbaik di benua ini, namun menurut saya para pemain tersebut tidak diuji dengan cara yang sama dengan mereka yang bermain di Eropa setiap harinya.

Di banyak klub Eropa, sesi latihan lebih ketat daripada pertandingan liga di sebagian besar negara Asia. Untuk berprestasi di sepakbola Eropa dan melakukannya secara konsisten adalah pertanda bahwa seorang pemain berada pada level yang lebih tinggi.

Inilah yang telah dilakukan Okazaki dan dia telah melakukannya untuk klub yang mencapai prestasi yang seharusnya di luar kemampuan mereka.

Bagaimana bisa Shinji Okazaki tidak dipandang sebagai salah satu pemain terbaik benua ini?

[NEXT UP: The case against Okazaki sitting among Asia's footballing elite in 2017]