Spanyol 1982: Grup Neraka Terberat yang Sesungguhnya

Juara bertahan, jawara lima kali, dan tim pemenang tahun itu - hanya ada satu tim yang mampu bertahan: nah itu, ucap Paul Simpson, benar-benar namanya grup neraka.

“Ada bau busuk di sini,” ucap beberapa pemain Italia saat mereka membuka jendela yang ada di ruang ganti setelah mengalahkan Brasil 3-2 yang menjadi salah satu laga terhebat yang ada dalam sejarah Piala Dunia. Itu memang bukan cara yang biasa untuk merayakan kemenangan, namun bagi tim Azzurri, Piala Dunia itu bukanlah Piala Dunia biasa. 

Liputan media benar-benar memuakkan. Satu koran Italia bahkan menuduh Paolo Rossi dan Antonio Cabrini "hidup bagai suami istri"-dan mereka pun melarang koran itu beredar. Usai berlaga dengan Peru dan menuai hasil seri 1-1, Antonio Matarrese, Presiden Liga Italia, telah menyatakan bahwa tim Italia sungguh memalukan dan ia ingin pergi ke ruang ganti lalu menendangi bokong mereka semua. 

17 hari kemudian, setelah Italia melumat tim yang paling difavoritkan dalam turnamen tersebut, Materrese memang pergi ke ruang ganti--bukan untuk menendangi bokong mereka tapi untuk meminta berfoto bersama. Seperti yang dikenang gelandang Marco Tardelli: “Beberapa anggota skuat yang kurang sopan membuka jendela, dan meneriakkan “Ada bau busuk di sini.”

Matarrese beruntung. Seperti yang kemudian diungkapkan oleh pelatih Italia Enzo Bearzot kepada FFT, "Ada seorang jurnalis yang datang untuk memberi selamat pada kami dan beberapa pemain sebenarnya mendatanginya, mereka terlihat sangat geram."

Grup C di putaran dua Piala Dunia 1982 benar-benar rajanya grup neraka. Hanya berisi tiga tim: Argentina, sang juara bertahan; Brasil, negara yang paling sering memenangi Piala Dunia; dan Italia, yang nantinya akan menjuarai Piala Dunia pada musim panas itu.

Tak seperti komposisi grup putaran pertama pada masa kini, saat itu hanya ada satu tim yang akan lolos ke babak selanjutnya, dan tim itu tidak akan menghadapi lawan yang mudah.  Jika dibandingkan dengan kombinasi tim maut ini, semua grup neraka lain yang pernah ada, paling-paling cuma cocok menyandang predikat “grup yang agak kurang nyaman”.

Allah Bapa yang Berbakat

Setelah Italia terjatuh ke Grup C karena selisih gol yang menghantui mereka setelah bermain imbang tiga kali, ada dua tim asal Amerika Selatan yang diduga akan bertarung untuk merebut tempat di semifinal. Brasil merupakan tim yang sungguh berbakat, terutama karena kehadiran pemain-pemain andal seperti Cerezo, Elder, Falcao, Socrates, dan Zico di lini tengah.

Di bawah asuhan pelatih Tele Santana, mereka telah mengakhiri upaya petaka Claudio Coutinho yang mencoba menggabungkan gaya bermain Brasil dengan akurasi pertahanan ala Eropa dan kembali pada gaya bermain jogo bonito (permainan yang indah), yang berhasil membuahkan 10 gol pada laga-laga awal pada fase grup.

Argentina telah memenangi turnamen pada tahun 1978 dan menambahkan pemain terbaik dunia, Diego Maradona, ke dalam skuat mereka. Jadi, bagaimana mungkin mereka bisa gagal? Faktanya, serdadu Cesar Luios Menotti kalah di laga pembukaan dari Belgia. 

Santana, Bearzot and Menotti: Remember, kids, smoking isn't cool

Santana, Bearzot and Menotti: Remember, kids, smoking isn't cool

Hari setelah kekalahan 1-0 itu, perang Falkland pun berakhir dan Ossie Ardiles, yang sepupunya tewas saat konflik, yakin bahwa rasa syok yang tim rasakan karena perang Falkland-lah yang menurunkan mental tim. Jorge Valdano, salah satu pemain muda yang masuk timnas, menyebut bahwa bukan Falkland yang membebani pikiran tim, tapi adanya ketidakcocokan dalam tim yang terpecah menjadi dua kubu: pemain senior 1978 dan pemain yang baru masuk timnas.  

Yang lebih buruk, baik Menotti atau para punggawanya sama sekali tidak menyadari betapa bernafsunya lawan-lawan mereka untuk menetralisir Maradona, atau paling tidak memikirkan cara bagaimana mengatasi hal itu. Ketika Argentina dan Italia membuka laga awal Grup C pada tanggal 29 Juni, di Stadion Siarra di kota Barcelona yang dipenuhi penonton, aksi habis-habisan Claudio Gentile untuk mematahkan langkah Maradona-lah yang nantinya menjadi penentu laga. 

A rare sighting of Maradona escaping Gentile

A rare sighting of Maradona escaping Gentile

Jalan terjal menuju kemenangan

Tim Italia asuhan Bearzot sering dianggap sebagai tim yang  akan kesulitan untuk meraih kemenangan di Piala Dunia 1982. Sergio di Cesare, kepala hubungan internasional federasi sepak bola Italia dan mantan kepala surat kabar Gazzetta Dello Sport, memohon agar tim merubah gaya permainan mereka. “Bearzot terkesan akan cara Bobby Moore dan Franz Beckenbauer mengartikan peran libero, yang langsung mengubah posisi menjadi gelandang saat tim mereka menguasai bola. Dan untuk itu, diapun membuat Gaetano Scirea menjadi Beckenbauer Italia versinya. 

Dalam formasi 3-5-2 milik Bearzot, Scirea dan bek kiri, Antonio Cabrini, merasa lebih mudah untuk melakukan serangan. Kuncinya, menurut Di Cesare, adalah "Italia berhasil menghemat energi meraka dengan membiarkan bola yang "berlari" lebih sering, kemudian mengopernya dengan akurat dan vertikal."

Diiringi pertahanan yang solid, terutama dengan Dino Zoff yang menjaga gawang, Italia memberi celah bagi gelandang serang mereka yang dijagokan Giancarlo Antognini untuk lebih kreatif. “Pada awal musim 1981/82, dia mengalami koma selama dua hari setelah bergumul dengan seorang kiper,” ucap Di Cesare, "dan dia tidak berlatih dengan cukup baik. Tapi ia merupakan pilar tim, karena kecerdasan, umpan-umpan panjang vertikal, dan pemahamannya soal geometri sepak bola yang tinggi." 

Di lini depan, Bearzot hanya bisa bergantung pada Rossi, penyerang Juventus yang lama tak bermain karena terlibat skandal taruhan yang membuatnya harus absen selama 2 tahun. Pelatih tersebut terpaksa memilih Rossi hanya karena dia tampil hebat bersama Roberto Bettega pada tahun 1978, namun Bettega tidak lagi masuk ke skuat. Hanya Rossi yang tersisa. 

Rossi: Italy's main poacher was a big risk

Rossi: Italy's main poacher was a big risk

“Saya bisa dengan jujur mengatakan bahwa jika saya punya pilihan lain saat itu, saya tidak akan mengikutsertakannya. Saya mengambil resiko besar dengan memasukkannya ke skuat dengan harapan ia mampu mengikuti ritme turnamen yang penuh dengan tekanan tersebut dan berkeinginan untuk menebus kesalahan yang telah dibuatnya dulu. Namun, saya membutuhkan seorang pencetak gol, seseorang untuk memburu bola di kotak penalti yang cocok dengan gaya permainan yang ingin saya mainkan. Jika saya tidak memilihnya, maka saya tidak akan memiliki seseorang yang bisa mengobrak-abrik pertahanan lawan," kata Bearzot. 

Argentina menyerah

Dalam laga kedua Italia di tiga putaran pertama fase grup, di mana mereka menuai hasil seri 1-1 dari Peru, Rossi terlalu kesakitan untuk mampu meneruskan laga: “Saya tidak merasakan ada gairah di mata, dan kaki saya,” akunya. Masih jengkel karena dihukum Bearzot dalam sesi latihan praturnamen, dia juga terlihat melempem kala menghadapi Argentina.

29 June 1982: Argentina and Italy prepare to face off

29 June 1982: Argentina and Italy prepare to face off

Dia nyaris memberi Italia gol kedua. Dengan mudah, ia menembakkan sebuah tendangan yang meluncur lurus ke arah kiper, Ubaldo Fillol, dan untungnya, berkat halauan sang kiper yang tak begitu efektif, bola yang memantul tersebut berakhir di kaki Cabrini yang langsung menyarangkannya ke pojok gawang. 

Gol pertama Italia yang dicetak dalam waktu singkat telah menunjukkan bagaimana mereka berhasil membuat bola yang "berlari" ke sana kemari sesuai keinginan mereka. Cabrini mengumpan bola kepada Rossi, di sisi lapangan Italia dekat titik sentral. Dia dengan cepat mengopernya ke Bruno Conti yang langsung mengirim bola jauh ke titik yang dibuka Tardelli untuk Antognoni yang berdiri tepat di depan area penalti. Terlihat santai, namun sebenarnya berpikir dengan cepat, Antognoni melepas bola ke arah kirinya di mana Tardelli langsung dengan tajam melesakkannya ke gawang.   

Dengan sisa tujuh menit lagi, Daniel Passarella merebut bola dari Zoff hasil sebuah tendangan bebas kala tim Italia tengah mengatur barisan pemain, tapi sayangnya ia belum berhasil mencetak gol. Juara bertahan tersebut harus melumat Brasil  agar bisa melaju ke babak selanjutnya. 

Pelanggaran serius yang diterima Serginho membawa Brasil unggul kala menghadapi anak asuhan Menotti pada menit ke-11 saat bola hasil tendangan bebas Eder membentur mistar, yang langsung dilesakkan kembali oleh Zico ke dalam gawang. Pelan-pelan, gelandang Brasil mulai mendominasi dan dua umpan luar biasa Zico berhasil mengantarkan mereka pada kemenangan. 

2 July 1982: Maradona and Falcao fight for supremacy

2 July 1982: Maradona and Falcao fight for supremacy

Pada menit ke-66, dia menurunkan Falcao di bagian kanan untuk memberi umpan silang bagi Serginho yang sukses disundulnya masuk ke gawang lawan, yang menjadi gol kedua Brasil. Sembilan menit kemudian, langkahnya terlihat seolah-olah akan dimatikan oleh dua pemain Argentina, namun entah bagaimana, ia bisa berhasil melepaskan umpan diagonal kepada Junior yang berhasil membawa tim unggul 3-0. 

Ramon Diaz, sang penyerang, berhasil mencetak satu gol untuk Argentina, namun timnya menggali kuburan mereka sendiri karena dua pelanggaran berat yang mereka lakukan: pertama dilakukan oleh Passarella (yang seharusnya dikenai kartu merah) dan satu lagi dilakukan oleh Maradona (yang memang diganjar kartu merah) terhadap bek Batista. Itu adalah tanda ketidakmampuan sang pemain Argentina yang nantinya mengakui bahwa ia telah menyepak pemain yang keliru. 

Laga ulangan tahun 1970 

Setelah para mantan juara tersingkir, ajang itu akan  mementaskan laga ulang antara dua tim yang menghuni partai final PD 1970. Tim Brasil sungguh percaya diri, seperti yang digembar-gemborkan oleh bek Oscar: “Kami akan menang 1-0 dan saya yang akan mencetak gol itu.” Tapi agar bisa menang 1-0, tim Santana tidak boleh kebobolan, hasil yang hanya mampu mereka tuai saat melawan Selandia Baru, tim yang lebih berminat untuk bertukar kaos dibanding bermain sepak bola. 

Brasil tak perlu menang, namun mereka juga tak ingin meraih hasil imbang. Terkadang, mereka memasang formasi 2-7-1. Mentalitas seperti itu akan membantu membuka jalan bagi mereka untuk meraih hasil yang banyak orang Brasil sebut sebagai "petaka Sarria", yang dikenang publik dunia sebagai laga terhebat Piala Dunia yang pernah ada. 

Pertanda pertama bahwa petaka dan kehebatan mungkin akan menyelimuti laga muncul setelah lima menit. Conti dibiarkan menggiring bola sejauh 40 yard dan langsung melepas bola ke arah Cabrini yang dengan cepat menjadikannya umpan melengkung cantik ke daerah penalti. Rossi yang tidak begitu kesulitan dalam memperdaya penguntitnya  langsung mengejar bola dan tanpa harus melompat, ia berhasil menyundul bola masuk ke gawang yang menjadi gol pertamanya di partai final

5 July 1982: Rossi starts the march into legend

5 July 1982: Rossi starts the march into legend

Gol itu menyengat Zico dan Socrates. Sebuah umpan cantik yang diciptakan Zico (yang menurut Gentille tidak begitu efektif) mampu melampaui tiga bek Italia yang diselesaikan Socrates dengan begitu anggun lewat tembakan datar dari sudut sempit. Namun, ketika  Brasil terlihat mulai mengendalikan permainan, Cerezo melepas umpan matang  ke arah Junior. Dan Rossi pun langsung menyambar umpan tersebut dan melepaskan sebuah tendangan yang mengundang decak kagum melewati kiper Valdir Peres. Junior melirik ke seberang, dan melihat bahwa Cerezo tengah menangis kemudian ia berkata pada rekan setimnya yang tersedu-sedu tersebut: “Jika kau tidak berhenti menangis, aku akan meninju wajahmu.”

Cerezo--kabarnya, bersama bek Leandro--merasa putus asa saat paruh waktu. Namun, ia menebus kesalahan yang dilakukannya pada menit ke-68 dengan kecohan yang sangat lihai yang berhasil membuka ruang bagi Falcao untuk menyamakan kedudukan lewat sebuah tembakan yang sukses melewati Zoff yang tadinya berdiri di posisi yang mustahil untuk dilalui. Falcao merayakan gol itu bak seorang pemain yang merasa bahwa ia sudah masuk ke babak semifinal. Namun, tujuh menit kemudian, tembakan pojok yang dilepaskan oleh Tardelli jatuh di kaki Rossi, yang kali ini lagi-lagi tidak dijaga dan hanya berjarak enam yard dari gawang, dan ia pun menuntaskan hattrick-nya. Pada waktu yang bersamaan di Rio, seorang fan yang berusia 20 tahun menembak mati dirinya.  

Rossi menjadi tajuk utama yang diberi judul "Comeback yang begitu sempurna". Bahkan Hollywood pun tak mampu memberi judul yang lebih bagus. Namun, Antognoni menyaingi Zico sebagai pemain terbaik di lapangan, karena berhasil meracik banyak serangan balik Italia, yang menciptakan peluang bagi Cabrini untuk mencetak gol dan membuat satu gol dianulir.

Pasca pertandingan

Bagi Zico, kekalahan itu menandai awal dari era "bermain untuk menang, bagaimanapun caranya". Bearzot memiliki pandangan berbeda untuk laga ini: “Laga melawan Argentina itu bersahaja. Tapi laga melawan Brasil itu benar-benar agung. Meski begitu, ada orang-orang yang berbicara pedas soal kemenangan kami. Gol ketiga kami dicetak setelah sebuah tendangan pojok di mana semua pemain Brasil berkumpul di kotak penalti. Saya ulangi: semua pemain Brasil di kotak penalti. Tapi masih saja kami dituduh memainkan sepak bola dengan pola menyerang balik.”

Di ruang ganti Brasil, banyak yang muram, bahkan ada beberapa yang meratap. Santana dengan pelan berkata kepada mereka: “kita sudah tampil semaksimal mungkin. Tim Azzurri asuhan Bearzot akan lanjut untuk menyingkirkan Polandia dan Jerman Barat, tapi seperti yang diungkapkannya pada FFT: “Saya sudah merasa bahwa kamilah jawara dunia setelah laga yang dilakoni Brasil tersebut.” 

11 July 1982: Bearzot's Italy, the champions of the world

11 July 1982: Bearzot's Italy, the champions of the world

Timnas Brasil yang diasuh Santana sering digambarkan sebagai tim terhebat yang tak pernah menjuarai Piala Dunia. Sebenarnya, mereka adalah gelandang terbaik yang tak pernah merengkuh takhta Piala Dunia. Syang, mereka didukung oleh kiper yang tak mampu menghalau bola dan pertahanan bobrok yang membuat Rossi leluasa mencetak gol.

Kemudian ada penyerang pilihan nomor tiga, Serginho, yang meskipun tidak dungu, seperti yang dituduhkan beberapa orang, bisa melakukan tindakan yang begitu ceroboh. Bahkan Santana pernah sekali mengatakan bahwa setelah menggantikannya dalam sebuah laga: “Sekarang bola menjadi bundar kembali (gangguan sudah pergi)”. Harusnya Brasil mampu menjuarai Piala Dunia itu karena mereka punya pemain seperti Zico, Falcao, Socrates, Eder, di tim tangguh mereka yang membuat Real Madrid bertekuk lutut. 

Orang-orang masih mengerumuni Rossi di jalan. “Mereka sering ingin ngobrol soal pengalaman mereka, di mana mereka menonton laga,” ujarnya pada FFT. “Rasanya menyenangkan bisa menjadi bagian kecil dari cerita masyarakat, menjadi titik yang sering mereka bicarakan.   

Dia memang menjadi titik acuan di Brasil, sebaliknya Santana, yang dilempari dengan buah busuk di bandara Rio, menunjukkan sikap ksatria dengan memuji kejeniusan sang penyerang. Kemudian pada musim panas, ketika wabah flu melanda Brasil, wabah itu langsung dijuluki sebagai ‘flu Rossi’.  

More from World Cup Wonderland
FourFourTwo's interactive 2014 World Cup guide