Stats Zone Membuktikan Bahwa Klopp Berhasil Mengubah Liverpool

Gegenpressing adalah kata yang sangat banyak digunakan oleh semua orang ketika Juergen Klopp datang ke Liverpool – tapi dengan alasan yang bagus...

Setelah lima pertandingan memimpin The Reds, ini adalah waktu yang cukup tepat untuk menilai apa yang sudah dilakukan oleh Klopp untuk Liverpool dan seberapa efektif metodenya. Apalagi, mengingat bahwa pertandingan kelimanya adalah kemenangan 3-1 yang impresif atas juara bertahan Chelsea, sudah jelas bahwa mantan bos Borussia Dortmund ini melakukan hal yang benar.

Kata yang paling sering digunakan untuk merangkum filosofi Klopp adalah gegenpressing. Istilah ini sebelumnya jarang digunakan di sepakbola Inggris, tetapi langsung menjadi kata yang populer dalam waktu singkat, dan hal itu mengacu pada fokus Klopp dalam merebut bola kembali seggera setelah timnya kehilangan bola. Ini tidak terlalu sama dengan pressing biasa, yang mengacu pada aktivitas menutup ruang lawan sejak wilayah mereka – ketika lawan bermain umpan pendek dari tendangan gawang, misalnya. Gegenpressing adalah sesuatu yang lebih spesifik.

“Gegenpressing adalah playmaker terbaik yang ada,” ujar Klopp suatu kali pada FourFourTwo. “Momen terbaik adalah untuk memenangi bola segera setelah tim Anda kehilangannya. Lawan masih mencari orientasi ke mana akan mengumpan bola.” Itu berarti tim asuhan Klopp tidak langsung mengambil posisi defensif yang dalam, namun malah berusaha memenangi bola secepatnya, biasanya dalam posisi yang lebih ofensif.

Gegenpressing Sudah Berjalan di Liverpool

Satu insiden dalam kemenangan 3-1 di Stamford Bridge merangkum pendekatan ini dengan sempurna. Di menit ke-20, Philippe Coutinho gagal mengontrol bola di sekitar area penalti Chelsea, tetapi ketika Chelsea berusaha untuk memberikan bola ke depan, Alberto Moreno berlari ke depan untuk segera merebut bola. Setelah beberapa pertukaran umpan di luar kotak penalti, Nathaniel Clyne melepaskan tendangan yang melebar. Itu tidak spektakuler – Asmir Begovic bahkan tak perlu repot melakukan penyelamatan – tetapi adalah hasil dari gegenpressing.

Tiga tipe statistik dari penampilan Liverpool menunjukkan imbas pendekatan ini, terutama jika dibandingkan dengan pertandingan terakhir Brendan Rodgers, yaitu hasil imbang 1-1 dengan Everton.

Tiga tipe statistik dari penampilan Liverpool menunjukkan imbas pendekatan ini, terutama jika dibandingkan dengan pertandingan terakhir Brendan Rodgers.

Pertama, jumlah tekel. Jumlahnya sendiri nyaris sama – pada Sabtu lalu, Liverpool memenangi 28 dari 37 tekel, sementara di laga terakhir Rodgers, statistiknya adalah 27 dari 39 tekel. Dari situ terlihat bahwa perbedaannya hanya kecil.

Namun faktor yang krusial adalah posisi di mana tekel-tekel ini dilakukan. Lihat perbedaan dari posisi di bawah ini – ada 15 tekel yang dilakukan di wilayah lawan pada akhir pekan lalu, dibandingkan dengan hanya enam di laga bersama Rodgers. Ada beberapa tekel yang terjadi di sekitar area penalti lawan juga, sementara di Goodison Park, Liverpool bahkan tidak berusaha melakukannya.

Hal yang sama pun terjadi dalam hal interception. Sembilan dibanding delapan adalah perbandingan yang tak berarti, tetapi posisi dilakukannya intercept lebih menunjukkan perbedaannya – Liverpool melakukan lima intercept di wilayah Chelsea, dibandingkan hanya dua di wilayah Everton. Hanya satu intercept yang dilakukan di pinggir kotak penalti Liverpool saat melawan The Blues, dibandingkan lima saat melawan Everton. Statistik tersebut menunjukkan bahwa Liverpool semakin proaktif.

Dan, akhirnya, adalah soal penyelamatan bola. Menurut Opta, penyelamatan bola atau ball recovery adalah ketika pemain memenangi kembali bola ketika bola terlepas atau di mana bola bergulir langsung ke arah pemain dari lawannya – jadi tidak seaktif seperti interception atau tekel tetapi melibatkan pengambilalihan bola dari lawan.

Sekali lagi, angkanya tak berbeda: 56 penyelamatan bola di akhir pekan kemarin, dan 56 di laga terakhir Rodgers. Tetapi di Goodison Park hanya lima penyelamatan bola yang dilakukan di wilayah lawan, dan satu di sepertiga akhir lapangan, jumlah itu meningkat menjadi 14 di wilayah lawan dan delapan penyelamatan di sepertiga akhir lapangan saat melawan Chelsea. Perbedaannya cukup mencolok.

Jelas, Liverpool perlu meningkatkan diri dalam hal ketika mereka telah menguasai bola – mereka kesulitan membuat peluang bagus saat melawan Chelsea, dan tidak bisa bergantung terus pada sihir Coutinho dan tendangan yang terdefleksi setiap minggunya. Tetapi organisasi permainan tanpa bola mereka sudah sangat impresif, dan Klopp akan sangat puas dengan usaha para pemainnya sejauh ini.

Baca fitur seperti ini lainnya hanya di FFT.com • Analisis

STATS ZONE GRATIS di iOS • GRATIS di Android