Sudah Cukup, Arsene Wenger!

“Saya cukup yakin dia harus bertahan di klub, tapi mungkin ini waktu baginya untuk membuka pintu kepada hal lainnya juga. Saya pikir Arsenal telah kehilangan sesuatu selama bertahun-tahun, yakni mental.”

“Saya pikir Arsene telah melakukan pekerjaan hebat selama 20 tahun selama dia ada di sana dan saya sangat menghargainya, tapi jika Anda lihat titel yang mereka menangi, itu diraih karena mereka punya pemimpin-pemimpin hebat di dalam tim.”

Ucapan itu dilontarkan oleh legenda Arsenal era 90-an, Emmanuel Petit, pada 2016 silam ketika Arsene Wenger kembali gagal membawa klub bersaing merebutkan titel Premier League. Petit secara tidak langsung meminta Wenger untuk mawas diri dan angkat kaki dari klub yang sudah diasuhnya sejak 1996.

Petit boleh jadi salah satu legenda dan juga mantan anak asuh Wenger yang vokal menyuarakan pendapatnya, ketika eks anak asuh lainnya dilematis mengutarakannya, karena menghargai sosok Wenger, tapi, di sisi lain merasa sedih melihat puasa gelar Premier League Arsenal yang terakhir diraih pada 2004.

Rindu masa-masa ini, fans Arsenal?

Berbicara dahaga titel Premier League, Liverpool memang mengalami puasa gelar yang lebih panjang sejak terakhirnya meraihnya pada 1990 (format masih bernama First Division). Namun, manajemen paling tidak berusaha mencari solusi ketika memperkuat skuat yang juga dibarengi pencarian manajer yang tepat.

Hal itu berbanding terbalik dengan Arsenal. Manajemen cenderung bahagia dengan kenyamanan duduk di empat besar alias zona Liga Champions, pemasukan bertambah dan finansial klub sehat, berujung dengan amannya posisi Wenger.

Manajemen Arsenal cenderung bahagia dengan kenyamanan duduk di empat besar alias zona Liga Champions, pemasukan bertambah dan finansial klub sehat, berujung dengan amannya posisi Wenger.

Internal klub boleh jadi ada di zona nyaman dan Wenger juga tahu posisinya aman, tapi, jika melihat sepak terjang Arsenal hingga 2017 ini, sampai Premier League berjalan 24 pekan, boleh jadi harmonisasi itu bisa berakhir. Realitas kejam, amuk fans bisa berakhir dengan pemecatan manajer, itulah fakta di sepak bola modern.

Bisa jadi di tahun ke-21 Wenger menangani Arsenal ini, menjadi akhir era dan tahun terakhirnya bersama klub London Utara.

Fans Terpecah Belah

Kontrak Wenger di Arsenal bertahan hingga akhir musim 2016/17 dan kengototan sang profesor bertahan dalam beberapa musim terakhir telah memecah fans. Penggemar Arsenal kini punya dua kategori; pro dan kontra Wenger.

Bagi pendukung Wenger, sudah jelas mereka masih terjebak nostalgia masa lalu akan peran vital Wenger dalam pembangunan filosofi dan menstabilkan keuangan Arsenal. Mereka masih percaya Wenger akan mengakhiri penantian titel Premier League dan manajer yang tepat untuk Arsenal.

Kontrak Wenger di Arsenal bertahan hingga akhir musim 2016/17 dan kengototan sang profesor bertahan dalam beberapa musim terakhir telah memecah fans. Penggemar Arsenal kini punya dua kategori; pro dan kontra Wenger

“Saya paham rasa frustrasi dari fans Arsenal dengan manajemen tim saat ini, tapi, jujur saya tak yakin klub saat ini mencari pengganti sepadan untuknya (Wenger). Penghinaan yang didapatnya dari fans kami sangat konyol. Dia jelas mencintai  klub dan melakukan segalanya dengan cara terbaik. Saya pikir banyak fans yang harus ingat apa yang dilakukannya untuk klub,” tutur fans yang mendukung Wenger, Luke Murtagh, sebagaimana diberitakan Telegraph.

“Saya mungkin terlalu loyal dengannya karena dia memberikan saya banyak kenangan hebat tentang sepakbola, tapi saya tak yakin rumput akan menghijau di sisi lainnya (membaik dengan keberadaan manajer baru).”

Adu debat bisa saja terjadi di antara Murtagh dengan penggemar yang ingin Wenger angkat kaki seperti Andy Robinson. Ia menghargai jasa dan pengabdian Wenger, namun sadar, realitas saat menyakitkan untuk diikutinya sebagai suporter fanatik Arsenal.

Sebagian fans sudah jengah dengan kegagalan demi kegagalan Arsenal

“Membosankan menjadi fans Arsenal saat ini, tahu bahwa Anda akan menyaksikan musim yang sama lagi dan lagi. Manajer baru memang tak menjamin kesuksesan, tapi paling tidak berpotensi tidak menyuguhkan permainan medioker di Premier League dan Liga Champions, seperti yang biasa kami perlihatkan,” imbuh Robinson.