Surat Peringatan dan Anggaran yang Rendah - Beratnya Karier Rahmad Darmawan di Malaysia Super League

Promosi yang mengejutkan ke Malaysia Super League (MSL) normalnya akan disambut dengan kegembiraan dan optimism, tetapi bagi T-Team, kesempatan ini terbukti malah menyusahkan mereka

Hidup terasa kurang menyenangkan bagi pelatih T-Team, Rahmad Darmawan.

Mantan pelatih timnas Indonesia U-23 ini kesulitan berkarier di MSL karena timnya tidak memiliki kedalaman tim yang cukup atau pemain-pemain berbakat yang ia butuhkan untuk menghadapi klub-klub besar.

Skuat Rahmad musim ini kebanyakan berisi pemain-pemain yang ditolak Terengganu.

Anggaran kami RM6 juta (Rp19,56 miliar), yang sebetulnya merupakan anggaran kami untuk perjalanan kami di Malaysia Premier League. Anggaran ini tidak bertambah ketika kami mendapatkan promosi

- Rahmad Darmawan

T-Team sendiri bisa promosi ke divisi teratas sepakbola Malaysia ini menyusul keputusan pihak federasi untuk mencoret LionsXII, klub Singapura, dari kompetisi mereka, dan kemudian memenangkan laga play-off melawan Armed Forces pada Januari lalu.

Dan dengan jadwal yang begitu padat, Rahmad hanya memiliki pilihan yang terbatas dalam skuat berisi 29 pemain miliknya, yang, menurut salah satu staf tim, hanya 17 pemain di antaranya yang benar-benar memenuhi standar MSL.

Muak dan frustasi, pelatih yang disapa RD ini, yang kini berusia 50 tahun, sempat membuka peluang untuk menjadi pelatih tim nasional Indonesia pada Juni lalu.

Tetapi ia harus memenuhi kontraknya bersama T-Team yang akan berlangsung hingga 30 November mendatang.

“Saya adalah salah satu kandidatnya, tetapi saya harus menolak tawaran dari PSSI karena mereka ingin saya mulai bekerja pada Oktober,” jelas RD.

Meski minim talenta berkualitas, T-Team tidak menambah kekuatan mereka pada bursa transfer tengah musim yang baru saja berlalu karena klub ini tidak mampu membeli pemain-pemain besar.

Pelatih T-Team, Rahmad Darmawan, sedang beraksi

Pelatih T-Team, Rahmad Darmawan. Foto: alchetron.com

Rahmad juga merasa tidak perlu menambah pemain baru karena timnya saat ini berada di posisi keempat di klasemen sementara sebelum jeda internasional, meski permasalahan terlihat mulai muncul.

“T-Team adalah klub dengan anggaran kecil,” kata eks pemain timnas Indonesia ini.

“Anggaran kami RM6 juta (Rp19,56 miliar), yang sebetulnya merupakan anggaran kami untuk perjalanan kami di Malaysia Premier League (MPL) sebelum kami mendapatkan promosi setelah mengalahkan Armed Forces di playoff awal tahun ini.”

“Anggaran ini tidak bertambah ketika kami mendapatkan promosi.”

Saya perlu menciptakan strategi baru, tetapi sulit untuk melakukannya ketika tidak mempunyai pemain-pemain yang diperlukan

“Terlebih lagi, sudah terlalu terlambat untuk menambah kekuatan tim, dan ketika bursa transfer tengah musim tiba, klub tidak mampu untuk membeli kontrak pemain-pemain berkualitas yang sudah diikat oleh tim-tim lain.”

T-Team belum pernah menang lagi di liga sejak kemenangan 3-2 atas Penang pada April lalu, meski mereka berhasil mengakhiri rangkaian delapan laga tanpa kemenangan di semua kompetisi dengan mengalahkan Sarawak 2-0 di Piala Malaysia pada 29 Juli kemarin di Kuching.

“Saya mendapatkan masalah cedera dan pilihan yang terbatas, jadi saya bereksperimen dengan para pemain muda, tetapi mereka gagal memberikan imbas positif,” katanya.

“Rentetan delapan laga tanpa kemenangan adalah salah satu momen terburuk saya sebagai seorang pelatih… semua yang kami lakukan gagal meningkatkan performa kami.”

“Saya masih harus menemukan solusi untuk menutupi kelemahan kami. Tim-tim lain telah mempelajari permainan kami dan mereka tahun bahwa kami sangat bergantung pada gelandang Mali, Makan Konate, dan striker Brasil, Patrick Dos Santos Cruz, untuk memenangi pertandingan.”

“Permainan kami menjadi terlalu mudah diprediksi. Saya perlu menciptakan strategi baru, tetapi sulit untuk melakukannya ketika tidak mempunyai pemain-pemain yang diperlukan.”

Para pemain merayakan kemenangan atas Sarawak yang mengakhiri rangkaian laga tanpa kemenangan T-Team

Kemenangan atas Sarawak mungkin telah menyelamatkan pekerjaannya karena Rahmad dan beberapa pemain yang kurang mampu tampil baik mendapatkan surat peringatan dari manajemen sebelum pertandingan tersebu.

Hanya tiga poin yang memisahkan kami dengan Kedah yang berada di posisi keempat

Manajemen T-Team mengevaluasi performa tim setiap lima pertandingan dan jika mereka gagal mencapai target, bonus pemain antara RM1.000 sampai RM3.000 tidak dibayarkan.

Banyak kritik yang mengatakan bahwa RD sedang berusaha untuk dipecat karena ada tawaran dari Indonesia, tetapi sang pelatih membantah rumor tersebut dan mengatakan bahwa timnya memang gagal menemukan performa terbaik.

“Pekerjaan di Indonesia bisa menunggu. Saya fokus untuk mencapai target-target di sini. Kami mendapatkan target untuk finis di posisi lima teratas MSL dan juga lolos ke perempat final Piala Malaysia.”

"Kami sekarang berada di posisi delapan dengan 16 poin dan hanya tiga poin yang memisahkan kami dengan Kedah yang berada di posisi keempat… saya pikir kami bisa mencapai target kami. Kami juga berada di trek yang benar di Piala Malaysia,” ujar eks pelatih Sriwijaya FC dan Persipura Jayapura ini.

Konate dan Cruz telah menjadi kartu AS tim ini di sepanjang musim, dan keduanya telah mencetak setengah dari total 26 gol di semua kompetisi, sementara striker Asrol Ibrahim merupakan top skorer di antara pemain-pemain lokal dengan tiga gol.

T-Team akan melanjutkan perjalanan mereka di MSL pada hari Rabu besok melawan Selangor di Kuala Terengganu.

Photos: T-Team FC unless stated