Sorot Bakat

Sutanto Tan: Merintis Kembali Jejak Tionghoa Untuk Sepakbola Indonesia

Pemain Tionghoa di tim nasional sepakbola Indonesia adalah pemandangan yang langka sejak pertengahan 1960an. Sutanto Tan menjadi generasi terkini yang akan mendobrak anggapan itu.

We are part of The Trust Project What is it?

Cerita 60 detik

Sebagai olahraga tim yang dimainkan oleh lebih banyak pemain dibanding rata-rata olahraga tim lainnya, unsur terpenting dalam permainan sepak bola adalah kebersamaan. Menyatukan 11 kepala demi kesuksesan tim, meredam ego bagi mereka yang tak cukup beruntung dan terpinggir di bangku cadangan, jelas bukan perkara mudah. Satu kampung halaman, satu warna kulit, dan satu bahasa pun tak menghapus kemungkinan adanya perpecahan dalam tubuh sebuah tim sepak bola.

Tapi sepak bola juga bisa menjadi alat yang luar biasa untuk melancarkan misi persatuan bagi negara yang dihuni berbagai bangsa. Sejarah mencatat kejayaan Prancis di Piala Dunia 1998 diraih oleh sekelompok pemain multi ras. Kemenangan luar biasa 3-0 atas Brasil di final merupakan contoh bahwa sepak bola menyediakan ruang bagi perbedaan untuk memenangkan pertarungan. Jerman di Piala Dunia 2016 menjadi contoh berikutnya.

Di Indonesia, negeri di mana masyarakatnya terdiri dari ribuan latar budaya, bahasa, dan suku, perbedaan adalah takdir. Tak perlu mencomot 'warga pendatang' untuk sekedar memberikan contoh perbedaan warna kulit karena ciri fisik yang di tinggal di ujung barat dan timur negeri ini saja sudah begitu berbeda. Negeri ini semakin berwarna dan ramai budaya dengan eksistensi warga berdarah Arab, India, dan Tionghoa.

Dalam sejarah sepak bola Indonesia sendiri, etnis Tionghoa pernah turut berkontribusi penting untuk menjadikan sepak bola sebagai salah satu perlawanan terhadap kepongahan penjajah Belanda. Penulis buku Tionghoa Surabaya dalam Sepak bola (2010), Bayu Aji, pernah menuturkan bahwa kelompok etnis Tionghoa Surabaya sudah mendirikan sebuah klub sepak bola pada 1915. Pergerakan ini seperti rintisan bagi etnis Tionghoa untuk kemudian berperan membawa negeri ini, meski masih menenteng nama Hindia Belanda, berlaga di Piala Dunia 1938 di Prancis. Tan "Bing" Mo Heng - yang merupakan kiper utama tim- Tan Hong Djien, Tan See Handi adalah beberapa sederet peranakan Tionghoa yang mencicipi turnamen internasional tersebut bersama rekan-rekannya yang berdarah Jawa, Maluku, serta Indo-Belanda.

Napak tilas etnis Tionghoa dalam persepakbolaan Indonesia tak cuma sampai di situ. Pada Olimpiade 1956 di Australia, Tan Liong Houw alias Latief Harris Tanoto berperan besar mengantar timnas Indonesia ke perempat final. Pemain dengan julukan 'Macan Betawi' ini, bersama rekan-rekannya seperti Ramang, Maulwi Saelan, Kwee Kiat Sek, Thio Him Tjiang, dan Beng Ing Hien, mampu menahan seri Uni Soviet 0-0, sebelum akhirnya kalah 0-4 dalam laga ulangan.

Saya bangga bisa dipanggil timnas sebagai seorang keturunan Tionghoa

- Sutanto Tan

Romansa etnis Tionghoa dengan sepak bola Indonesia mulai terkubur di awal 60an. Diawali dengan kasus suap yang menyeret sejumlah pemain timnas dalam beberapa laga persahabatan menghadapi Yugolavia, Malmo (Swedia), Thailand, dan Vietnam Selatan menjelang ajang Asian Games IV 1962. Setidaknya 18 pemain dinyatakan terlibat dalam kasus suap tersebut, termasuk beberapa pemain Tionghoa yang saat itu menjadi andalan Merah Putih.

Memanasnya situasi politik pada 1965, yang dipuncaki dengan meletusnya Gestapu, membuat etnis Tionghoa kian terpojok. Nyaris tak tersisa lagi darah Tionghoa mengalir dalam denyut nadi tim nasional Indonesia setelahnya. Beberapa pemain sempat muncul, namun tak bisa mengulang kejayaan generasi sebelumnya. Sentimen terhadap etnis Tionghoa di lapangan hijau semakin membuat mereka enggan menjadikan sepak bola sebagai pilihan utama. 

Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kembali beberapa pesepakbola etnis Tionghoa yang mulai berkiprah di persepakbolaan Indonesia. Juan Revi dan Kim Jeffrey Kurniawan sudah menyedot perhatian khalayak. Hingga pada 2015 lalu tiba-tiba muncul nama Sutanto Tan, pesepakbola keturunan Tionghoa yang dipanggil coach Aji Santoso untuk mengikuti pelatnas timnas U-23 jelang kualifikasi Piala Asia U-23 di Jakarta.

"Saya bangga bisa dipanggil timnas sebagai seorang keturunan Tionghoa. Di sini, tidak ada perbedaan, semuanya sama dari Sabang sampai Merauke. Saya memang Cina, tapi jangan panggil saya Cina, karena hati saya untuk Merah Putih. Saya berharap bisa bertahan di sini dan ikut mengharumkan nama bangsa," ujar Sutanto ketika ia diwawancarai media lokal.

Sutanto Tan di Bali United (Foto: tribunnews.com)

Mengapa Anda Harus Mengenalnya

Pemain muda kelahiran 4 Mei 1994 ini mengawali karir juniornya bersama empat tim yang berbeda, salah satunya adalah klub Singapura, Geylang United FC, dari 2010 hingga 2011. Uniknya, Sutanto tak memilih Geylang sebagai klub profesional pertamanya selepas menimba ilmu bersama PBR U-21. Ia lebih memilih Hougang United pada 2014.

Gelandang kelahiran Pekanbaru ini memang mengawali karir profesionalnya di S-League dengan kontrak berdurasi satu musim bersama Hougang United U-23

Ya, gelandang kelahiran Pekanbaru ini memang mengawali karir profesionalnya di S-League dengan kontrak berdurasi satu musim bersama Hougang United U-23. Ia menjalani debutnya saat menghadapi Harimau Muda Malaysia ketika dimasukkan di menit 76 untuk menggantikan pemain asal Brazil, Diego Oliviera. Selama memperkuat Hougang, Sutanto berhasil mencetak sembilan gol dalam 11 pertandingan.

Catatan positifnya itu mengundang perhatian Aji Santoso yang kemudian memanggilnya untuk mengikuti pelatnas timnas U-23 jelang kualifikasi Piala Asia U-23 grup H di Jakarta pada Februari 2015. Saat itu, ia sudah berstatus sebagai pemain Bali United.

Meski akhirnya tidak terpilih, pemain yang akrab dipanggil Along ini tetap bekerja keras. Selama memperkuat Bali United ia diketahui mengambil latihan tambahan di luar waktu latihan resmi, persis dengan karakter etnis Tionghoa kebanyakan yang dikenal ulet dan pekerja keras untuk mendapatkan apa yang mereka cita-citakan. Dengan usia yang bahkan belum genap 22 tahun, jalan Along masih panjang untuk menuju kesuksesan. Namun, pada 30 Desember 2015 lalu Along memilih untuk meninggalkan Bali United untuk berkumpul dengan keluarganya di Batam.

Sutanto Tan

Sutanto Tan ketika membela Pelita Bandung Raya U-21 (Foto: pelitabandungraya.co)

Kelebihan dan kekurangan

Dengan tinggi badan mencapai 1,79 meter, Along jelas memiliki kemampuan dalam memenangkan duel udara. Itu terlihat dari statistiknya saat menghadapi Suriah U23 dalam sebuah partai persahabatan di mana ia sukses melakukan tujuh sundulan meski hanya 53 menit berada di atas lapangan.

Meski memenuhi atribut fisik, Along sepertinya masih harus banyak mengasah kemampuannya di banyak aspek. Pasalnya sejak kembali dari Singapura, Along tak mengalami perkembangan karir yang signifikan. Ia juga bukan pilihan utama di Bali United.

Apa kata mereka

"Saat Tur Nusantara (Timnas Indonesia U19), saya sudah melihat aksinya. Dan kali ini saya ingin coba dia dulu. Jika bagus, bisa saja saya merekomendasikannya kepada manajemen." - Indra Sjafri saat akan merekrut Along sebagai penggawa Bali United.

Tahukah Anda

Indra Sjafri sempat menolak Along untuk masuk timnas U-19, namnun keduanya akhirnya bekerja sama di Bali United.

Foto utama: tribunnews.com