Tafsir Hasrat Juara

Setelah 40 tahun berlalu, saat Atletico Madrid harus mengaku kalah dari Bayern Munich, tidak pernah rival sekota Real Madrid ini berada begitu dekat dengan trofi Liga Champion. Kini, seiring penampilan yang kian apik, tuntutan untuk meraih juara sebagai penutup rangkaian kisah luar biasa mereka musim ini kian membumbung.

Bersama Diego Simeone, Atletico Madrid akan berusaha menutup mimpi indah mereka musim ini dengan sempurna. Syaratnya jelas, memenangi partai final di Lisbon. Tidak mudah. Namun, disebut mustahil pun rasanya terlalu berlebihan. Melihat rekam jejak musim ini, rasanya mereka memang pantas untuk memenangi trofi. Mereka punya kesempatan yang mungkin tidak akan datang dalam beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, laga ini akan menjadi 90 menit paling berat dan mungkin saja paling dikenang oleh seluruh elemen Atletico.

Menilik kembali perjalanan mereka musim ini, tentu peran Diego Simeone teramat besar. Sebelum datang ke Vicente Calderon akhir tahun 2011, Simeone bukanlah pelatih yang punya nama besar. Yang media tangkap ketika itu, ia hanyalah seorang pelatih muda yang sedang meniti karier sebagai peraduan nasib berikutnya setelah pensiun sebagai pemain. curriculum vitae yang ia bawa ke Spanyol pun tidak terlalu mengilap. Pria kelahiran Buenos Aires ini baru meraih dua gelar (Apertura bersama Estudiantes dan Clausura bersama River Plate) pada masa awal karier barunya.

Namun, faktanya, dua gelar itu cukup untuk meyakinkan manajemen Atletico Madrid yang saat itu seolah kehabisan cara untuk memperbaiki klub. Ketika ayah dari Giuliano, Gianluca, dan Giovanni, ini datang--menggantikan Gregorio Manzano yang hanya mampu bertahan selama enam bulan, Atletico sedang berada di posisi ke-10 dan hanya berjarak empat poin dari zona degradasi. Hal yang tidak kalah mengecewakan adalah mengetahui bahwa Atletico pun sudah tersingkir dari Piala Raja setelah dikalahkan oleh Albacete.

Seakan berjodoh, pria yang pertama kali dipanggil El Cholo oleh Oscar Nesi, gurunya di bangku sekolah ini, hanya butuh waktu relatif singkat untuk memberikan efek positif. Enam bulan setelah kedatangannya, gelar mulai mendekat ke Vicente Calderon. Mereka meraih gelar juara Liga Eropa 2011/2012, mengalahkan rival senegara, Athletic Bilbao, yang ketika itu diarsiteki oleh Marcelo Bielsa, eks mentor Simeone di Argentina. Gelar itu sekaligus membuka gelar rekening gelar berikutnya, yakni Piala Raja 2012/2013 dan Piala Super Eropa 2012.

Kiprah hebat Simeone bersama tim ibu kota Spanyol itu seperti repetisi ketika ia bermain untuk klub yang sama. Suami dari Carolina Baldini ini merupakan salah satu pemain yang turut berjasa menyumbang gelar ganda musim 1995/1996 di bawah asuhan Radomir Antic. Musim itu, ia juga berhasil melesakkan 12 gol, jumlah yang cukup banyak bagi seorang gelandang bertahan. Raihan gelar ganda memang bukan hal asing bagi Simeone. Karena selain bersama Atletico, ia juga sukses meraih dua gelar dalam semusim ketika berkarier di Italia bersama Lazio. Ia sukses menyandingkan gelar liga bersama trofi Piala Italia.

Karakternya yang bersemangat dan spartan kini berhasil ditularkan kepada para pemainnya. Mentalitas seorang pemain yang tangguh, tidak takut terhadap apapun dan siapapun, kecuali dirinya sendiri, berhasil ditanamkan oleh Diego Simeone. Ia berhasil membuat Atletico yang dulu amat bersandar kepada pemain-pemain bintangnya, seperti Fernando Torres, Sergio Aguero, hingga Radamel Falcao, menjadi sebuah kesatuan yang amat solid. Atletico sempat disorot oleh beberapa media karena ketidakmampuan mereka bermain secara tim. Mereka dianggap sekumpulan individu hebat yang bermain tanpa arahan jelas. Namun, di bawah Simeone, anggapan itu perlahan sirna. Atletico menjadi tim yang mampu bermain kompak dengan penuh hasrat untuk sebuah tujuan. Semangat bertarung yang dulu menjadi ciri khas El Cholo juga berhasil ditransformasikan oleh para pemain Atletico. Mereka juga berhasil menerjemahkan filosofi Simeone di lapangan. Simeone berpandangan bahwa setiap kesempatan yang dimiliki harus dimanfaatkan saat itu juga dan tiap pertandingan seperti final. Ia pun menanamkan mental kemenangan kepada para pemain. Bersama mereka bisa melakukan apapun, tidak peduli siapapun yang menjadi lawannya. Tentu tetap dengan memberi respek kepada tiap lawan yang dihadapi.

Simeone dan Atletico berhasil memberi warna baru bagi kompetisi domestik dan interkontinental. Di liga, mereka berhasil mencuri kesempatan layaknya pelanduk yang berlari meninggalkan dua singa yang tengah bertikai. Setelah sebelumnya Atletico dikenal sebagai tim dengan pertahanan yang sangat rentan ditembus, musim ini hal itu tidak terjadi lagi. Hingga pekan ke-35, mereka hanya kemasukan 22 gol. Kuartet lini belakang, Juanfran-Miranda-Godin-Filipe Luis, menjadi kunci kokohnya Atletico musim ini. Belum lagi kiprah apik kiper muda Belgia, Thibaut Courtois.

Atletico juga memiliki lini tengah yang sangat kuat. Bahkan, pengakuan terhadap soliditas lini tengah Si Merah Putih ini muncul dari rival. Xavi Hernandez, yang musim ini harus mengakui kehebatan Atletico--baik di liga maupun di Liga Champion, mengatakan bahwa tidak pernah sebelumnya Atletico sesolid saat ini. Simeone menggunakan empat pemain sejajar yang mampu bergerak dinamis dan saling menutupi lubang yang ada. Raul Garcia, Gabi, Arda Turan, Koke, bermain luar biasa. Dari bangku cadangan, ada deputi mewah dalam diri Diego Ribas, Tiago Mendes, Mario Suarez, dan Jose Sosa.

Di depan ada sosok petarung bengal dalam diri Diego Costa. Pria yang akhirnya memilih bermain untuk Spanyol dan sudah merasakan laga pertama bersama timnas barunya ini adalah top scorer Atletico di kancah domestik dan Eropa. Jika melihatnya bermain, ia adalah tafsir ideal seperti apa Simeone bermain dulu. Selalu berhasrat meraih kemenangan, tanpa kenal takut, selalu bertarung, terkadang bertindak nakal. Meski belakangan mulai sering mengalami cedera, pemain yang mungkin berganti klub musim panas nanti tetap tidak tergantikan. David Villa yang sarat pengalaman menambah kedalaman lini depan bersama Adrian Lopez, ujung tombak berbakat Spanyol yang tidak canggung untuk bermain melebar.

Apa yang kini tengah Simeone dan Atletico lakukan jelas melebihi perkiraan pada awal musim. Namun, mereka belum memenangi apa-apa. Kiprah sensasional apapun cepat dilupakan dan tidak akan berarti tanpa raihan gelar. Simeone tentu memahami hal itu. Oleh karena itu, ketika ia memiliki kesempatan untuk melakukannya--bersama tim yang ia ingin tangani, selain Inter Milan dan Lazio, tentu Simeone tidak akan melewatkannya begitu saja. Seperti yang sempat ia katakan pada satu sesi tanya jawab, “Kontrak ada untuk diingkari dan saya mengapresiasi kesempatan yang Atletico berikan kepada saya. Namun, saya selalu berpikir mereka akan memecat saya keesokan hari, jadi saya hanya fokus untuk menang tiap pekan dan saya menganut keyakinan tersebut.”