Takefusa Kubo: Harta Karun Barcelona dari Negeri Matahari Terbit

Siapa sih Takefusa Kubo dan mengapa ia menyita banyak perhatian pecinta Barcelona dan sepakbola Jepang? Zakky BM mengajak kita mengenalnya...

Bagi kebanyakan klub sepakbola profesional, terutama di Eropa, memiliki staf pencari bakat yang cerdik dan lihai adalah suatu keharusan. Bukan rahasia lagi jika, misalnya, kesebelasan-kesebelasan dari Portugal dan Spanyol kerap mendapatkan pemain muda murah meriah dari Amerika Selatan namun memiliki taenta luar biasa. Atau klub Jerman biasanya yang cukup cakap dalam mengendus bakat-bakat muda di daratan Asia.

Begitupun dengan FC Barcelona. Menjadi salah satu klub raksasa Eropa dan mulai terkenal dengan pemain akademinya dalam dua dekade terakhir membuat para pencari bakat dari La Masia, akademi El Barca, melanglang buana ke pelosok negeri layaknya mencari harta karun. Melalui program FCB Escola yang didirikan di banyak negara, pencarian harta karun tersebut setidaknya menjadi agak lebih mudah.

Kurang lebih sekitar 10ribu kilometer jarak yang terbentang antara Spanyol dan Jepang, para pencari bakat dari Spanyol tersebut akhirnya menemukan harta karun berupa pemain berbakat asal negeri Sakura. Takefusa Kubo namanya. Bocah kelahiran Kanagawa tahun 2001 lalu ini memulai garis takdirnya dipertemukan dengan pencari bakat La Masia lewat jalur FCB Escola di Yokohama. Bersama tim FCB Escola, ia malah sempat mengikuti turnamen sepakbola anak di Belgia dan berhasil menjadikan dirinya buruan para pencari bakat tersebut.

Takefusa Kubo di Barcelona (Foto: ESPN FC)

“Karena aku saat itu (pergi ke Spanyol) saat masih sangat muda, aku benar-benar tak memiliki rasa gugup ataupun takut,” ungkap Kubo saat diwawancarai tentang kariernya oleh AFC Quarterly Magazine. Sebagai info saja, Kubo pergi ke La Masia saat umurnya baru menginjak 10 tahun saat itu.

Sebagai klub dan akademi, Barceona seharusnya tak diperkenankan membawa bocah dari luar negeri di bawah umur 13 tahun untuk bergabung bersama mereka. Tak kehabisan akal, Barcelona yang enggan kehilangan harta karun tersebut akhirnya membujuk sang Ibu untuk ikut ke Spanyol dan diberikan pekerjaan di kota Barcelona. Kubo tetap tinggal bersama sang ibu dan ia pun bisa beratih di salah satu akademi sepakbola terbaik dunia tersebut.

“Saat pertama kali aku datang ke Spanyol, sangat banyak perbedaannya dengan Jepang. Awalnya aku membutuhkan beberapa saat untuk beradaptasi. Sebelum ke Spanyol, aku hanya bisa menggunakan sumpit untuk makan dan kini aku sudah bisa menggunakan pisau dan garpu dengan sangat baik,” ujarnya.

Waktu-waktunya yang terhitung cukup singkat di Barcelona ia habiskan dengan banyak belajar kepada para pelatih dan rekan-rekannya di lapangan baik satu tim mupun lawan-lawannya. Maklum saja, ia sendiri tercatat sebagai pesepakbola Jepang pertama yang bermain untuk La Masia. Kesempatan langka sudah sepatutnya ia pergunakan sebaik-baiknya, sebelum akhirnya Barca tersangkut kasus perekrutan pemain muda di bawah umur.

Sebelum ke Spanyol, aku hanya bisa menggunakan sumpit untuk makan dan kini aku sudah bisa menggunakan pisau dan garpu dengan sangat baik

- Takefusa Kubo

“Banyak pelajaran yang aku dapatkan saat aku di Barcelona. Saat kecil dulu, aku sangat menyenangi menggiring bola (dribel), namun di Spanyol aku belajar mengenai kapan bola harus di dribel, kapan harus dilepaskan (oper). Aku juga banyak belajar untuk bermain lebih menyerang dekat gawang lawan. Itu berarti tak selalu harus mencetak gol saja, bisa saja mencetak peluang, assist atau bermain bagus,” papar Kubo dalam wawancaranya dengan majalah tersebut.

“Satu nasihat terbaik bagiku adalah datang dari salah satu pimpinan La Masia yang berbicara bahwa ‘sebelum menjadi pesepakbola, kau harus menjadi seorang manusia terlebih dahulu’ aku selalu memikirkan hal ini,” lanjut Kubo.

Mimpinya yang terbentur regulasi memaksa ia untuk pulang kampung. FC Tokyo yang juga memiliki warna seragam mirip dengan FC Barcelona (merah dan biru) menjadi destinasi selanjutnya bagi Kubo. Selidik punya selidik, pemilihan Tokyo ini juga dipengaruhi oleh sang orang tuanya yang ingin tinggal di ibu kota.