Tangga Demi Tangga yang Jatuh Menimpa Alfin

Apa yang terjadi dengan pemain masa depan Indonesia, Alfin Tuasalamony? Ekky Rezky dari FourFourTwo Indonesia mencoba untuk memberikan cerita tentang pemain Persija Jakarta yang mengalami cedera parah ini...

Nasib buruk memang tak bisa diduga datangnya. Ia bisa datang tiba-tiba, tanpa diundang, dan di waktu-waktu yang aneh. Ia bahkan bisa datang di saat kita tidak berada dalam posisi yang berbahaya – misalnya saat duduk-duduk di parkiran selepas menyelesaikan urusan di bank seperti yang dilakukan oleh Alfin Tuassalamony. Tanpa firasat apapun, bek timnas Indonesia dan Persija Jakarta ini santai saja duduk di parkiran setelah keluar dari bank pada hari Kamis pagi (30/4/2015) itu. Tetapi kemudian nasib buruk itu datang dalam wujud mobil yang sedang berusaha parkir, dimana pengemudinya salah menginjak pedal. Alih-alih menginjak rem, sang pengemudi malah menginjak pedal gas, dan mobil pun menabrak Alfin, menyebabkan kakinya patah dan ia pun harus menjalani operasi.

Bagi orang kebanyakan, patah tulang kaki adalah perkara besar. Bagaimanapun, berjalan adalah salah satu kegiatan yang esensial dalam kehidupan manusia modern, dan patah tulang kaki dapat merenggut kemampuan manusia untuk melakukan aktivitas penting tersebut. Tetapi bagi atlet, apalagi atlet olahraga yang berat seperti sepak bola, patah tulang kaki adalah perkara yang luar biasa besar. Bukan saja ia merenggut kemampuan untuk berjalan, patah tulang kaki merenggut kesempatan seorang pemain untuk berlari, bermain, dan mencari nafkah. Bagi Alfin, patah tulang kaki yang ia alami juga merenggut kesempatan untuk bermain bersama tim nasional Indonesia di SEA Games 2015, dan untuk seorang nasionalis sepertinya, kesempatan yang hilang itu sungguhlah sebuah kerugian.

Alfin saat dirawat demi penyembuhan cederanya (Foto: Tribunnews.com)

Padahal namanya sudah masuk dalam daftar pemain yang akan dibawa oleh Aji Santoso ke Singapura. Apa daya, patah tulang kaki merenggut segalanya. Cobaan itu juga memberikan masalah lain: Alfin terancam harus menepi selama satu tahun, yang artinya selama satu tahun tersebut ia tidak bisa bermain sepak bola, hasrat terbesarnya sekaligus mata pencahariannya.

Selain itu, masalah materi pun menghantui. Operasi yang ia lakukan membuatnya harus mengeluarkan biaya hingga ratusan juta rupiah. Beban itu semakin berat dengan problem yang juga didera oleh Persija, yang kabarnya belum melunasi gaji Alfin selama beberapa bulan. Klubnya tersebut memang sudah memberikan sumbangan tali asih sebesar lima juta rupiah, tapi jumlah itu tentu tidak bisa menutupi sepenuhnya biaya pengobatan yang diperlukan oleh pemain yang besar namanya lewat program SAD ini. Lagipula, bukankah gaji yang dilunasi rasanya lebih penting?

Gerakan #AlfinBisa sukses mengumpulkan dana bantuan bagi Alfin untuk proses penyembuhannya (Foto:Persija.co.id)

Alih-alih klub, sebagai tempatnya bekerja, malah orang-orang lain lah yang lebih peduli pada Alfin dan berusaha untuk membantunya. Para mantan pemain dan pemain aktif sudah melangsungkan sebuah pertandingan amal untuk mengumpulkan dana untuk membantu Alfin, sementara The Jakmania juga sudah melakukan penggalangan dana di Pekan Raya Jakarta pada Juni lalu. Alfin sampai-sampai terharu dan berkata, “Mereka sangat peduli terhadap saya, padahal saya belum bawa apa-apa buat Persija. Kalaupun saya bertahan di Persija, itu bukan karena manajemen, tapi karena The Jakmania.”

Sayang, cedera Alfin juga seakan dieksploitasi oleh dua pihak yang berseteru untuk mencari simpati publik. Kedua pihak itu adalah PSSI dan Kemenpora, yang seakan berlomba-lomba menyuarakan bahwa mereka akan membantu pengobatan Alfin. Meski di satu sisi ini adalah hal yang sangat positif, terutama bagi Alfin pribadi, di sisi lain, rasanya tindakan yang bersifat politis ini seakan mengeksploitasi masalah yang dialami oleh pemain kelahiran Tulehu ini.

Kita berharap bisa melihat aksih Alfin lagi bersama timnas (Foto:Zimbio.com)

Menarik mendengar pendapat mantan pemain dan pelatih nasional, Bambang Nurdiansyah. “Pemain itu aset klub, jadi klub yang harusnya lebih memperhatikan pemainnya bila mengalami cedera. Apalagi gajinya beberapa bulan belum dibayar Persija. Saya harap PSSI mendesak Persija agar hak Alfin diberikan,” katanya seperti dikutip Tribunnews.

Ya, bukankah perlombaan itu malah membuat klub, yang semestinya bertanggung jawab atas sang pemain (meski kecelakaan terjadi di luar lapangan), bisa ongkang-ongkang kaki tanpa harus melakukan tugasnya?

Sumber Foto Utama: www.kabararena.net