Analisa

Tentang Gol Diego Assis yang Kontroversial Itu

Pertandingan Liga 1 kembali diwarnai kontroversi. Kali ini mengenai gol 'Tangan Tuhan' dalam laga Persela dan Persija....

We are part of The Trust Project What is it?

Pertandingan Persela Lamongan melawan Persija Jakarta pada Minggu (20/5) kemarin sampai harus mendapatkan tambahan waktu hingga tujuh menit. Tambahan waktu yang jelas sangat panjang untuk ukuran sebuah pertandingan liga biasa. Apa penyebabnya? Ternyata tambahan waktu ini diberikan karena ada banyak waktu yang terbuang ketika para pemain Persija melakukan protes kepada wasit Annas Apriliandi di akhir babak kedua.

Tentu saja, protes yang terjadi begitu lama itu tidak terjadi tanpa alasan. Para pemain Persija tidak terima karena gol Diego Assis di menit ke-  dianggap handball. Yang paling bikin mereka meradang adalah mereka melihat hakim garis sempat mengangkat bendera, yang seharusnya hanya dilakukan ketika terjadi suatu pelanggaran di lapangan, sebelum menurunkannya kembali setelah melihat wasit utama menunjuk titik tengah lapangan tanda gol itu sah.

“Padahal hakim garis sudah angkat bendera. Tapi kenapa wasit tetap sahkan gol itu? Kami sedih sepak bola Indonesia seperti ini. Banyak yang lihat hakim garis itu sudah angkat bendera,” kata Stefano Cugurra Teco seperti dikutip Jawapos. 

Jika apa yang dikatakan Teco benar, tentu saja ini patut dipermasalahkan. Dalam situasi seperti itu, hakim garis mestinya tetap teguh mengangkat bendera, agar wasit utama melihat dan berdiskusi dengannya tentang apa yang ia lihat. Walau pada akhirnya wasit utama lah yang berhak menentukan keputusan akhir, tetapi hakim garis punya hak untuk menyampaikan apa yang ia lihat dan memberikan pertimbangan pada wasit.

Dialog seperti ini terlihat tidak terjadi di lapangan kemarin. Ketegasan hakim garis pun jadi pertanyaan. Dan karenanya, wajar jika Ramdani Lestaluhu dkk. marah dan memprotes wasit habis-habisan (walau sebetulnya tak perlu sampai selama itu, dan sampai melibatkan staf pelatih yang masuk ke dalam lapangan).

Namun mari kembali ke pertanyaan utamanya: apakah protes para pemain Persija yang menganggap gol Diego Assis dilakukan dengan tangan memang benar adanya? Indosiar, yang menayangkan pertandingan ini secara langsung, memberikan tayangan ulang dari setidaknya tiga sudut pandang secara lambat dan kelihatan bahwa gol itu memang tidak sah. Diego Assis bahkan bisa mendapatkan kartu jika dianggap sengaja melakukan handball, seperti ketika Luis Suarez diusir wasit karena handball-nya kala melawan Ghana di Piala Dunia 2010.

Bukti yang lebih kuat ditampilkan oleh Angger Bondan, fotografer Jawa Pos, lewat karyanya yang dimuat di harian Jawa Timur itu dan dibagi oleh @el_abie di Twitter. Dalam foto tersebut, terlihat tangan Diego mengenai bola, dan diduga kuat membuat bola gagal ditangkap atau ditepis oleh kiper Persija, Daryono, dan membuahkan gol.

Jadi, meskipun Diego mengaku tidak melihatnya (“Saya tidak tahu tentang itu. Saya hanya melihat setelah bola melewati gawang. Jadi saya tidak tahu,” katanya), bukti visual sudah membuktikan bahwa gol tersebut memang handball dan seharusnya dianulir oleh wasit Annas. Bahwa ia tetap mengesahkannya sebetulnya adalah haknya sebagai seorang wasit (walau tentu saja itu tetap merupakan keputusan yang salah), namun yang disayangkan adalah mengapa tidak ada proses diskusi dengan hakim garis yang semestinya punya sudut pandang yang lebih baik atas kejadian tersebut.

Lantas, apakah jika gol tersebut dianulir, Persija tidak akan kalah dari Persela di pertandingan ini? Entahlah. Anda boleh saja berargumen bahwa walau gol pertama dianulir, ada gol kedua dari Shohei Matsunaga yang jelas-jelas bersih. Tetapi di sisi lain, Anda juga bisa berargumen seandainya gol itu tidak disahkan, protes pemain tidak akan berjalan terlalu lama, injury time tidak akan sampai tujuh menit, pemain-pemain Persija tidak akan kehilangan fokus, dan gol Shohei Matsunaga mungkin tidak tercipta.

Tapi kita hanya bisa berandai-andai. Pada akhirnya, skor akhir tetap 2-0 untuk Persela.

Temukan feature baru setiap harinya di FourFourTwo.com