Kisah

Tim-tim Kejutan di Sepanjang Sejarah Liga Indonesia: Dari PSIS Sampai Persekabpas

Meski terdapat klub-klub tradisional yang memiliki kekuatan dan kemampuan finansial di atas klub-klub lainnya, Liga Indonesia kerap menghadirkan kejutan di sepanjang perjalanannya. Dan inilah lima klub yang sukses memberikan kejutan besar di Liga Indonesia!

We are part of The Trust Project What is it?

PSIS Semarang (1998/99)

PSIS Semarang memang menjadi salah satu tim tradisional di liga Indonesia. Tim yang berdiri pada tahun 1932 ini pernah menjadi juara Liga Perserikatan pada tahun 1987 lalu. Meski begitu, sejak digelarnya Liga Indonesia Pertama pada tahun 1994 hingga 1995 lalu, PSIS hanyalah tim biasa-biasa saja. Dari Liga Indonesia Pertama hingga Liga Indonesia Keempat PSIS tak pernah sekali pun menembus babak delapan besar – apalagi meraih gelar juara.

Menariknya, dalam gelaran Liga Indonesia Kelima (1998/99) di mana PSIS harus berjuang setengah mati untuk mengarungi kompetisi, Mahesa Jenar, julukan PSIS, justru berhasil meraih gelar juara. Pencapaian tersebut tidak hanya sebuah kejutan, namun juga serupa kisah di dalam sebuah dongeng.

Menjelang kompetisi dimulai, PSIS bermasalah dengan keuangan. Dengan modal cepak, mereka tidak mungkin bisa mengontrak pemain-pemain bagus. Tapi PSIS kemudian tertolong dengan bubarnya Arseto Solo, yang sejatinya merupakan rival utama PSIS di Jawa Tengah. Pemain-pemain andalan Arseto seperti I Komang Putra, Ali Sunan, dan Agung Setyabudi kemudian merapat ke Semarang. Selain itu, PSIS juga berhasil mengontrak Tugiyo, salah satu penyerang berbakat di Indonesia pada saat itu. Beserta tiga legiun asing yang dimiliki PSIS, Simon Atangana, Ebanda Timothy, dan Ali Shaha Ali, pemain-pemain itu kemudian menjadi fondasi kokoh dari perjalanan PSIS Semarang untuk menciptakan kejaiban.

PSIS berhasil melalui babak penyisihan grup dan babak sepuluh besar dengan nafas terengah-engah. Setelah itu, di pertandingan semifinal melawan Persija Jakarta, mereka harus bersyukur karena memiliki I Komang Putra di depan mistar. Pasalnya, setelah Ebanda Timothy mencetak gol di awal-awal laga, I Komang Putra beberapa kali berhasil melakukan penyelamatan hebat dari serangan tanpa henti yang dilakukan oleh pemain-pemain Persija.

Di pertandingan final yang dilangsungkan di Stadion Klabat, Manado, PSIS kembali berjumpa dengan Persebaya Surabaya, tim yang sudah dua kali mengalahkan mereka dalam gelaran Liga Indonesia Kelima itu. Sama sekali tak diunggulkan, PSIS justru bermain tanpa beban. Hasilnya, mereka berhasil mengalahkan Persebaya 1-0, melalui gol tunggal Tugiyo di menit-menit akhir pertandingan. Sebuah kemenangan yang benar-benar bersejarah dan sebuah gelar juara liga yang nyaris mustahil itu ternyata berhasil diraih oleh PSIS Semarang.

Pages