Top 10/50/100

Tim-Tim Terbaik yang Gagal Menjuarai Piala Dunia

Johan Cruyff, Ferenc Puskas, Paolo Maldini, dan Lionel Messi muda. Semua pemain itu masuk dalam tim-tim terbaik yang gagal menjuarai Piala Dunia. Simak ulasan dari Gary Parkinson mengenai hal tersebut.

We are part of The Trust Project What is it?

Argentina (1930)

Format Piala Dunia perdana sangatlah berbeda: tidak ada babak kualifikasi, hanya ada 13 tim yang bermain, menggunakan tiga tempat, dan bermain di satu kota (ibu kota Uruguay, Montevideo). Setelah datang ke Uruguay mengarungi sungai River Plate, Argentina berhasil menang susah payah melawan Prancis yang bermain dengan sembilan pemain, Meksiko dengan skor 6-3, Chile dengan skor 3-1, dan juga Amerika Serikat di babak semifinal dengan skor 6-1. Di babak final, mereka juga sanggup menyusul ketertinggalan dari si tuan rumah dengan skor 2-1 pada babak pertama.

Saat jeda, dua orang jahat mengancam Luis Monti - pemain terbaik dunia saat itu - bahwa jika Argentina menang, ibu dan saudara perempuannya akan dibunuh. Mungkin, cedera paha lah yang memperlambatnya di babak kedua, tetapi Uruguay mencetak tiga gol yang tidak dapat mereka balas. Monti bergabung dengan Juventus, dinaturalisasi sebagai warga negara Italia dan memenangi Piala Dunia 1934 di tanah air barunya sebagai gantinya.

Austria (1934)

Tak ada tim lain di era tersebut yang sepadan dengan Wunderteam milik Hugo Meisl. Mereka dibekali dengan taktik, tingkat kedisiplinan, dan profesionalisme yang luar biasa untuk era tersebut. Mereka mendapatkan tumpuan kreatif mereka pada Matthias Sindelar - yang dijuluki 'The Paper Man' karena kekurang fisiknya dan 'The Mozart of Football' karena keahliannya. Mereka pergi ke Italia sebagai salah satu favorit, terutama setelah membantai tuan rumah di Stadio Mussolini, Turin pada bulan Februari dengan skor 4-2 dalam pertandingan persahabatan. 

Di Piala Dunia, mereka mengalahkan rival mereka, Hungaria, dengan skor 2-1 di perempatfinal sebelum menghadapi Italia di semifinal. Hujan deras sebelum pertandingan merusak permainan mereka, Luis Monti menghantui Sindelar di segala penjuru, Johann Horvath mengalami cedera dan Italia, yang saat itu dipimpin Mussolini, keluar sebagai pemenang turnamen.

Brasil (1938)

Perbedaan antara kepercayaan diri dan keangkuhan memang tipis, dan pada tahun 1938, tim hebat pertama asal Brasil memiliki nasib yang tidak baik. Dalam pertandingan pertama mereka, mereka mencetak enam gol ke gawang Polandia - tetapi kebobolan lima dan membutuhkan perpanjangan waktu, yang juga mereka butuhkan untuk mengalahkan Cekoslovakia dengan skor 2-1. 

Mungkin karena faktor kelelahan yang membuat pelatih mengistirahatkan sejumlah pemain utama, termasuk bintang yang mencetak empat gol, Leonidas, untuk laga semifinal melawan Italia di Marseille. Mungkin juga saat itu menjadi persiapan logistik yang bagus untuk memesan tiket penerbangan ke Paris hari berikutnya untuk final. "Bagaimana kalau kamu kalah?" kata pelatih Italia ke Brasil. "Kami tidak akan," jawabnya. Mereka kalah. Dan mereka harus terbang ke Bordeaux untuk pertandingan perebutan medali perunggu, di mana Leonidas mengantongi dua gol yang mengantarkannya meraih Golden Boot yang saat itu belum ada. 

Brasil (1950)

Anda mungkin telah mengetahui bahwa orang Brasil menyukai sepakbola. Jadi, ketika mereka menjadi tuan rumah Piala Dunia pascaperang dunia pertama - setahun setelah FIFA berencana menggelar turnamen ini - mereka diharapkan menjadi juara. Mereka membayar pelatih Flavio Costa dengan gaji 1.000 pound tiap bulan dan mengkarantina tim itu selama empat bulan. Mereka memulai dengan kemenangan 4-0 atas Meksiko, kemudian atas Swedia 7-1, dan juga Spanyol 6-1 yang membuat mereka melaju ke final melawan Uruguay.

Di lima pertandingan, mereka telah mencetak 21 gol, delapan di antaranya adalah milik Ademir dan sisanya dibagi antara enam pemain lain yang menunjukkan apa yang disebut Brian Glanville “sepakbola masa depan”. Dua ratus ribu suporter yang bersemangat memenuhi Maracana - dan menyaksikan Uruguay menyusul ketertinggalan dan memenangi pertandingan dan turnamen itu. Mereka menyebutnya Maracanazo; Penulis Brasil, Nelson Rodrigues menyebutnya "Hiroshima kami".

Pages