Tragedi Choirul Huda, Pelajaran Besar Bagi Sisi Medis Sepakbola Indonesia

Pertolongan pertama yang dilakukan tim medis terhadap Choirul Huda di atas lapangan menjadi sorotan publik setelah kiper veteran Persela Lamongan itu meninggal dunia.

Sepakbola Indonesia menerima kabar duka lagi. Kali ini, datang dari atas lapangan, dengan meninggalnya kiper Persela Lamongan, Choirul Huda, setelah mengalami benturan dengan rekan setimnya sendiri dalam laga melawan Semen Padang, yang menyebabkan ia diperkirakan mengalami trauma dada, kepala, dan leher.

Kabar meninggalnya Choirul Huda sangat mengejutkan mengingat Huda masih sadarkan diri setelah mengalami benturan, ketika ia terduduk kesakitan sambil memegangi rahangnya yang ikut mengalami benturan.

Huda kemudian langsung dilarikan ke rumah sakit menggunakan ambulans, dan menurut dr Yudistiro Andri Nugroho, Kepala Unit Instalasi Gawat Darurat RSUD dr Segiri Lamongan, pihaknya sudah melakukan berbagai cara untuk menolong kiper senior Persela itu.

"Di ambulans juga ditangani secara medis untuk bantuan napas maupun untuk penanganan henti jantung. Sesampainya di UGD segera ditangani. Kita lakukan pemasangan alat bantu napas yang sifatnya permanen. Kita lakukan inkubasi dengan memasang alat semacam pipa napas. Itu yang menjamin oksigen bisa 100 persen masuk ke paru-paru," akunya.

Dr Yudistiro kemudian menjelaskan bahwa perkiraan awal penyebab kematian kiper yang sudah bermain dalam lebih dari 500 pertandingan untuk Persela tersebut.

“Ada kemungkinan trauma dada, trauma kepala dan trauma leher. Di dalam tulang leher itu ada sumsum tulang yang menghubungkan batang otak. Di batang otak itu ada pusat-pusat semua organ vital, pusat denyut jantung dan napas."

Ada kemungkinan trauma dada, trauma kepala dan trauma leher

- dr Yudistiro Andri Nugroho

Analisis awal ini memunculkan pertanyaan; jika trauma leher adalah salah satu kemungkinan penyebab meninggalnya legenda Persela ini, apakah penanganan pertama yang dilakukan oleh tim medis di atas lapangan sudah benar?

Setelah kabar meninggalnya Choirul Huda tersebar, memang cukup banyak orang yang mengunggah pendapatnya mengenai pertolongan pertama yang dianggap dilakukan tidak benar. Salah satunya adalah @sigitpramudya1, akun Twitter milik Sigit Pramudya, fisioterapis PSS Sleman yang sebelumnya juga pernah bekerja untuk Persib Bandung.

Ada beberapa hal yang disoroti oleh Sigit, yaitu tidak adanya cervical collar (alat penyangga leher), proses mengangkat Choirul Huda ke atas tandu, hingga proses membawa Huda ke ambulans.

Apa yang disampaikan Sigit tentu masuk akal jika melihat tayangan ulang bagaimana penanganan Choirul Huda yang terkesan sangat buru-buru dan agak serampangan. Ini menjadi masalah karena Choirul Huda mengalami benturan yang cukup hebat di area kepala (rahang bawah), yang kemudian diketahui juga memberikan trauma pada leher. Padahal, menurut situs Medicalogy, leher adalah bagian tubuh yang vital mengingat bagian ini memiliki tujuh tulang pertama yang menyusun tulang belakang. Leher juga merupakan bagian tubuh yang menghubungkan tubuh dengan otak, organ tervital bagi kehidupan manusia.