Tragedi di Stadion Nasional Baru, Singapura: Indonesia U-23 0-5 Thailand U-23

Semua mata tertuju pada stadion nasional Singapura di babak semifinal SEA Games 2015 lalu. Saat itu, ada timnas Indonesia U23 yang berhadapan dengan Thailand U23, dua tim yang memiliki sejarah panjang dalam sepakbola Asia Tenggara. Renalto Setiawan dari FourFourTwo Indonesia mencoba membuka luka bagi tim garuda muda tersebut dalam artikel ini...

The Cat, tokoh fiksi dalam sitkom Red Drawf, pernah mengatakan: “Lebih baik hidup menjadi singa selama satu jam daripada hidup selamanya sebagai cacing.” Sayangnya, pada babak semifinal SEA Games 2015 lalu di Stadion Nasional Baru, Kallang, Singapura, selama 90 menit sekumpulan singa berbakat dengan balutan jersey berwarna merah justru memilih hidup menjadi sekumpulan cacing.

Timnas Indonesia U-23 Hanya Sebatas Bakat-bakat Hebat

Beberapa meter di dekatnya, Adam Alis seperti tokoh Forest -- dalam film Forest Gump -- versi pesepak bola. Dia terus berlari dari lini tengah ke depan, atau dari lini tengah ke belakang. Meski dia terus-terusan melakukan hal tersebut

Evan Dimas begitu rancak memainkan bola dari tengah lapangan. Pemain yang menurut penulis sepakbola Asia, John Duerden, merupakan salah satu pemain yang paling menarik dalam gelaran Piala AFF 2014 tersebut terus mengumpan, membuat bola terus bergulir ke setiap sudut lapangan.

Beberapa meter di dekatnya, Adam Alis seperti tokoh Forest -- dalam film Forest Gump -- versi pesepak bola. Dia terus berlari dari lini tengah ke depan, atau dari lini tengah ke belakang. Meski dia terus-terusan melakukan hal tersebut, raut mukanya sama sekali tidak menandakan bahwa dia kelelahan. Sesekali dia menembak ke arah gawang dengan gaya Steven Gerrard.  

Di lini belakang, tepatnya di sebelah kiri, Vava Mario Zagalo jatuh bangun unjuk kebolehan. Pemain yang pernah ditempa di Uruguay tersebut seperti ditakdirkan terlahir sebagai seorang pemain bola yang tahan banting. Tidak hanya sekali atau dua kali, dia gemar sekali melakukan tekel. Kalau tekelnya tidak kena bola, ya, lawan akan jatuh tersungkur – kadang dia menekel angin.

Sementara itu dari bangku cadangan, Muchlis Hadi, penyerang Indonesia yang sebelumnya mencetak tiga gol ke gawang Kamboja, kakinya gatal. Dia menunggu kesempatan untuk pamer kelihaiannya dalam urusan mencetak gol. Dan kesempatan yang dinanti akhirnya tiba pada menit ke-50.

Sebenarnya, hampir tidak ada yang meragukan kualitas individu anak-anak tersebut sebagai pemain sepakbola. Mereka benar-benar pemain berbakat. Sangat berbakat. Tetapi hari itu mereka kalah -- tidak hanya satu atau dua gol. Mereka kalah telak , 0-5, dari Thailand. Karena mereka terlihat seperti bermain sendiri-sendiri, bakat besar mereka sama sekali tidak berarti di hadapan kolektivitas permainan Gajah Perang, julukan Timnas Thailand.

Pages