Transfer Carli Lloyd dan Alex Morgan: Bukti Keseriusan Sepakbola Wanita di Eropa?

Dua pemain paling terkenal di sepakbola Amerika Serikat saat ini datang ke Eropa untuk pertama kalinya. Bukti keseriusan sepakbola wanita di Eropa, atau sebetulnya bukan fenomena baru?

Bagi kompetisi sepakbola wanita di Amerika Serikat, bulan Januari serta Februari adalah jeda peralihan diantara musim yang baru berakhir menuju musim baru. Inggris, seperti Amerika, memiliki format waktu yang kompetisi hampir sama. Namun lain halnya di Spanyol, Jerman hingga Perancis, bulan Januari dan Februari adalah masa jeda di tengah-tengah kompetisi.

Bursa transfer sudah pastilah ramai ketika jeda kompetisi hendak dimulai. Peralihan pemain dari klub satu menuju klub yang lainnya juga lumrah terjadi dalam kompetisi sepakbola perempuan. Tahun 2017 ini, sepakbola perempuan, terutama di Eropa dikejutkan dengan kedatangan dua bintang dari Amerika Serikat yaitu Alex Morgan menuju Olympique Lyon serta Carli Lloyd menuju Manchester City.

Jika kisah kedatangan Alex Morgan menuju Lyon adalam memang keinginan yang terpendam alias obsesi dari sang presiden klub, Jean-Michel Aulas, sejak lama, maka kedatangan Carli Lloyd ke kota Manchester memang disinyalir untuk mencari tantangan baru dalam karir sepakbolanya.

Carli Lloyd bergabung dengan Manchester City selama enam bulan

Meski begitu, kedatangan bintang-bintang sepakbola wanita Amerika Serikat sebetulnya bukan baru-baru ini saja. Sudah ada beberapa nama yang mendahului mereka untuk menjajaki karir sepakbola di Eropa. Sebut saja seperti legenda sepakbola wanita mereka yaitu trio Julie Foudy, Michelle Akers, Kristine Lilly yang memperkuat kesebelasan Tyresö, Swedia pada 1994 lalu. Kemudian ada tiga nama lainnya empat tahun kemudian (tahun 2000) yaitu Aly Wagner, Christie Welsh, dan Danielle Slaton yang membela Lyon, Perancis.

Rantai pesepakbola wanita yang mencoba peruntungan di Eropa tak lepas sampai situ saja. Empat tahun setelah tahun 2000, Hope Solo mencoba berkarir di Kopparbergs Göteborg (Swedia) sebelum akhirnya hijrah ke Lyon pada 2005. Pasca berkarir di Swedia dan Perancis, Hope Solo kembali ke Amerika Serikat.

Nama-nama pemain generasi berikutnya tercatat cukup banyak seperti Whitney Engen, Meghan Klingenberg di Tyresö (Swedia) pada tahun 2011 dan 2012, kemudian Christen Press yang memperkuat Kopparbergs Göteborg dan Tyresö pada 2012, lalu ada Lindsey Horan (PSG, Perancis) pada tahun 2012, kemudian Megan Rapinoe (Lyon, Perancis) pada tahun 2013, lalu ada Tobin Heath (PSG, Perancis) pada 2013 dan Whitney Engen di Liverpool (Inggris) dan Tyresö pada 2013 lalu.

Nama-nama di atas, sebagian besar meraih kesuksesan yang diidamkan seperti menjuarai liga domestik ataupun menjadi top skorer di kompetisinya. Bahkan beberapa dari mereka mampu menembus babak final UEFA Women Champions League (UCL-nya sepakbola wanita) seperti Christen Press dan Megan Rapinoe. Namun, pemain-pemain pertama yang mengecap gelar paling bergengsi di Eropa untuk pertama kalinya adalah Ali Krieger dan Gina Lewandowski saat memperkuat FFC Frankfurt pada 2007 lalu.

Banyaknya nama-nama tersebut menandai bahwa perpindahan pemain-pemain top dari Amerika Serikat menuju Eropa bukanlah hal yang baru. Hanya saja memang Alex Morgan dan Carli Lloyd ini baru akan merasakan pengalaman pertamanya berkarir di Eropa.

Kami tak meragukan kecantikan Alex Morgan sekaligus kualitas olah bolanya. Tentu saja pemerhati sepakbola juga tak asing dengan Alex Morgan karena ia kerap muncul di televisi meski hanya sekadar untuk diberitakan sebagai bintang iklan ataupun model. Faktor ini juga yang membuat transfer Alex Morgan ke Lyon cukup menggema di awal 2017 ini.

Begitupun dengan Carli Lloyd, gelandang serbabisa yang juga merupakan peraih FIFA Women Player of The Year ini tak diragukan lagi kehebatannya. Apalagi ia adalah kapten kesebelasan dari tim nasional sepakbola wanita Amerika Serikat. Satu-satunya tim nasional yang telah meraih gelar juara dunia tiga kali, alias terbanyak di dunia. Meragukannya adalah sebuah kesalahan besar.

Lloyd adalah pemain terbaik FIFA tahun 2015 dan 2016

Lyon dan City jelas mendapatkan keuntungan berlipat meski keduanya hanya menandatangani kontrak jangka pendek selama kurang lebih enam bulan saja. Keuntungan yang didapat tak hanya berdampak dalam lapangan saja. Penjualan merchandise, penjualan tiket pertandingan sepakbola wanita sampai kepada terdongkraknya jumlah pengikut di berbagai macam jejering sosial semakin membuat Lyon dan City (terutama klub wanita mereka) menjadi lebih tenar.