Tren Taktik: Deep-Lying Playmaker dan Bagaimana Peran Ini Berevolusi di Era Modern

Deep-lying midfielder sejatinya bukanlah peran baru dalam sepakbola: Charlie Roberts sudah memerankannya sejak awal abad 20 di Inggris dan kemudian diimpor ke Italia oleh Vittorio Pozzo dengan metodo-nya. Tapi bagaimana peran ini berkembang di era modern?

Ketika ada pertanyaan, “Sebutkan momen-momen paling luar biasa dalam sepakbola yang Anda ketahui?” maka jawabannya akan bervariasi dari gol tangan Tuhan Diego Maradona, dua gol Ole Gunnar Solksjaer dan Teddy Sheringham yang menghancurkan Bayern Munchen, gol Andres Iniesta ke gawang timnas Belanda, atau gol Mario Gotze ke gawang timnas Argentina.

Tapi, pernahkah ada penggemar sepakbola yang mengingat bagaimana hebatnya seorang Andrea Pirlo menjadi konduktor permainan tim dari lini tengah? Atau saat intersep Sergio Busquets mengawali serangan Barcelona? Jarang yang mengingatnya. Peran sebagai deep-lying playmaker yang kerap diartikan Italia sebagai regista (sutradara), merupakan salah satu peran yang kurang dihargai.

Peran gelandang yang berada tepat di antara lini belakang dan tengah itu memegang peranan vital dalam permainan tim, tapi kebanyakan publik hanya mengingat penyelamatan gemilang, aksi mengolah bola dalam melewati lawan, atau kala striker mencetak gol.

Di Barcelona misalnya. Busquets hanya diingat sebagai pemain yang pintar berakting untuk mencoba menipu wasit, sementara Xavi Hernandez, Lionel Messi, Andres Iniesta, Ronaldinho, Samuel Eto’o meninggalkan ingatan di benak fans akan andil mereka untuk kejayaan tim. Padahal jika Anda lebih teliti dalam mengamati sebuah pertandingan, tanpa peran Busquets, lini tengah Barcelona kocar kacir dan para pemain ofensif lawan akan langsung berhadapan satu lawan satu dengan lini belakang mereka.

Peran Sergio Busquets kurang dihargai di mata para penyuka sepakbola

Mendiang Johan Cruyff yang notabene murid pencetus total football, Rinus Michels, pernah menjabarkan dengan singkat, padat, dan jelas bagaimana peran deep-lying playmaker yang diperankan Busquets di Barcelona.

“Dari segi posisi, dia (Busquets) seperti veteran dengan atau tanpa bola. Dengan bola dia membuat hal sulit tampak mudah: dia mengalirkan bola dengan satu-dua sentuhan. Tanpa bola, dia memberikan pelajaran: berada di tempat yang tepat untuk melakukan intersep dan berlari hanya untuk merebut bola,” ucap Cruyff.

Dari segi posisi, dia (Busquets) seperti veteran dengan atau tanpa bola. Dengan bola dia membuat hal sulit tampak mudah: dia mengalirkan bola dengan satu-dua sentuhan.

- Johan Cruyff mengomentari Sergio Busquets

“Dengan kesadaran melakukan hal tersebut, mungkin, itu yang membuatnya undervalued: ini bagian penting yang membuatnya hebat, ia menjadikan suatu hal yang sepertinya rumit, menjadi mudah.”

“Menjadikan suatu hal yang sepertinya rumit, menjadi mudah.” Garis bawahi komentar itu, maka Anda bisa tahu pasti bagaimana peran deep-lying playmaker. Peran yang sudah mengalami evolusi dari masa ke masa, di mana terjadi perubahan tugas yang mereka jalani dan kebutuhan pelatih akan pemain seperti mereka di dalam tim.

Evolusi Deep-Lying Playmaker

Butuh mesin waktu Doraemon untuk melihat langsung bagaimana peran deep-lying playmaker di masa lalu, tapi bukti sejarah sudah cukup kuat menggambarkan seperti apa gaya permainan para pemain yang pernah memerankannya di era 1908 hingga seterusnya.

Pada taktik lawas 2-3-5 seorang gelandang tengah bernama Charlie Roberts, menyumbangkan gelar Premier League (saat itu bernama Divisi Utama Liga Inggris) dua kali di musim 1907/08 dan 1910/11 untuk Manchester United. Dia berperan sebagai gelandang tengah dan memiliki peran layaknya seorang deep-lying playmaker (meski tentu saja ketika itu belum ada terma yang pas untuknya).

Charlie Roberts bisa dibilang merupakan prototipe deep-lying playmaker di awal abad 20

Roberts dikenal sebagai pemain yang memiliki kemampuan mengoper bola dari kedalaman dengan visinya bermain. Ia bisa mengarahkan bola ke lima pemain yang ada di depannya laiknya Andrea Pirlo atau Marco Verratti di era sepakbola modern ini.

Permainannya itu pun menjadi inspirasi pelatih timnas Italia pada periode 1929-1948, Vittorio Pozzo, dalam penerapan taktik 2-3-5 yang dikembangkannya menjadi 2-3-2-3. Taktik yang dikembangkan Pozzo itu dikenal dengan istilah Metodo dan ia menempatkan Luisito Monti di posisi Roberts.