Tren Taktik: False Playmaker, Peran Unik yang Bisa Membuat Lawan Kebingungan

Saat Anda melihat kehidupan di kota-kota besar yang menjadi pusat peradapan dunia saat ini, ada benang merah yang menghubungkannya dengan cara sepakbola modern dimainkan.

Di kota-kota tersebut, hampir semuanya berlangsung serba cepat. Sementara para pejalan kaki berjalan layaknya peserta lomba jalan cepat dalam gelaran olimpiade, restoran cepat saji selalu berhasil mencuri panggung hampir di setiap jengkal kota-kota tersebut. Selain itu, alat-alat transportasi juga tak mau mengalah untuk berebut menjadi yang tercepat. Di Tokyo, Shinkansen, atau yang sering dikenal dengan sebutan kereta peluru, bisa mengantarkan Anda dari satu kota ke kota lainnya dalam hitungan waktu yang tergolong singkat.

Sementara itu, sepakbola modern pun berlangsung dengan cara yang seperti itu. Karena kemampuannya dalam melakukan sprint yang seperti tak terbatas, seorang full-back, pemain yang semula tak dianggap, kini menjadi bagian penting dalam sepakbola. Untuk mempersingkat waktu dalam melakukan transisi bertahan, high-pressing sering digunakan sebagai senjata andalan. Demi yang serba cepat, peran-peran baru pun juga bermunculan: sementara defensive forward mulai menggusur para penyerang konvensional, ball-playing defender mampu memperlihatkan bahwa pemain bertahan juga tak kalah brilian saat diberi tugas untuk mengirimkan umpan mematikan.

Dengan pendekatan tersebut, baik dalam kehidupan di kota-kota besar maupun dalam sepakbola modern, semuanya harus mampu menyesuaikan diri. Orang-orang yang mempunyai pikiran kuno, sebagus apa pun itu, mulai dipinggirkan. Dan oleh karena itu, para playmaker klasik dalam sepakbola, yang sebelumnya merupakan pemain yang paling ditunggu-tunggu aksinya di atas lapangan, saat ini dianggap punah layaknya dinosaurus. Pasalnya, bukannya tidak mampu menyesuaikan diri, para playmaker klasik biasanya enggan menyesuaikan diri.

Di atas lapangan, para playmaker klasik biasanya memilih menjadi seorang bohemian (orang yang biasanya hidup bebas seperti seniman). Ia tak boleh disentuh oleh sistem permainan karena ia merupakan sistem permainan itu sendiri. Ia harus selalu menjadi pusat permainan tim karena ia adalah jimat. Dan asalkan mampu bermain nyaman, ia tak akan peduli dengan tempo permainan. Singkat kata, ia akan selalu mengangkat senjata terhadap apa pun yang dianggapnya mampu mengusik kebebasannya.

Suatu Malam Di Rotterdam, Belanda

Tahun 2000 lalu bisa dianggap sebagai puncak kejayaan para playmaker klasik. Pasalnya, beberapa bulan sebelum Juan Roman Riquelme, playmaker Boca Juniors, membuat pemain-pemain Real Madrid tampak bodoh dalam pertandingan final Piala Interkontinental (saat ini Piala Dunia Antar Klub), Rui Costa, Zinedine Zidane, dan Francesco Totti berhasil membawa negaranya ke babak semifinal Piala Eropa 2000.

Meski begitu, saat para pelatih top di Eropa beramai-ramai memperlihatkan kehebatan pemain nomor 10 mereka di atas lapangan, Sir Alex Ferguson, manajer Manchester United, ternyata sudah mempunyai pikiran lain, bahkan sejak jauh hari sebelumnya. Sekitar sembilan tahun sebelum para pemain nomor 10 tersebut menjadi pusat perhatian dunia, tepatnya dalam pertandingan final Piala Winners 1991 antara Manchester United melawan Barcelona di Rotterdam, Belanda, Sir Alex Ferguson seolah ingin mengatakan, "Asalkan bisa menguntungkan tim, posisi nomor 10 bisa ditempati oleh siapa aja -- bukan hanya pemain dengan karakter nomor 10."

Pages