Analisa

Tren Taktik: Mengenal 'Inverted Wing-Back' dan Bagaimana Guardiola Mengaplikasikannya di Man City

Salah satu peran baru di Football Manager 2018 ini ternyata benar-benar diterapkan oleh Pep Guardiola di dunia nyata musim ini. Renalto Setiawan memberikan gambaran seperti apa inverted wing-back itu...

We are part of The Trust Project What is it?

Namanya adalah David Silva. Dan yang satunya lagi bernama Kevin De Bryune. Dua-duanya adalah pemain nomor 10. Dan dua-duanya adalah monster.

Manchester City, yang sebentar lagi mungkin akan meraih gelar Premier League musim 2017-2018, tampil luar biasa hebat karena peran mereka. Bagaimana tidak, tanpa tedeng aling-aling mereka menunjukkan keperkasaan mereka: Siva dan De Bryune sejauh ini sudah mencetak 15 gol dan 23 assist bagi City di Premier League.

Jika melihat bagiamana perkembangan pemain nomor 10 di dalam sepak bola modern sejauh ini, penampilan Silva dan De Bryune adalah sebuah kontradiksi. Di tengah-tengah sepak bola yang super cepat, penuh dengan kontak fisik seperti di Inggris, bagaimana bisa mereka merajalela seperti itu?

Sebagai pemain nomor 10, Silva dan De Bryune memang bukan pemain nomor 10 biasa – mereka tidak selalu bergerak di area nomor 10. Sementara De Bruyne sering kali bergerak melebar untuk mengirimkan umpan-umpan silang yang menjadi salah satu kelebihannya, Siva justru melakukan hal sebaliknya. Ia akan melebar untuk mencari ruang, kembali melakukan pentrasi ke area tengah, dan mulai menunjukkan kreasinya dengan visi permainan yang dimilikinya.

David Silva kembali berperan penting dalam kesuksesan Man City

Melihat kelebihan Silva dan De Bryune, Pep Guardiola kemudian melakukan pendekatan yang juga tak biasa: dalam formasi 4-3-3 yang kerap dimainkannya, ia justru memainkan Silva dan De Bryune sebagai duet gelandang tengah, bermain sedikit di belakang posisi nomor 10. 

Dari posisi tersebut, baik Silva maupun De Bryune tentu saja berada lebih jauh dari daerah pertahanan lawan. Itu artinya, di atas kertas, mereka tidak lebih berbahaya daripada saat bermain di posisi nomor 10. Namun, sekali lagi, mereka bukan pemain nomor 10 biasa. Selain diberikan kebebasan untuk bergerak di daerah sepertiga akhir, Silva dan De Byune bisa mempertontonkan kelebihan lainnya dari posisi tersebut: sementara Silva juga tergolong hebat dalam melakukan build-up serangan, De Bryune pintar bermain direct – Ia bisa sewaktu-waktu mengirimkan umpan cepat saat City mengincar serangan balik. Itu artinya, dengan keduanya bermain sebagai gelandang tengah, alur serangan City jadi sulit ditebak oleh tim lawan. 

Meski begitu, seperti pemain nomor 10 kebanyakan, Silva dan De Bruyne tentu saja membutuhkan pemain-pemain City lainnya untuk mendukung kinerjanya. Mereka harus tetap menjadi pemain yang paling menonjol, tidak bisa tidak. Pep paham betul akan tersebut, tapi ia tidak sepenuhnya menyetujuinya. Daripada membangun tim di sekeliling mereka, ia memilih membangun sistem permain yang mampu membuat City tampil lebih baik, sekaligus mendukung kinerja Silva dan De Bruyne.

Melihat potensi De Bruyne dan David Silva, Pep pun membangun sebuah sistem unik

Pertama, ia memainkan formasi 4-3-3, salah satu jenis three band formation yang lebih dinamis daripada three band formation lainnya. Kedua, ia menerapkan high-pressing, dengan segala aturannya yang rumit, serta garis pertahanan tinggi. Itu artinya, kelemahan bertahan yang dimiliki Silva dan De Bryune dapat ditutupi dengan metode permainan timnya dalam bertahan. Dan ketiga, yang merupakan hal paling penting, ia mendewakan penguasaan bola. High-pressing memang menolong City saat kehilangan bola, tapi penguasaan bola akan selalu mematung di dalam ingatan pemain-pemain City: selama mereka mampu menguasai bola, mereka tak perlu memikirkan pertahan. 

Manariknya, ada satu faktor penting, yang menghubungkan segala kerumitan pendekatan Guardioa itu, yang membuat segalanya juga tampak lancar bagi City musim ini. Faktor tersebut adalah peran yang dilakoni para full-back City pada musim ini. Berkat peran para full-back City, De Bryune dan Silva mampu memainkan perannya secara maksimal, juego de posicion berjalan lancar, dan hanya takdir Tuhan yang sepertinya bisa menghentikan kedigdayaan City di Premier League musim ini. 

Lalu, peran apa yang dilakoni para full-back Manchester City tersebut? Peran itu bernama inverted wing-back. Peran itu seperti Sex Pistols ketika melakukan konser di gedung pertunjukkan di Free Trade Hall, Manchester, pada tanggal 4 Juni 1976 lalu. Jika berkat konser Sex Pistols tersebut industri musik dunia dapat berubah, para inverted wing-back City juga siap mengubah sepak bola dunia.