Trio Barcelona Semakin Menakutkan

Dengan kehebatan yang sama seperti kala membela Liverpool, Luis Suarez semakin menjadi momok menakutkan bagi lawan-lawannya. Michael Cox menjelaskan bagaimana pemain Uruguay tersebut adalah rekan yang cocok bagi Lionel Messi dan Neymar...

4-3-3 sudah menjadi bagian penting dari filosofi Barcelona beberapa dekade belakangan. Hal ini membuat para Manager memiliki kesempatan untuk menempatkan tiga penyerang kelas dunia di depan. Namun tidak sesering dihuni macam Lionel Messi, Neymar, dan Luis Suarez.

Tiga pemain ini hampir sama, mampu membawa bola dengan baik, insting membunuh, serta baik dalam mengumpan, melihat mereka berkembang sangat menyenangkan namun juga penuh problema.

Semuanya menjadi bagian penting baik itu di klub sebelumnya maupun untuk level internasional. Dan tidak mudah bermain di top performa secara simultan.

Mulai Menyatu

Membutuhkan waktu untuk saling mengerti pertama Luis Suarez harus menjalani masa hukuman kemudian disusul dengan lebih menekankan pada kerja keras ketimbang menjalankan tugas utama.

Akan tetapi dalam minggu-minggu akhir pemain asal Uruguay tampil dalam kecepatan penuh, hasilnya lima kemenangan liga terakhir dan tak kurang dari 21 gol tercipta.

Faktanya Luis Enrique belum mampu mengeluarkan potensi ketiga pemain ini secara maksimal. Suarez lebih sering berperan sebagai pembantu ketimbang juru gedor utama.

Di Liverpool dia adalah penyerang utama, diberi kebebasan untuk bermain keluar dari pakem utama ketika dirasa perlu. Pergantian taktik dari Brendan Rodgers terkadang buat ia memiliki tandem di depan yaitu Daniel Sturridge.

Di Barcelona skala prioritas berbeda, Messi nomor satu, 4-3-3 berikutnya, Neymar menyusul dan Suarez baru ada. Ia harus bisa menjalani urutan ini dengan benar.

Tempatnya ada di depan, secara teori maka posisi ini paling memungkinkan untuk mendulang gol, tugas utama adalah sebagai target man, penipu dan membuat ruang bagi Messi serta Neymar untuk masuk mendribble.

Suarez bergerak aktif untuk menarik keluar pemain belakang lawan, tak jarang ia malah mendapatkan dirinya berada jauh dari gawang. Hingga harus menekan ego.

Ketika bertemu Athletic bisa menjadi studi kasus paling nyata. Peran nomor empat sehingga ia seringkali memberikan umpan langsung kepada Messi dan Neymar.

Messi kembali ke posisi lamanya di kanan walaupun ia banyak bergerak sebagai penyerang tengah, kecepatan sudah tak lagi seperti masa kejayaan lantaran sering bermain sebagai false nine dan nomor sembilan.

Di kanan ia memiliki lebih banyak ruang dan tidak seperti pada musim-musim sebelumnya ketika Barca masih bergantung pada gol Messi, kini ada Neymar dan Suarez membantu.

Petarung Bebas

Lawan Villarreal merupakan bukti lain bagaimana Suarez menjalankan peran nomor empatnya di Barcelona. Dia dengan mudah memberi kesempatan bagi dua rekannya untuk bergerak bebas. Walau menerima bola dengan penjagaan ketat di tengah tak buat ia kesulitan dan saat hendak melewati pemain lawan tak satupun yang berhasil.

Messi dan Neymar mempunyai kesempatan untuk masuk ke dalam dari posisi luar walau ketika harus melewati lawan juga kerap gagal, menunjukkan adanya determinasi bahwa mereka dalam posisi bebas.

Tinggal menunggu waktu bagi Suarez ketika masih di Ajax juga awalnya ia bukan berperan sebagai pencetak gol ulung. Semua baru terjadi ketika musim ketiga dirinya di Belanda. Jika semua berjalan sesuai rencana maka jelas ini akan menjadi trio penyerang kelas dunia.