United Tidak Lebih Suci dari Mourinho

Setelah tiga tahun, akhirnya Manchester United sadar kalau Jose Mourinho adalah sosok yang paling tepat untuk mengambil alih kursi manajer yang ditinggalkan Sir Alex Ferguson, tulis Ranaditya Alief...

Akhirnya momen yang ditunggu jutaan fans Manchester United di seluruh dunia terjadi. Fix, resmi, official instead of halal: Jose Mourinho diumumkan sebagai manajer baru klub terbesar di Inggris.

Bagi saya pribadi, penunjukkan Mourinho mengindikasikan 2 hal.

Pertama, United bukanlah klub kecil. Prestasi Piala FA tidak sepadan untuk menjamin kelangsungan Louis van Gaal sebagai manajer. Kedua, United, Ed Woodward selaku executive vice-chairman, dan bahkan Sir Alex Ferguson selaku penasihat seolah mengaku salah pilih pelatih selama 3 tahun terakhir

Terkait yang kedua, kalau memang itu yang memang terjadi, maka bravo!

Mengakui kesalahan dan mengambil langkah untuk mengoreksinya tidak pernah mudah, apalagi untuk sosok yang besar. Memang lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, sebelum terjebak siklus mediokritas seperti tim macam, uhuk, Arsenal.

Namun berkaca pada momen seusai pensiunnya Fergie di tahun 2013, saya selalu mempertanyakan keputusan untuk tidak mengangkat Mourinho yang pada saat itu jelas-jelas menganggur dan menginginkan posisi manajer United.

Berbagai alasan dikumandangkan untuk menjustifikasi Mourinho sebagai pilihan yang buruk. Di antaranya; sikapnya yang penuh kontroversi, gaya bermain sepakbola timnya yang kelewat pragmatis, dan ketidakmampuannya untuk berkomitmen jangka panjang.

Apa kesamaan dari semua alasan tersebut? Tak ada satu pun yang berhubungan langsung dengan hal paling penting dalam sepakbola: hasil akhir, keahlian utama Mou yang dibuktikan dengan delapan trofi dan persentase kemenangan 66% selama di Inggris.

Bukankah pelatih seperti Fergie juga sarat kontroversi? Dari perseteruan dengan Wenger pada awal milenium hingga aksi silenzio stampa terhadap BBC, Ferguson jelas bukan sosok yang paling adem-ayem

Akan lebih menarik lagi apabila ketiga faktor tersebut ditinjau ulang, baik dari sisi Mourinho maupun United.

Apakah Mourinho kontroversial? Pasti, dan bukti-buktinya terpampang jelas: mulai dari proklamasi julukan 'The Special One' hingga aksi mencolok mata mendiang Tito Villanova.

Tapi bukankah pelatih seperti Fergie juga sarat kontroversi? Dari perseteruan dengan Wenger pada awal milenium hingga aksi silenzio stampa terhadap BBC, Ferguson jelas bukan sosok yang paling adem-ayem. Kecuali kuping saya salah, rasanya Fergie adalah salah satu manajer yang paling sering menggunakan f-word!

Mourinho pragmatis? Mari kita mulai membedakan pragmatis dengan defensif. Kedua kata tersebut jelas tidak memiliki arti yang sama. Defensif adalah defensif, sementara pragmatis artinya Anda menggunakan segala cara untuk menang, baik dengan menggunakan cara defensif maupun ofensif.

Statistik menunjukkan bahwa selama 10 musim menukangi Chelsea, Inter Milan, dan Real Madrid, tim asuhan Mourinho selalu masuk daftar tiga besar tim dengan gol terbanyak di liganya, dan bahkan empat kali menjadi yang paling subur. Perlu diketahui, rekor gol terbanyak dalam satu musim La Liga hingga kini masih dipegang Real Madrid di musim 2011/12.

Memang, terkadang Mourinho bermain defensif, khususnya ketika timnya dihadapkan dengan tim lain yang punya daya serang yang jauh lebih hebat. Akan tetapi, bukankah hal yang sama diterapkan United saat melawan Barcelona di leg 1 semifinal Liga Champions 2007/08? Penguasaan bola sebanyak 27% di pertandingan tersebut jelas bukan karakteristik sebuah tim yang mendewa-dewakan free-flowing football.

Terakhir, soal ketidakmampuan Mourinho untuk berkomitmen jangka panjang. Rasanya tidak relevan membahas faktor ini setelah tahu kontrak Mourinho di United hanya berdurasi tiga tahun, dan melihat bahwa jangka waktu kontrak yang sama juga diberikan kepada Van Gaal sebelumnya. Tampaknya memang ada pergeseran orientasi United dalam hal mengontrak pelatih.

Lagipula, jika Mourinho memang seambisius personanya, seharusnya ia justru tertantang untuk membuat dinasti di United. Setelah memenangkan gelar domestik di empat liga berbeda dan dua trofi Liga Champions dengan dua tim berbeda, tantangan yang tersisa bukan sekedar menang, melainkan membangun.

Karena itu, saya tak akan kaget nantinya jika Mourinho memperpanjang kontraknya di Manchester United. Parameter kesuksesannya kali ini tak hanya akan diukur dari trofi semata, tetapi juga longevity. Sebuah tolok ukur yang bisa membuat The Special One sejauh ini tidak ada spesial-spesialnya dibandingkan Sir Alex Ferguson. Sejauh ini.

Kontroversi, pragmatisme, dan ketidakmampuan komitmen jangka panjang. Keroposnya ketiga stereotip yang dulu membuat United lebih memihak David Moyes ini menunjukkan bahwa sejatinya United tidak lebih suci dari Mourinho.

Tiga tahun kemudian, akhirnya United sadar juga.