Wawancara Eksklusif Bersama Irfan Bachdim Langsung Dari Jepang

Apa kabar Irfan Bachdim? Setelah berkarier di Thailand bersama Chonburi FC di Thai Premier League, pemain Indonesia keturunan Belanda ini berkarier di Jepang. 

Musim lalu ia bergabung dengan Ventforet Kofu, sementara pada musim 2015 ini, ia bermain untuk klub divisi dua liga Jepang, Consadole Sapporo. Ia pun hingga saat ini menjadi satu-satunya pemain dari Asia Tenggara yang berkarier secara profesional di negeri sakura.

Lalu bagaimana dengan perkembangan kariernya di negara yang liga sepak bolanya diakui sebagai yang terbaik di Asia tersebut? Tim kami dari FourFourTwo Thailand bertemu dengannya di Sapporo Dome, kandang Consadole, dan membicarakan kariernya di Jepang, perbedaan standar sepak bola Jepang dengan Indonesia, dan peluangnya kembali bermain di Eropa.

Halo Irfan. Bagaimana kehidupanmu di Jepang?

Jepang adalah negara yang hebat. Sepak bola di sini juga hebat. Infrastukturnya pun begitu, sebagaimana yang bisa kamu lihat, dan saya sangat gembira bisa berada di sini.

Aksi Irfan Bachdim saat di Thailand

Bagaimana situasimu di tim?

Sejauh ini saya baru bermain empat pertandingan di liga. Saya mendapatkan cedera sejak masa pra-musim. Setelah sembuh, saya bermain dalam empat pertandingan tapi sayangnya saya cedera lagi, kali ini saya harus absen selama delapan minggu. Tetapi sekarang saya akan kembali ke lapangan dalam waktu dua minggu.

Sebagai seorang pemain ASEAN yang pernah merasakan bermain di Thai Premier League, dan sekarang J-League 2, bagaimana Anda membandingkan kedua liga tersebut?

Sejujurnya, saya pikir di sini (J-League 2) masih sedikit lebih tinggi standarnya ketimbang Thai Premier League. Di sini lebih berat secara fisik. Setiap pertandingan menuntut Anda mengeluarkan tenaga yang besar untuk berlari dari ujung lapangan ke ujung lapangan yang lain, baik untuk menyerang maupun bertahan di sepanjang 90 menit. Tetapi beberapa klub Thailand seperti Muangthong, Chonburi, atau Buriram sebetulnya bisa dengan mudah menghadapi J-League 2. Namun, jika Anda melihat kedua liga secara keseluruhan, standar setiap tim di Jepang sangat ketat, dan kompetisinya lebih ketat daripada TPL. Ini adalah liga yang sangat berat.

Shinji Ono menjadi salah satu panutan Irfan kala di Consodale Sapporo

Consadole punya dua legenda seperti Shinji Ono dan Junichi Inamoto. Bagaimana rasanya bisa berada di satu tim dengan mereka.

Oh, jelas saya sangat bersemangat, terutama karena saya bisa belajar sepak bola mereka. Shinji Ono terkenal ketika ia bermain di Belanda (negara asal Irfan) dan saya pun dulu bermain di Belanda. Saya telah mengetahui dirinya sejak lama, dan sekarang kami berada di tim yang sama, saya bisa berbicara dalam bahasa Belanda dengannya.

Sangat hebat rasanya bisa bermain dengannya, ia memberikan bantuan yang besar bagi saya dengan memberikan saya nasihat dari awal hingga akhir latihan. Bisa berlatih dan belajar dari seorang pemain sepak bola dengan level sepertinya, tak diragukan lagi, akan membuat Anda menjadi pemain yang lebih baik.

Sebagai satu-satunya pemain ASEAN di Jepang sampai hari ini, apakah menurutmu Jepang adalah tempat yang bagus untuk pesepak bola ASEAN, baik sekarang maupun di masa depan, untuk memulai perjalanan mereka menuju Eropa?

Sebetulnya, itu tergantung situasi setiap individu. Jika Anda berpikir Anda berada di usia tertentu, seperti 25-26 tahun, langsung menargetkan dan bermain di Eropa bisa lebih baik. Tetapi jika Anda masih muda, 16-18 tahun dan mendapatkan kesempatan untuk memulai karier di Jepang, itu akan menjadi kesempatan yang sangat bagus karena Jepang punya jumlah pemain Asia terbanyak di Eropa. Dan hal penting lainnya adalah atmosfer latihan, fasilitas, standar liga, dan standar hidup yang jauh lebih mendekati standar di Eropa.

Jadi jika para pemain Thailand, Indonesia, atau negara ASEAN lainnya ingin memulai karier sepak bola mereka di Jepang, maka itu adalah langkah pertama yang bagus untuk bermain di luar negeri dan mengembangkan diri mereka.

Apakah kamu ingin kembali ke Eropa?

Tidak. Karena saya ingin membuktikan diri saya dan meraih sukses di Jepang dulu. Ada tawaran dari tim Divisi 2 Belanda tetapi saya menolaknya. Dan mungkin jika saya sukses di sini dan kemudian saya mendapatkan tawaran bagus di liga yang top, saya mungkin akan pergi.

Bagaimana kamu bisa mengembangkan diri kamu di Jepang jika kamu tidak banyak bermain?

Saya tidak banyak bermain juga ketika saya pindah ke Kofu musim lalu, dan saya ingin pulang ke rumah. Dan soal makanan juga bahasa membuat hidup di sini sangat sulit. Saya mulai merasa kurang percaya diri dan setelah enam bulan, saya berpikir untuk kembali ke Thailand atau Indonesia. Saya ingin bermain. Tetapi ketika saya berbicara dengan manajer pribadi saya, ia mengatakan pada saya bahwa jika saya ingin sukses, saya harus bersabar.

Standar latihan di Jepang lebih baik daripada di Thailand dan Indonesia, dan itu membantu saya meningkatkan diri meski saya tidak menyadarinya. Dan ini adalah tahun kedua saya di Jepang, saya bisa sedikit berbicara bahasa lokal dan saya melihat ada tanda-tanda kesuksesan di masa depan, saya punya lebih banyak kesempatan untuk bermain jika saya tidak kena cedera lagi. Jika saya fit sepenuhnya, saya yakin saya akan mendapatkan tempat sebagai starter.