Wawancara Eksklusif Sergio van Dijk (Bag. 2): Fans di Indonesia Lebih Fanatik, Tapi Manajemen Thailand Lebih Bagus

Kepada FourFourTwo, Sergio van Dijk bercerita tentang perbedaan sepakbola Indonesia dan Thailand, mengapa marquee player bisa berdampak positif, dan apa tanggapannya soal naturalisasi di tubuh timnas Indonesia...

Sebagai pemain yang sudah membawa karier sepakbolanya ke berbagai negara di belahan dunia, Sergio van Dijk, berbagi pengalamannya secara khusus kepada FourFourtwo Indonesia. Jika Anda ketinggalan, pada bagian pertama wawancara sebelumnya, Sergio juga menanggapi apa yang terjadi dengan klubnya saat ini, Persib Bandung.

Thailand adalah negara keduanya di Asia Tenggara setelah Indonesia yang ia jadikan sebagai destinasi untuk karier sepakbolanya. Bahkan saat merumput di Negeri Gajah Putih, catatan Sergio cukup lumayan selama dua musim berseragam Suphanburi; 17 gol dari 40 kali bermain. Ia pun bercerita tentang perbedaan Indonesia dan Thailand yang notabene merupakan “negara baru” saat itu bagi Sergio.

“Fans di Indonesia lebih banyak dan lebih fanatik. Menurut saya fans Indonesia sangat luar biasa. Stadion di Indonesia sering penuh, kalau di Thailand kadang-kadang saja penuh. Tapi dalam hal manajemen, jadwal, dan fasilitas, Indonesia masih kurang bagus. Jadwal di Thailand jarang berubah. Itu lebih jelas untuk pemain dan juga untuk fans,” ungkap penyerang plontos Persib Bandung ini.

“Banyak klub di Thailand sudah punya fasilitas khusus timnya. Lapangan, gym, ruang ganti semua bisa dipakai tapi hanya untuk pemain dari tim sendiri. Kualitas lapangan juga bagus sekali, hampir sama dengan kualitas Eropa,” sambungnya.

Van Dijk yakin kedatangan pemain asing berkualitas membantu Thailand meningkatkan sepakbola mereka

Fans di Indonesia lebih banyak dan lebih fanatik. Menurut saya fans Indonesia sangat luar biasa. Tapi dalam hal manajemen, jadwal, dan fasilitas, Indonesia masih kurang bagus

- Sergio van Dijk

Sergio, yang hanya pernah bermain untuk Persib selama di Indonesia, melihat bahwa klub-klub Indonesia masih punya banyak kekurangan. Jika yang ia jadikan rujukan adalah Persib, ini tentu mencengangkan mengingat Persib adalah salah satu klub elit di Indonesia yang hampir tak pernah punya masalah finansial. Karena memang pada kenyataannya, Persib dan sebagian besar klub Indonesia tak mempunyai lapangan latihan sendiri, stadion sendiri, ataupun fasilitas gym sendiri.

Fasilitas terutama lapangan memang sudah seharusnya menjadi perhatian bagi klub-klub di Indonesia. Apalagi, kini kompetisi sepakbola Indonesia sendiri mulai kedatangan para pemain kelas dunia.

Soal kedatangan pemain-pemain kelas dunia, Sergio pun mengungkapkan pendapatnya. Ia berujar, “Sekarang klub-klub Indonesia baru mulai membawa pemain kelas dunia, yang datang ke liga dengan gaji di atas rata-rata. Di Thailand hal itu sudah biasa, dan mereka sudah bawa banyak pemain berkualitas ke Thailand. Hal itu pasti ikut membantu meningkatkan kualitas sepakbola Thailand.”

“Sedangkan di Australia, mereka juga memiliki aturan marquee player. Salah satu alasannya adalah untuk mendapatkan perhatian lebih dari media karena sepakbola bukanlah olahraga nomor satu di Australia. (Mendatangkan marquee player) ini juga bertujuan untuk menambah kualitas liga. Saya pikir itu adalah rencana yang bagus dan sangat membantu sepakbola di Australia,” tutur mantan top skorer Liga Australia ini saat bercerita pengalamannya di negeri Kanguru.

Van Dijk sempat membela Suphanburi saat di Thailand

Sedangkan mengenai riuh rendah marquee player di Indonesia yang baru dimulai musim ini, bagi Sergio, kedatangan mereka ke Indonesia juga penting dan dibutuhkan untuk menarik minat media dan pemain-pemain asing lainnya ke Indonesia. Tak lupa juga, ia menyampaikan sarannya bagi federasi Indonesia untuk belajar banyak ke Thailand. “Indonesia bisa mencoba untuk melihat organisasi sepakbola di Thailand karena semua orang bisa lihat Thailand sekarang maju di dunia sepakbola,” ujarnya.

Marquee player memang menjadi fenomena tersendiri baru-baru ini. Kedatangan Michael Essien ke Persib Bandung membuat federasi (PSSI), menetapkan peraturan baru tepat beberapa hari setelah kedatangan eks pemain Chelsea dan timnas Ghana tersebut. Bagi Sergio sendiri, aturan ini tak terasa janggal karena saat kami konfirmasi kebenarannya tentang ia termasuk pemain asing berlabel marquee player (yang mendapatkan gaji di atas salary cap atau batas atas gaji di sebuah kompetisi) saat merumput di Australia, ia membenarkan kabar tersebut. Sebagai informasi, acuan marquee player di Australia adalah salary cap, berbeda dengan apa yang diterapkan oleh PSSI disini.

Sergio van Dijk merupakan marquee player di A-League dulu

Indonesia bisa mencoba untuk melihat organisasi sepakbola di Thailand karena semua orang bisa lihat Thailand sekarang maju di dunia sepakbola

- Sergio van Dijk

Mengenai Essien, penyerang utama Persib Bandung tersebut masih berharap kepada kemapuannya dalam visi bermain serta umpan-umpan akuratnya di lapangan.

“Saya berharap dia mampu memberi dampak ekstra dengan fisik dan umpan-umpannya. Ia telah menunjukkannya beberapa kali, seperti saat melawan Gresik, saat dia memberikan sebuah longball yang bagus kepada Febri, yang akhirnya memberi operan crossing kepada Billy yang mencetak gol kemenangan saat itu,” ungkapnya.

“Essien dapat menunjukkan kepada pemain lokal bagaimana kualitas yang berbeda dari pemain top. Dia masih menunjukkan kepda kami setiap hari saat berlatih dan dalam permainan. Saya pikir adalah keputusan yang bijaksana untuk mendapatkan beberapa pemain seperti Essien di Indoensia,” lanjut Sergio.