Wawancara Raphael Maitimo: "Saya Punya Mimpi Menjadi Juara Bersama Arema"

Raphael Maitimo bercerita kepada FourFourTwo Indonesia tentang kekecewaannya gagal menjadi juara bersama Arema, dan mengapa ia memilih PSM Makassar sebagai pelabuhan berikutnya...

Keputusan Raphael Maitimo untuk meninggalkan Arema FC adalah hal yang mengejutkan, bukan hanya bagi para Aremania, tetapi juga bagi pelatih anyar Singo Edan, Aji Santoso. “Jika dia pergi tentu akan ada hitungan, karena Timo ada pada skema saya yang tiap malam saya pikirkan, dan saya utak-atik posisinya bersama pemain lain,” akunya.

Aji pun dipastikan harus benar-benar memikirkan ulang skema permainan Arema di Liga 1 2017 nanti karena Maitimo pada akhirnya memastikan diri bergabung dengan PSM Makassar. Ia sudah berada di Bali sejak pekan ini untuk bergabung dengan tim barunya, yang melakukan pemusatan latihan di Pulau Dewata.

Maitimo sebetulnya menjalani karier yang bagus bersama klub asal Malang itu. Musim lalu, di Indonesia Soccer Championship A (ISC A), pemain kelahiran Belanda ini mencatatkan dua gol dan lima assist, dan bersama Esteban Vizcarra menjadi pemain dengan jumlah assist terbanyak di kubu Arema.

Sayang meski dirinya bermain bagus di sepanjang musim, Maitimo gagal merengkuh gelar juara bersama Arema. Dan ternyata, kekecewaan itulah yang membuatnya memutuskan untuk pergi.

“Arema adalah klub yang sangat besar di Indonesia, dengan banyak fans yang luar biasa,” akunya kepada FourFourTwo Indonesia. “Tapi saya punya target tahun lalu: saya ingin menjadi juara.”

Maitimo ketika mendapatkan kejutan kue ulang tahun dari para Aremania

“Kami menjalani musim yang bagus, tapi kami menjadi runner-up, jadi saya tidak memenuhi target saya.”

Kami menjalani musim yang bagus, tapi kami menjadi runner-up, jadi saya tidak memenuhi target saya

- Raphael Maitimo

“Saya mengatakan pada diri saya sendiri, ‘Oke, mungkin sekarang waktunya untuk merasakan tantangan baru’. Dan itulah alasan utama mengapa saya meninggalkan Arema.”

Kekecewaan Maitimo semakin ditambah dengan kepergian Milomir Seslija. Ia terkesan dengan Milo, yang sebetulnya cukup sukses bersama Singo Edan di sepanjang tahun lalu, di mana ia mengantarkan Arema menjuarai Bali Island Cup dan Piala Bhayangkara, selain juga mengantar Arema terus berada di dua besar ISC A di sepanjang musim.

“Tak lama setelah saya mengetahui kalau Coach Milo – saya bekerja dengan baik bersamanya – pergi dari Arema, tentu saja saya sedih dan kecewa, karena ia adalah pelatih yang sangat bagus,” ujar Maitimo.

“Tentu Coach Aji Santoso juga seorang pelatih lokal yang bagus di Indonesia. Tidak ada masalah sama sekali dengannya. Tapi seperti yang saya katakan, saya tidak mencapai target saya, dan hanya menjadi runner-up.”

Kegagalan Arema menjadi juara memberikan kekecewaan yang mendalam bagi Maitimo

Maitimo memang tak menyembunyikan hasratnya untuk menjadi juara – faktanya, ia justru berulangkali menekankannya dalam wawancara eksklusif bersama FourFourTwo di sebuah coffee shop di Jakarta, Sabtu (21/1) siang pekan lalu.

“Secara individu, saya menjalani musim yang sangat bagus. Sayangnya kami tidak menjadi juara. Saya sangat fokus untuk menjadi juara. Saya juga mengatakan kepada bos saya, Iwan Budianto, bahwa saya punya mimpi, saya ingin menjadi juara bersama Arema.”

Sayangnya kami tidak menjadi juara. Saya sangat fokus untuk menjadi juara. Saya juga mengatakan kepada bos saya, Iwan Budianto, bahwa saya punya mimpi, saya ingin menjadi juara bersama Arema

- Raphael Maitimo

Kegagalan Arema menjadi juara ISC A 2016 memang cukup disayangkan. Berada di dua besar di hampir sepanjang musim, mereka terus bersaing ketat dengan Madura United di sebagian besar musim, sebelum Madura United mengalami penurunan performa. Persipura Jayapura membuat kejutan dengan terus tampil bagus di paruh kedua musim dan akhirnya menyodok ke posisi satu, meninggalkan Maitimo dkk. di tempat kedua.

Menurut Maitimo, permasalahan utama yang dihadapi oleh Arema tahun lalu adalah terlalu banyak kompetisi dan turnamen yang harus mereka hadapi. Arema memang mengikuti tiga turnamen sebelum ISC A digelar, yaitu Bali Island Cup, Piala Gubernur Kaltim, dan Piala Bhayangkara. Imbasnya, penurunan performa pun dirasakan oleh klub yang baru-baru ini mengubah namanya menjadi Arema FC, di samping juga masalah cedera.

Ini semakin diperparah dengan tidak adanya libur kompetisi yang cukup panjang. Inilah yang menurut Maitimo berkontribusi pada kegagalan Arema menjadi juara.