Wawancara Yeyen Tumena: Menghadapi Del Piero Adalah Pengalaman yang Tak Terlupakan

Ada banyak kenangan menarik yang dialami Yeyen Tumena ketika pergi ke Italia di usia muda bersama tim PSSI Primavera. Salah satunya: menghadapi Alessandro Del Piero, sang legenda Juventus. Ia menceritakannya kepada Gerry Putra dari FourFourTwo Indonesia...

Bagaimana cerita awal bisa terpilih ke Italia bersama tim Primavera?

Awalnya, tim (dibentuk) hanya untuk ikut Piala Pelajar Asia. Pemain-pemainnya dipilih dari dua turnamen, ada dari Piala Haornas U-15 dan Piala Menpora U-17, dan juga antar Diklat. Pada saat sudah terpilih, (terkumpul) sekitar hampir 120 pemain di Sawangan. Kalau dari Sumatera barat, ada tiga pemain PSP Padang yang lolos ke semifinal Piala Menpora. Dua pemain lain Gusnedi Adang dan Dedy.

Setelah bergabung di Sawangan ada 12 pelatih nasional, ada Om Danurwindo, Suhatman Imam, Benny Dolo, dan Sartono Anwar. Saya agak lupa pokoknya ada 12 pelatih yang lakukan seleksi. Seleksi ada empat grup, kemudian berkurang jadi 70 lalu tinggal 30. Setelah itu tim 30 pemain itu berangkat ke Arafura Game di Darwin, Australia. Kembali ke Jakarta, ada 10 pemain lagi yang seleksi, dan seleksi itu terjadi beberapa kali. Sehabis itu barulah kita berangkat ke italia tahun 1993.

Sebelum berangkat ke Italia, apa persiapan tim Primavera dan adakah turnamen sebelumnya?

Ya, kita berangkat ke Italia, tapi persiapannya sebulan dulu untuk ke Piala Asia Pelajar di Sri Langka. Memang tadinya tim itu dipersiapkan hanya untuk Piala Asia, tapi tiba-tiba dalam perjalananya ada persiapan proyek Primavera, jadinya tim itu yang diberangkatkan ke Italia. Saya dan teman-teman tidak ada pikiran akan diberangkatkan ke Italia. Mungkin karena prestasi kita di Piala Asia Pelajar juga lumayan, yakni runner-up, kalah dari Thailand. Habis Piala Asia kita langsung berangkat ke Italia, ikut kompetisi Primavera.

Danurwindo (kanan) salah satu pelatih nasional yang melakukan seleksi tim

Memang tadinya tim itu dipersiapkan hanya untuk Piala Asia, tapi tiba-tiba dalam perjalananya ada persiapan proyek Primavera, jadinya tim itu yang diberangkatkan ke Italia

Bagaimana adaptasi dengan budaya dan sepak bola Italia?

Selama di sana kita terus belajar bahasa italia untuk menyesuaikan dan beradaptasi dengan Italia. Jadi schedule hariannya itu, (pertama) kita latihan pagi. Setelah latihan, mandi, sarapan, dan langsung masuk kelas bahasa Italia. Pengajarnya harus mentranslate ke dua bahasa, dari bahasa Italia ke Inggris, Inggris ke Italia.

Karena semua pemain masih berstatus siswa SMP dan SMA ragunan, maka setiap malam kita masuk ke ruangan yang namanya Vila Indonesia, tak jauh dari apartemen tempat menginap. Di situ tempat kita berkumpul, bejalar, dan melakukan semua kegiatan. Ada class room yang cukup besar kita manfaatkan untuk belajar.

Adaptasi lainnya yang berat di tahun pertama adalah makanan. Tahun pertama kita bawa masakan dari Indonesia, tapi baru boleh makan-makanan Indonesia itu malam. Makan siang itu harus makanan yang di sana seperti pasta steak dan makanan Italia lainnya. Itu wajib. Menu Indonesia itu hanya boleh malam. Standar Gizi, diatur di sana. Buah, roti segala macam, wah, luar biasa. Biasanya menu buah di indonesia tidak jadi perhatian.

Di tahun pertama itu, teman-teman ada yang bawa bekal. Ada yang bawa Indomie, sambal, tapi lama-lama kan persediaan itu menipis dan habis. Akhirnya teman-teman terbiasa makan masakan Italia, tahun kedua tidak ada kitchen. Jadi murni makanan Italia. Kalaupun ada nasi, (ukuran) berasnya agak besar.