Kisah

Wenger di Nagoya Grampus Eight: Bagaimana Jepang Mengubah Diri Arsene Selamanya

Arsene Wenger Nagoya Grampus Eight

Sebelum Arsenal dan Premier League, ada Nagoya dan J.League. John Duerden melihat kembali karier Arsene Wenger di Negeri Matahari Terbit

We are part of The Trust Project What is it?

Sementara para fans Arsenal tidak terlalu bergairah untuk menyambut kedatangan Arsene Wenger pada 1996, hal yang sama juga terjadi pada para suporter Nagoya Grampus pada Januari 1995.

Lelaki asal Prancis ini menjadi suksesor Bruce Rioch di London utara, dan ia pun mengikuti jejak mantan bos Wigan Athletic lainnya, Gordon Milne, ketika ia datang ke Jepang untuk pekerjaan barunya. Milne – yang pernah direkrut oleh Bill Shankly untuk Liverpool – memiliki pengalaman yang bagus di luar negeri setelah memimpin Besiktas merebut tiga gelar juara Turki, namun ia kesulitan di Nagoya. Musim 1994 berakhir dengan timnya berada satu tempat di atas posisi terbawah dalam klasemen keseluruhan di liga yang dibagi menjadi dua daerah, seperti Liga Indonesia di masa lalu.

Setelah menjalani kisah yang serupa di musim pertama J.League pada 1993, ekspektasi para suporter Nagoya pun tak terlalu tinggi menjelang bergulirnya musim 1995, dan identitas pelatih baru mereka ketika itu sama sekali tidak membantu meningkatkan gairah tersebut.

“Tidak ada yang mempercayai Wenger pada awalnya,” kata bek Nagoya ketika itu, Tetsuo Nakanishi. “Mereka semua mengatakan, ‘datang lagi seorang ‘bule’ yang lain’.”

Arsene Wenger Nagoya Grampus Eight

Bukan sekadar ‘Bule Biasa’ 

Mereka salah. Karier Wenger di Jepang memang cukup pendek, tetapi berakhir dengan sangat manis. Tidak ada perasaan bahwa lelaki Prancis ini gagal – justru sebaliknya. Ketika ia mengucapkan salam perpisahan pada para fans di Mizuho Athletic Stadium pada September 1996 (dan pada seluruh negeri yang menyaksikannya di televisi), hampir tidak ada orang yang tidak meneteskan air mata.

Tidak ada yang mempercayai Wenger pada awalnya. Mereka semua mengatakan, ‘datang lagi seorang ‘bule’ yang lain’

- Tetsuo Nakanishi, Bek Nagoya Grampus

Shintaro Kano dari Kyodo News mengingat momen itu dengan sangat baik.

“Ia tidak tinggal terlalu lama untuk meninggalkan sebuah warisan,” kata Kano kepada FourFourTwo, “Tetapi karier pendeknya di Jepang hanya memunculkan fantasi soal apa yang bisa ia bangun seandainya ia bertahan lebih lama – seperti sebuah teaser keren untuk sebuah film besar musim panas.”

Wenger sebelumnya dipecat oleh Monaco pada September 1994 – tim yang ia bawa menjuarai liga Prancis pada 1988 – setelah awal musim yang buruk. Padahal beberapa bulan sebelumnya mereka mencapai semifinal Liga Champions, sebelum kalah dari tim yang akhirnya menjadi juara, Milan, yang menghancurkan Barcelona 4-0 di final.

Saat itu, Wenger siap menerima tantangan baru dan Nagoya, yang membuang banyak uang untuk menghadirkan Gary Lineker dan Dragan Stojkovic namun tak memberikan hasil yang mereka inginkan, juga membutuhkan seseorang yang baru.

Gary Lineker Nagoya Grampus Eight

Klub ini lahir sebagai sebuah tim sepakbola perusahaan Toyota, sebelum menjadi klub profesional seutuhnya dengan diluncurkannya J.League pada 1993, dan manajemen mereka mendengar Wenger berbicara di sebuah konferensi di 1994 dan mereka terkesan. Negosiasi kemudian dilakukan, dan Wenger pun terbang ke kota industri itu untuk menyaksikan sebuah pertandingan pada akhir musim 1994 – penampilan profesional terakhir Lineker di lapangan hijau.

Pada Desember, Wenger setuju untuk bergabung dan mengambil alih tim di musim ketiga J.League.

Pages