Wilfried Van Moer: Kebangkitan Terhebat dalam Sepak Bola yang Belum Pernah Anda Dengar

Beberapa pihak merasa khawatir gelandang Belgia itu tidak akan pernah sama lagi setelah kakinya patah melawan Italia di Euro 1972, ungkap Michael Yokhin – tetapi ia bangkit kembali untuk membalas dendam delapan tahun kemudian...

Hasil pemilihan Ballon d'Or pada tahun 1980 mungkin akan mengejutkan Anda. Karl-Heinz Rummenigge dan Bernd Schuster, yang juara Eropa bersama Jerman Barat, berada di posisi pertama dan kedua, sementara posisi ketiga diduduki oleh Michel Platini.

Tapi, siapa sosok yang berada di urutan keempat, Wilfried Van Moer? Fakta bahwa kebanyakan fans sepak bola yang lahir setelah 1980an tidak pernah, dan mungkin tidak akan pernah, mendengar namanya adalah sebuah ketidakadilan. Tapi sekarang adalah waktu yang tepat untuk memperbaikinya.

Seluruh karir Van Moer dapat diringkas dengan cerita tentang dua pertandingan penting melawan Italia. Kemunculannya sebagai anak muda dihentikan oleh sebuah tekel kasar melawan Azzurri pada tahun 1972, tapi ia tiba-tiba muncul tanpa diduga-duga delapan tahun kemudian untuk membalas dendam dengan manis di Roma dan mencegah Italia memenangkan Piala Eropa di kandang mereka. Itu adalah skenario yang layak dijadikan sebuah film Hollywood; dan begitu juga dengan seluruh cerita hidupnya.

Menjadi Jenderal Kecil

Van Moer lahir pada tahun 1945 – saat Perang Dunia II sudah hampir berakhir – sebagai anak yang tak direncanakan dari seorang ibu berusia 45 tahun. Pada saat itu, keluarganya sedang berjuang untuk mengatasi tragedi besar, ketika saudara perempuan Wilfried – yang belum pernah ditemuinya – tewas ketika Jerman membombardir kota Beveren.

Singkatnya, Van Moer memiliki potensi yang begitu besar hingga banyak yang berpikir ia bisa berkembang menjadi salah satu pemain terbaik dari generasinya

Meski sepak bola adalah satu-satunya sumber kebahagiaan Van Moer sebagai seorang anak, ia tidak pernah benar-benar bermimpi bermain secara profesional. Dia bekerja sebagai tukang listrik ketika pencari bakat klub Royal Antwerp melihatnya dan memastikan klub itu merekrutnya dia, yang ternyata menjadi salah satu keputusan terbaik yang pernah mereka buat.

Kurus, kecil, dan hanya sekitar 167 cm, Van Moer adalah gelandang box-to-box yang luar biasa – kuat dan tak kenal takut dalam melakukan tekel, penuh energi dan mampu menggiring bola di kakinya. Begitu luar biasa perkembangan yang dicapainya hingga ia akhirnya terpilih sebagai Pemain Terbaik Belgia di musim debutnya di divisi teratas dalam usia 21 tahun. Dia segera dikenal sebagai Jenderal Kecil, tak hanya karena ia menyerupai Napoleon Bonaparte, tetapi juga karena kualitas kepemimpinannya.

Wilfried van Moer

Van Moer dan seorang bek El Salvador terjebak di dalam gawang saat Van Moer mencetak gol di Piala Dunia 1970

Banyak tim top mencoba mengontraknya, dengan Koln, terutama, sangat berharap bisa memboyongnya ke Bundesliga. Tapi, Van Moer tidak ingin bermain di Jerman. Standard Liege akhirnya memenangkan perburuan tanda tangannya dan mengalahkan Club Brugge pada tahun 1968, memasukkan sang gelandang ke skuat berbakat yang kemudian memenangkan tiga gelar liga secara beruntun.

Jenderal Kecil itu kembali terpilih sebagai Pemain Terbaik pada tahun 1969 dan 1970, dan bermain sangat hebat saat Standard mengalahkan Real Madrid di Piala Eropa/Piala Champions. Dia juga menjadi bintang untuk tim nasional Belgia di Piala Dunia 1970 di Meksiko dengan mencetak dua gol. Singkatnya, Van Moer memiliki potensi yang begitu besar hingga banyak yang berpikir ia bisa berkembang menjadi salah satu pemain terbaik dari generasinya.

Kedai kopi

Saat Belgia bisa merayakan kelolosan mereka ke empat besar, Van Moer harus berada di rumah sakit

Kemudian bencana datang. Belgia harus menghadapi Italia di perempat final Piala Eropa pada tahun 1972, yang secara teknis adalah laga penentuan untuk menentukan tim mana yang akan menuju ke putaran final turnamen yang saat itu memang berformat empat tim.

Leg pertama di San Siro berakhir tanpa gol, sebelum Van Moer membawa Red Devils unggul di leg kedua di Brussels. Tetapi saat Belgia bisa merayakan kelolosan mereka ke empat besar, Van Moer harus berada di rumah sakit, setelah sebuah tekel mengerikan dari Mario Bertini membuatnya mengalami beberapa patah tulang kaki.

Belgia dipaksa untuk menjadi tuan rumah turnamen sebulan kemudian tanpa bintang utama mereka. Bahkan yang lebih menyedihkan, adalah perkiraan bahwa Van Moer tidak akan pulih sepenuhnya dari cedera mengerikan tersebut. Dia meninggalkan Standard pada tahun 1976 ketika posisinya sebagai starter tak lagi bisa dijamin, dan bergabung dengan tim kecil bernama Beringen yang menghabiskan sebagian besar musim mereka untuk berjuang keluar dari zona degradasi. Dengan karirnya seakan tinggal menghitung hari pada usia 31 tahun, Van Moer membuka sebuah kedai kopi saat ia mulai merenungkan pilihannya pasca-pensiun nanti.

Ternyata, memikirkan hal itu terlalu cepat baginya. Tiga tahun kemudian, ketika Belgia berada dalam kesulitan di kualifikasi untuk Euro 1980, manajer Guy Thys dibujuk oleh komentator TV terkenal Rik De Saedeleer untuk memanggil Van Moer. "Tim Anda tidak memiliki pemimpin," kata De Saederleer pada Thys. "Anda membutuhkan orang seperti Wilfried."