Analisa

Xherdan Shaqiri: Pilihan Kedua yang Menjadi Pengganti Philippe Coutinho yang Pas untuk Liverpool

Xherdan Shaqiri

Nabil Fekir sejatinya adalah pilihan utama untuk direkrut oleh Liverpool pada musim panas lalu, sementara Shaqiri hanyalah alternatif. Namun ternyata, sang alternatif berhasil membuktikan dirinya lebih mengesankan daripada yang diduga, tulis Sam McGuire

We are part of The Trust Project What is it?

Penyelesaian akhir Xherdan Shaqiri yang tenang ke gawang Cardiff adalah momen besar bagi kariernya yang baru dimulai di Liverpool, dan bukan hanya karena itulah pertama kalinya ia mencetak gol di Premier League bagi The Reds.

Caranya mengubah arah pinggulnya untuk membuat Sean Morrison tertipu membuat kita teringat pada Coutinho. Penyelesaian akhirnya yang mampu melewati Neil Etheridge, yang seharusnya akan membuat striker manapun merasa bangga, menjadi bukti dari seorang pemain yang lebih bagus daripada yang dinilai banyak orang.

Momen itu mungkin adalah kali pertama Shaqiri dilihat sebagai pengganti yang sepadan untuk Philippe Coutinho.

Pilihan Kedua

Pemain asal Brasil tersebut pergi meninggalkan Anfield pada Januari lalu dan Liverpool harus menunggu sampai Mei untuk bisa mencari penggantinya. Nama Nabil Fekir muncul sebagai pengganti untuk melengkapi Fab Four Liverpool lagi; sementara Shaqiri hanyalah alternative kedua. Pemain asal Swiss ini bahkan dianggap sebagai pembelian yang oportunitis saja: ia memiliki klausal pelepasan yang rendah, hanya £13,5 juta, dan dengan keserbabisaannya dalam berbagai posisi membuatnya terlihat sebagai seorang pemain yang bisa melengkapi skuat yang masih minim kedalaman di sisi penyerangan dengan harga murah.

Dalam beberapa hari, mantan pemain Stoke ini berubah status dari overrated menjadi underrated. Fakta bahwa ia bukan Fekir membuatnya hampir tidak dilirik. Masih berusia 26 tahun dengan lebih 70 penampilan untuk negaranya, dua kali menjuarai Bundesliga dan memiliki satu medali juara Liga Champions berkari kariernya di Bayern Munich, Shaqiri masih dianggap sebagai mantan wonderkid Football Manager yang gagal di dunia nyata – meski dengan semua prestasi itu.

Tendangan saltonya yang spektakuler ke gawang Manchester United di International Champions Cup menjadi pengingat akan kualitasnya. Itu adalah jenis gol yang memang banyak diekspektasikan dari pemain Swiss ini – tipe gol yang cocok diulang-ulang di video cuplikan pertandingan, tetapi dianggap tidak bisa diulang lagi oleh sang pemain di dunia nyata.

Xherdan Shaqiri Cardiff

Itu adalah tipe gol yang biasa dicetak Coutinho ketika ia mengasah kreativitasnya; sebuah momen magis yang bisa membuat semua orang duduk tegak dan memperhatikannya, sebelum keriaan itu berubah menjadi rasa frustrasi.

Gol-gol seperti itu adalah gol-gol langka – tidak ada yang bisa secara konsisten melakukannya. Untuk setiap satu gol lewat tendangan indah dari luar kotak penalti yang menghujam tajam ke pojok gawang, ada lusinan tendangan lain yang melebar atau melambung tinggi.